LIKE A BALL


    Hari ini seharusnya seperti hari rabu biasanya , tapi ini sungguh hari yang sangat membosankan walaupun sebenarnya tak ada pelajaran itu dihari ini tapi hari ini memang hanya ada satu guru yang mengisi jam pelajaran. Hari dimana murid-murid bebas berkeliaran di dalam sekolah karena mungkin akan diadakan turnamen atau kejuaraan bola volley dalam sekolah ku ini jadi semua pengurus sekolah menyiapkan apa yang harus disiapkan agar acara berjalan dengan lancar, dan lapangan hanya diisi latihan oleh atlit-atlit yang belajar disekolah ini dan ditemani oleh penonton yang terdiri dari murid-murid yang duduk di depan kelas sambil melihat dan mencoba menghilangkan rasa bosan mereka. Dan termasuk aku dan teman-temanku berjejer di lantai atas dengan batasan sampai perut ya walaupun pegal tapi cukup menghibur dengan adanya atlit-atlit yang sedang berlatih dibawah matahari yang cukup menyengat ini, karena ini memang siang rabu yang cukup cerah.
    Aku hanya dapat berbincang-bincang dengan 3 sahabatku walaupun ujung-ujungnya curhat, tapi itulah yang sering terjadi.  “Anterin gue ke bawah yuk, mau beli minum!”. Pinta seorang sahabatku yang berdiri disebelahku, aku hanya dekat dengan 3 orang yang sekelas denganku yang mungkin tempat duduk kami berdekatan dan sering sekali berkomunikasi. Karna aku mulai pegal dengan semua ini dan juga rasa bosan yang mulai muncul aku pun ikut mengantarkan temanku menuju kantin yang berada di bawah dan terpasksa juga melewati kerumunan orang-orang yang sangat ramai itu, sungguh sebenarnya aku sedikit benci dengan keramaian, karna yang terutama adalah aku sangat sulit untuk bernafas karna dorong-dorongan yang tanpa arah yang kedua membuat telingaku sakit dan kepalaku berputar itu sebebnya dalam keramian aku sangat suka berjalan cepat agar aku dapat cepat keluar dari keramaian itu.
   Kelasku berada diujung dan kantin pun berada di bagian ujung yang berlainan arah, aku tak memilih untuk melewati lantai atas karna aku akan bertemu dengan kakak-kakak kelas, itu sebabnya aku memilih untuk memilih turun bila harus melewati karamaian kakak kelas. Karena keramaian juga menyelimuti depan kelas aku memilih untuk melewati pertengahan dari lapangan dan depan kelas, entah apa yang terjadi setelah aku melewati net dari volley itu sesuatu menabrak kepalaku sampai aku tak sadarkan diri.
      Sesuatu yang menyengat menusuk hidungku saat aku sadari aku telah tertidur di sebuah tempat tidur UKS  hingga perlahan aku membuka mataku dengan rasa sakit di kepalaku yang masih sangat terasa sakit, “Udah sadar!”. Terdengar suara bass itu tepat didepan telingaku, suara siapakah itu ? apa yang terjadi ? kepalaku sangat terasa sakit!”. Kini aku benar-benar dapat melihat jelas walaupun kepalaku belum juga sembuh dari rasa sakit yang tadi menyerangku sontak aku terkejut saat sebuah wajah berkeringat tepat berada disamping bahuku sambil terduduk, “Lo gak apa-apa ?”. Salah satu sabahatku bertanya . Aku masih belum dapat menjawabnya aku masih bingung apa yang sebenarnya terjadi, “Lo gak apa-apa ?”. Kini terdengar lagi suara bass tadi, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dengan tatapan yang sangat kosong. Lalu wajah itu pergi sementara dan datang dengan membawa segelas air dan membantuku untuk bangun dari tempat tidur untuk meminum segelas air putih itu, dan baru aku sadari bebarapa guru sedang berdiri menatapku, “Udah sadarkan? saya latihan lagi ya ?”. Matanya mengarah kepada guru dan taman-temanku, aku tak mendengar apa-apa hanya anggukkan kepala dari mereka. Dan aku ditinggal oleh seseorang yang tak ku kenal dan teman-temanku mulai duduk disampingku, dan sebelum seseorang itu hilang dari pandanganku seorang guru mengatakan sesuatu kepada laki-laki itu namun aku hanya mendengar kata “Iya pak!”, Dan laki-laki itu pun berlalu begitu saja . “Tadi gue kenapa ? kok sekarang kepala gue sakit ?”. Tanyaku pada dua temanku yang duduk disampingku, “Tadi itu kepala lo kelempar bola sama salah satu atlit, sekarang masih sakit ?”. Tanyanya dengan memegang tanganku. “Udah rada mendingan kok”.
