Kesalahan Dari Keraguan


    Bel istirahat berbunyi kencang siang ini, yang membangunkan kami dari rasa jenuh dan mungkin diantara kami masih ada yang mengantuk. Suasana buyarnya banyak orang dari kadang yang nyaman yang mencari senyum dan tawa-tawa diluar, dan juga bersama siaang pukul 10 pagi yang sedang lumayan cerah dan terik menyelimuti tapi kami masih bisa tersenyum. Aku berjalan bersama 2 sahabatku untuk berburu makanan kecil pengisi perut di kantin yang berada di bawah bagian kanan, seperti tawa kami saat ini mungkin matahari juga dapat tersenyum karna taka da awan hitam yang menyedihkan itu, 2 sahabatku membeli makanan tapi berbeda denganku aku hanya mengantarnya aku cukup takut untuk pergi ke kantin dan bertemu dengan manusia lain entahlah karna apa mungkin disana teman orang-orang yang nongkrong walau tak membeli apapun. Aku hanya melipat tanganku diatas perut dan melihat sekelilingku yang penuh dengan canda dan gurauan yang membuatku pusing terutama suara bising yang tentunya menggangguku. Aku tak suka keramaian, bahkan saat rama aku coba untuk mengelip-nyelip mencari jalan yang dapat kulewati walaupun kecil aku tetap memaksanya. Hari ini jum’at tanggal 13 yang lumayan cerah, setelah selesai aku mengantar 2 sahabat ku ini aku kembali menuju kelas lagi dimana tempat teraman pertama sesudah itu toilet yang sedua, ya karna hanya saat istirahat kelas sepi dan hanya saat pelejaran toilet sepi. Saat beberapa langkah sebelum masuk kelas seseorang memanggilaku dari belakang, suara yang sangat ku kenal dan dengan suara khasnya. Derap langkahnya terdengar mendekat  seakan akan dapatkan apa yang ia mau. Semuanya seakan berhenti, waktu, angin, semua gerakkan, dan hatiku, seseorang itu menatap mataku dan berkata kata yang paling simple dan mudah diingat. “Nanti pulang sekolah gue tunggu digerbang yah…”. Kata yang sedikit aku abaikan tapi, aku tahu arti dari kata itu walau sedikit buram bahkan aku tak sempat ucapakan sepatah kata pun dan lalu ia kembali  berlari tertutup keramaian.
    Lalu, sahabatku meledekku dengan kata yang menurutku sungguh membuatku malau dan malu, apakah itu akan terjadi padaku ?, “Cie yang mau ditembak”. Salah satu dari 8 sahabatku katakan yang belum tentu terjadi saat aku menginjakkan 4 langkah dari pintu , dan otomatis kelas yang sepi mulai sedikit ramai terutama dengan ucapan kata “Cie” yang membuat aku malau dan mungkin saat ini wajahku memerah dan duduk di pojok yang sangat-sangat menahan malu yang sangat amat. Waktu memang terasa sangat cepat saat kita tak mau waktu itu terjadi dan.  Semuanya dimulai, aku malu dan dia malu tapi, salah satu sahabatku memaksa untuk itu terjadi ya mungkin memang itu yang harus terjadi.  Dia adalah sorang laki-laki yang baik, tinggi, dan perhatian, mungkin kita pertama kenal saat kelas 8 itu pun tak terduga walapun aku dapat membedakan mana orang yang mempunyai perasaan padaku atau tidak aku pun tak mengerti aku dapat mengetahui itu didirinya. Dimulai dengan kata sederhana yang sangat romantic terdengar saat seorang laki-laki menyatakan tentang perasaannya kepada seorang wanita yang sedikit memiliki perasaan yang sama, “Gue pengen jadiin lo lebih dari teman biasa!”. Kata yang mungkin simple tapi punya arti yang sangat romantic dan mendalam. “Kalau gak bisa jawab sekarang nanti aja di sms”. Aku tak dapat berbuat apapun dan semua tubuhku terasa seperti membeku, menggigil dan semuanya terasa membingungkan, mataku hanya tertuju dengan dimana aku berpijak dan kanan dan kiriku yang mulai sepi.  Aku sekan tak mendengarkan tapi aku memiliki telinga yang cukup peka dan semuanya terasa teresap, dan berlalu begitu saja denga kata. “Bye , ditunggu ya!”. Tentunya sepanjang jalan aku berpikir pilihan terbaik mana yang aku pilih untuk kedepannya, untuk nyawa keduaku yang meminta bagiannya untuk merasakan hidup yang sebenarnya dimana semuanya terasa lebih indah dari hari-hari sebelumnya dimana ada sebuah rasa yang membuat semuanya berbunga-bunga  dan akan baik-baik saja. Dan haya ada satu pilihan yang akan aku ketik, pilihan yang semoga tak akan jadi kesalahan hidup, pilihan yang semoga menjadi pilihan yang tak salah.
