3 Hari Berlalu


    Ini ke-4 hari setelahnya, setelah perjanjian yang aku buat dengan diriku sendiri ya tentu terkadang aku mengingkari janjiku kepada diriku sendiri memang aneh bagaimana jika aku berjanji kepada orang lain. Ini tentu hari yang membingungkan bagiku dan sangat membuat hariku sedikit aneh hanya terdiam dikelas duduk diam dengan tatapan yang kosong.

    Hari pertama. Ini kesempatan yang membuatku sedikit membuatku dag dig dug membuat aku selalu menatap garis arah ia berjalan seperti biasanya dan langkah-langkahnya membuat aku tak berhenti menatapnya yang sedang melangkah, aku tahu ia tak melihatku tapi dengan melihat semua tentangnya saat itu membuatku sedikit lega tapi mungkinkah ini pertama dan terakhir kalinya aku meyakinkan aku akan lupa padanya.

    Hari kedua ini dengan cara yang berbeda, aku bertemu dengannya tapi, aku tak ingin melihat wajahnya walau aku tahu sebenarnya ia tepat disampingku berjalan. Aku tak menginginkan kita untuk bertatap mata karna aku tahu dia gak akan perduli perasaanku masih mengambang saat ini mungkin besok adalah hari terakhir aku bertemu dan memastikan aku tak akan bertemu dengannya juga rasa ini. Namun sahabatku berkata, “ kamu jangan nyerah dong”. Mungkin keputusanku sudah bulat walaupun dalam 3 hari aku bertemu dengannya tapi inilah keputusanku, resikonya sama dengan aku tak bertemu dengannya 3 hari.

   Hari ketiga, hari terakhir dari perjanjianjianku. Ia tepat berjalan dilapangan dimana biasanya ia melewatinya bersama temannya mataku tak berkedip, otakku pun tak berhenti berputar. Tapi walaupun aku bertemu dengannya di 3 hari ini tapi aku masih tetap yakin dengan putusanku untuk melupakan semuanya terutama setelah aku melihat twitternya sebuah kalimat yang romantic tapi bukan untukku itu mungkin menjadi alasan mengapa aku harus melupakannya. Cinta tak harus selalu memiliki semuanya memang diciptakan berpasangan dan gak seharusnya aku mencintai orang yang milik orang lain dan tak aku kenal terlalu aneh dan lucu bagiku.


Dan aku pastikan aku tak ingin jatuh di lubang yang sama didalam kesalahan dan resiko yang sama, rasa sakit yang biasa aku rasakan namun  rasa sakitnya harus aku rasakan berulang-ulang.

Komentar