For Someone


    Hari ini hari pertama aku mengikuti pemilihan osis dimana saat ini sangat dibutuhkan untuk paduan suara karna tepatnya hari ini adalah 17 Agustus dimana seluruh Indonesia merayakan kemerdekaan yang ke 68-nya, pagi ini memang hari yang cukup terik tapi karna pemindahan tempat paduan suara berpindah dibawah dedauanan yang lebat terlindungi dari sinar pagi itu yang cukup terik tapi tatap saja peluh turun dengan derasnya didahi para siswa SMA. Dimana aku adalah seorang gadis biasa-biasa saja yang sekolahnya bergantian dengan siswa SMA di tempat yang sama pula, upacara berjalan dengan lancer walaupun ada sedikit hambatan di bagian paduan suara tapi semuanya berjalan sesuai yang diharapkan oleh semua orang. Aku baru pertama kalinya mengikuti upacara dengan bagian paduan suara didepan anak-anak SMA yang tentu saja membuat jantungku berdetak dengan cepat walaupun waktu berjalan dengan sangat lambat yang aku rasakan. Goyang sana goyang sini, menahan kaki yang mulai sangat pegal karna terlalu lama berdiri serasa tak dapat lagi digerakkan. Pengibar bendera sungguh sangat keren dimana semuanya didandani sama percis dengan yang dipakai saat penaikkan bendera di Istana Merdeka dengan pakaian putih dan serbet merah didada melambangkan mereh putih bendera Indonesia. Sedari tadi aku hanya melirik keatas, kanan, kiri, arah bawah, hingga aku melihat seseorang yang membuatku terdiam menatapnya.

   Mungkin sekitar 2 jam kemudian, upacara selesai. Kami yang bersangkut paut dengan upacara kemudian dikumpulkan bersama, “Ayo foto-foto dulu!”. Seru salah satu guru. Semuanya berbaris dengan rapih, lalu. Mataku tertuju dengan seseorang yang sangat menawan yang sedari tadi aku lihat saat upacara berjalan, seorang laki-laki salah satu dari yang memegang kamera itu  yang terlihat sangat simple dan entahlah membuatku sangat kagum. Ia membuatku tak karuan, membuatku ingin terus melihatnya, membuatku terpaku dan terus bertanya siapa namanya, ia membuatku terdiam dan bertanya dengan senyuman yang terus tertuju dengan kamera yang ia pegang. “Ya tuhan ini ada apa ? kenapa lensa kameranya selalu tertuju padaku padahal aku sudah berpindah tempat tapi tetap saja lensa itu terus tertuju padaku ? apa aku aneh ?”. Tak lama kemudian kami calon osis kembali ke aula sekolah dimana kami dikumpulkan sejak awal aku berjalan dengan terus bertanya-tanya. “Abang tadi kenapa si ? bikin aku kegeeran atau apa ?”.

   Dan 2 hari kemudian, aku melihatnya lewat dengan santai bersama temannya tepat didepan kelasku yang pintunya terbuka sangat lebar dimana aku dapat mengenalnya walau sangat sulit mengingatnya sejak 2 hari lalu dan aku baru menyadarinya bahwa itulah dia laki-laki yang kemarin memegang kamera yang memfoto saat upacara, kini aku hanya tau kelasnya, aku tetap tak tahu namanya, tak tahu semua tentangnya. Dan aku baru sadar, aku sudah berjanji dengan diriku sendiri aku tak ingin jatuh cinta aku harus focus dengan pelajaran yang harus ku pelajari bukan untuk cinta. Dan salah satu temanku berkata, “Cinta gak salah!”. Dan kata-kata itu meyakinkanku bahwa walaupun aku sudah berjanji  pada diriku sendiri cinta gak pernah salah ia boleh datang kapan saja bahkan saat yang tak terduga sekali pun, “Apa id memfotoku dan menyimpannya ? itu hanya khayalanku saja selalu berfikir lebih dari kenyataan. Aku terlalu kegeeran bahwa aku dunia kegambaranmu saja yang kamu abadikan dalam kameramu, tentu aku yang salah terlalu mudah jatuh cinta dan mudah pula untuk hancur yahh.. memang seperti itulah aku, aku lemah dalam cinta !”. Mungkin aku bukan gambaran di  duniamu, aku bukan apapun, aku hanya adik kelas yang mungkin tak akan kamu kenal, aku hanya wanita biasa dan aku hanya akan jadi penggemar rahasiamu ya cukup itu saja.

Komentar