    Semuanya sudah terlewati  satu bulan diaman semuanya masih baik-baik saja, dimana semuanya masih manis dan penuh dengan kasih sayang, anniv yang hanya diarayakan dengan keliling daerah rumah yang udah aku anggap cukup special. Anniv ke dua bulan,masih seperti biasanya tak ada perayaan yang mengharuskan memberi sesuatu yang berarti. Dan anniv ke tiga bulan bertepatan dengan hari sebelum valentine, yang paling romantic saat itu. Aku baru datang ke sekolah dengan perlahan aku menuju kelasku , dia memanggilku aku hanya berpura-pura jual mahal dan mengabaikannya. Dan dengan terpaksa aku hentikan langkahku. Dia keluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah persegi panjang yang dihias dengan pita berwarna pink yang sangat manis, ia  berikan itu padaku yang aku sendiri sangat terkejut karna ini pertama kalinya aku mendapat hadiah dari lawan jenis terutama pemberiannya yang sangat romantic bagiku. Aku memang berbeda dari wanita lainnya, walaupun aku yang bilang, aku terlalu jual mahal, aku kadang tak perduli dengan rasa sakit yang dirasakan orang lain, jika aku diajak jalan aku selalu menolak, aku selalu punya alasan yang terkadang tak masuk akal, aku kadang mau tapi aku malas untuk meraihnya. Dan  ia sedikit lontarkan sebuah kata maaf, “Maaf ya rusak soalnya abis dari kulkas jadi kayak gitu deh!”.  Tak  lama dari hari itu sebuah masalah muncul dariku, sahabat laki-laki ku yang cukup misterius tentang perasaannya ungkapkan rasanya padaku yang sudah lama ia pendam  dan aku sangat bodoh, perasaanku kini campur aduk setelah sahabat laki-laki ku itu ungapkan apa yang dia rasa. Apakah semudah itu aku masukkan orang ke dalam hatiku ? semudah itukah, aku bertanya pada hatiku yang sangat tak menentu ini, semua rasa cinta dan sayangku kini terbagi dua tapi aku tak berada di tengahnya melainkan aku terbang mengikuti arah hembusan angina yang berbeda dari dua arah yang berlainan. Tuhan, apa yang harus aku lakukan ? aku ingin keluar tapi ada sesuatu yang menghalangiku seakan aku tak boleh keluar  dari lingkaran api cinta ini, dan jika aku melilih salah satu aku tahu aka nada satu pula yang tersakiti. Bahkan aku tak tahu akau harus memilih yang mana diantara kedua yang baik seakan mataku tertutup aku tak dapat melihat jalan yang penuh cahaya aku hanya takut jika aku harus tinggal dikegelapan yang sunyi.
   Dan akhirnya aku memilih  putus dengannya, tapi bukan berarti aku memilih sahabatku ini entahlah mungkin dipikirannya aku putus karna aku memilih sahabatku, karna aku mudah tergoda, karna hatiki masih terlalu lemah dan mudah bimbang. Lama-kelamaan semua penyesalan itu datang padaku, mengeroyokiku, menghancurkanku, dan perlahan membunuhku. Tapi dengan adanya masalah ini aku pun belajar  tak perlu melihat dengan mata jika kita bisa merasakannya, dan jika mata yang seharusnya melihat akan mengartikan sesuatu. Dan aku gak mungkin mengulangi kesalahan yang sama jika aku diberi kesempatan untuk memperbaikinya menjadi lebih baik, lagi pula masa lalu akan menjadi masa lalu yang tak mungkin sama dengan masa depan.

sekian

Komentar