     Jam sudah menunjukan pukul 05:15 dimana bell pulang berbunyi dengan kencangnya, “Kita ambil tas lo dulu ya ?”, sambil meninggalkanku tanpa jawaban dariku. Lalu tiba-tiba seseorang laki-laki datang dengan berjaket putih hitam mulai mendekatiku dan berkata, “Udah gak apa-apa ?”. Duduk di sampingku yang sudah terduduk di atas tempat tidur dan bersandar pada tembok berwarna hijau itu, “ Masih sedikit pusing!”. Kini aku tau laki-laki ini, seseorang yang bermain dalam lapangan tadi dan dengan jaket yang ia kenakan. “Maaf ya udah dibikin jadi kayak gini, tadi soalnya meleng pas mukul bola jadinya ngarah ke lo deh…”. Dengan senyuman kesalahan. “Kok bisa meleng?”. Ia pun berkata, “Ngeliatin lo!”. Lalu pintu terdengar terbuka dengan suara sahabatku yang membawakan tasku, menaruh tasku diatas  tempat tidur dan berkata, “Kita duluan ya ?”. Dengan mendekatiku dan bersalaman padaku. “Gue ?”. Tanyaku heran. “Itu udah ada yang nganterin, udah kita duluan ya.. bye…”. Dan sahabatku pun berlalu.
    “Mau pulang ?”, tawaran yang mengesankan bagiku lalu disambung lagi sebelum aku menjawab, “Bisa jalan gak ?”. Lalu aku menjawab dengan perlahan, “Masih puss…”. Sebelum aku melanjutkannya ia segara meraih tasku yang berada di ujung tempat tidur dan mengenakkannya, dan aku sangat terkejut saat ia membopongku menuju tempat parker yang lumayan jauh dengan beratku yang lumayan. Semua mata siswa-siswi yang melihatku sangat heran dan juga banyak mata-mata yang sampai berhenti melihatku. “Kuat banget!”. Dalam hatiku. Lalu sampailah aku di tempat parkir dan ia segara menaikkanku di atas motornya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.
    Dan entahlah saat aku terbangun aku telah sampai didepan rumahku, dan ia membantuku untuk berjalan menuju pintu rumah dengan keadaanku yang masih mengantuk, ketukan pintu yang dibuatnya seolah orang rumah dengan segara membuka pintu dengan cepat. Mata ibu ku yang walaupun tak terlihat jelas karena mataku masih di pengaruhi oleh rasa ngantuk namun aku bisa melihatnya mata dengan tatapan kaget dengan keadaanku, dan dengan segara Ayahku membawaku masuk kekamarku dan aku pun sangat terlelap.
   Pagi ini matahari masuk melewati kaca-kaca dan horden kamarku, burung-burung mulai terdengar dengan nyanyiannya yang merdu. Pagi yang cukup cerah untukku langkahkan kaki ku menuju ruang tamu dan ku lihat ayah ibuku telah duduk di sana. Dan percakapan pun terjadi. “Udah sembuh kepalanya ?” tanya ibuku. “Ibu tau dari mana ? udah rada mendingan kok bu”. Aku menjawab dengan rasa mengantuk yang masih tersisa. “Tadi malem dia udah jelasin apa yang terjadi sama kamu, ya kekhawatiran ibu berkurang. Dia baik anaknya sopan lagi”. Dengan nada yang sedikit genit. “Ibu apaan si…”.
    Siang mulai menjelang dimana aku harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah, namun saat aku sedang memakai sepatu di ruang tamu terdengar ketukan pintu dan suara yang ku kenal. Sontak, aku pikir itu tamu ibu “IBU….”. Teriakku, dengan tergesa-gesa ibu menuju pintu dan ternyata…. “Hay…”. Dengan senyuman khasnya, aku terkejut kenapa dia datang menggunakan baju volleynya tentu saja ia dari sekolahan menuju rumahku. “Kamu ?”. Dan akhir-akhir ini aku dekat dengannya dengan permulaan yang tak aku sangka membuat aku dan dia jadi sedekat ini melebihi apa yang aku bayangkan.
   Dan ini adalah turnamen atau kejuaraan yang ia ikuti, dan tentunya aku melihat saat dia bermain dengan semangatnya ia tak ingin membuat orang lain kecewa terutama aku. Dan ketika ia memenangkan poin ia selalu mengarah kepadaku menunjukkan bahwa ini ia persembahkan untukku, dan akhirnya pertandingan ini di menangi oleh timnya. Dan stelah pertandingan selesai ia berlari menuju kearah ku dan memelukku, “Makasih doanya!”. Aku hanya bisa mengangguk dan tiba-tiba ia melepaskan pelukkannya dan memegang kedua tanganku dan berkata, “Kamu mau gak jadi pacar aku ? sebenernya udah suka sama kamu dari awal kita ketemu…”. “Ia aku mau!”.


SELESAI

Komentar