Boy - Friend

    Rara termasuk cewe yang pendiam dikelas dan hanya beberapa orang yang dekat sekali padanya, ia hanyalah cewe sederhana yang tak memandang apapun pada seseorang. Tubuh yang kecil itu kini menciut karna terguyur hujan saat matahari mulai tenggelam, sore itu rara sepulang dari sekolahnya baru pulang sekitar jam 3 sore. Kedua tangannya dilipat agar sedikit mengurangi dinginnya air hujan ditambah angin yang berhembus, dinginnya mulai merasuk ketulangnya dan tanpa diasadari bibirnya membiru dan bergetar. Lalu tiba-tiba datang seseorang dari belakang dan langsung memayungi rara, "Esa ?" Rara berkata dan menoleh walau hanya sesaat, saat itu tiba-tiba suasana menjadi lebih hangat. "Kamu kenapa hujan-hujanan ?". Esa bertanya lalu menyeret rara dalam pelukannya, "Hahaha gak tau kalau hujan akan turun hari ini !". Jelas rara dengan sedikit terkejut karna tangan esa kini merangkulnya, dan hujan ini terasa air hangat yang mengguyur tubuhnya yang kecil. Dan hujan ini membuat aku merasakan sesuatu, sesuatu yang baru dirasakannya tanpa ia mengerti. Esa bisa disebut sahabat rara dan sudah cukup lama kenal baik, perkenalan itu dimulai dari saat mereka bertemu di toko buku.
   "Sekarang kita sama-sama sibuk ya buat UN ?". Esa bertanya padaku sambil menatap wajahku, namun aku tak berani lihat wajahnya yang saat itu tanpa ekspresi dan aku menjawab pertanyaannya, "Ia, banyak yang harus dikerjakan akhir-akhir ini !". Jelasku dengan sedikit singkat. Tanpa aku rasakan hujan terus mengalir dengan jelas dihadapanku dan cukup deras seperti dentuman jantungku saat ini. "Hujannya tambah deras ra, mending kita neduh dulu deh anginnya juga tambah kencang !"."Yaudah !". Karna hujannya dan angin yang cukup kencang membuat payung itu pun rusak, namun esa mengabaikannya dan langsung menggenggam tanganku dengan erat dengan terus berlari melawan hujan dan angin yang cukup kencang saat itu. Setelah sampai ketempat berteduh dengan cepat esa membuka tasnya lalu mengeluarkan jaket yang biasanya ia kenakan saat kesekolah dan memakaikannya ke tubuh rara, " Aku takut kamu sakit ra, baju kamu aja udah basah banget !". Jelas esa sembari memakaikannya pada rara. " Makasi sa ". Rara memberikan senyuman kecilnya pada esa dan hal itu membuat perubahan besar pada wajah esa. Sekarang tepat pukul 5 sore dan sekarang benar-benar tak ada setetes air pun dari langit. "Hujannya udah reda sa, mending kita pulang aku takut dicariin ". Rara meminta pada esa yang saat itu tertunduk menunggu hujan reda, "Ok ra, ayo kita pulang !". Seru esa, dan mereka pun pulang bersama karna rumah mereka yang berdekatan.
    Keesokkan harinya, badan rara terasa panas namun ia meyakinkan diri bahwa dia masih bisa bersekolah karna tak lama lagi ujian UN akan datang. "Aku harus tetep sekolah, kalau ketinggalankan repot ". Rara pun berangkat sekolah, sesampainya disekolah rara melewati kelas esa lalu tiba-tiba esa menghampiri rara. "Kamu pucat banget ra, kamu sakit ?". Tanya esa dengan terus menatap wajah rara karna ia tau ada yang tidak beres dengan kesehatan rara. "Aku cuma gak enak badan doang kok !". Jelas dan singkat yang diberikan rara, lalu tiba-tiba rara memegang kepalanya yang terasa sakit sekali. "Bener gak kenapa-kenapa ?". Sekali lagi esa meyakinkannya, namun rara hanya menunduk dan tiba-tiba rara jatuh pingsan dengn sigap esa memeluk rara agar tidak jatuh ketanah dan bergegas membawa rara ke uks sekolah.
    Beberapa jam kemudian, rara pun siuman dan badannya masih panas. "Harusnya tadi kamu gak sekolah, kamu kan lagi sakit !". Jelas esa yang mengelus dahi dan rambut rara. "Ini aja kamu panas banget ". Esa sekera mengambil obat penurun panas untuk rara dan membantunya untuk minum obat. Setelah meminum obat rara bertanya, "Kamu kok perhatian banget si sama aku ?". Rara menatap dalam mata esa, agar ia bisa melihat rasa itu kebenaran atau tidak benar. Perlahan esa menggenggam tangan rara, "Sebenernya ini rasa cinta dan aku dapat merasakannya jauh sebelum kita ketemu, kamu mau gak jadi pacar aku ?". Tanya esa dengan mata yang sedikit berkaca-kaca dan dengan sedikit jeda rara mencoba menjawab pertanyaan esa. "Aku juga merasakannya, cinta. tapi ini saatnya belum tepat aku pengen fokus dulu sama UN !". Jelas rara, rara pun melihat garis kekecewaan diwajah esa namun esa mulai melanjutkan pertanyaannya. "Jika setelah UN ?". Dan rara hanya tersenyum manis menandakan akan ada ia setelah mereka berdua lulus.

TAMAT

Komentar