Siang Yang Panas Untuk Hati Yang Beku

Mata yang tak henti menatap dunia dengan segala keindahan yang ia miliki ciptaan-Nya yang tiada taranya  dapat aku lihat dengan indra yang pernah mengabadikan sosok yang paling aku cintai, matahari tepat ditengah-tengah siang ini dengan sinarnya yang menyengat tubuh ini. Aku sudah terbiasa dengan rasa ini karna aku manusia tropis yang tinggal diantara 2 musim yang berlainan, dimana air tak kunjung datang membuat keretakan dimana-mana dan membuat perih banyak orang dan dimana air terus mengalir membuat semuanya tak terbendung dan membasahi semuanya yang ada dibawah.

Hari ini tak kudapati sosokmu dalam bentuk apapun, semenjak hari itu hatiku membeku. Musim yang sedang peralihan kadang tak menentu dan begitu pun  yang aku rasakan bagai perih tak berair dan saat berair semuanya tak dapat aku bending lagi, dan aku akan terus hadapi musim hati yang akan berlangsung lama dalam hidupku.

Siang ini banyak yang bilang panas walaupun beranjak sore sinar-nya masih saja menyelimuti bumi dengan panasnya yang cukup menyengat, hari  ini aku sudah lewati setengah hariku bersama teman-temanku namun aku masih harus hadapi ini dan menutup sebuah musim yang tengah aku rasakan. Dan siang ini juga aku dapati sosokmu dalam berbagai kesempatan memang bukan sebuah tulisan, gambaran, atau apalah itu; selalu tentang kamu.

Badanku memang kepanasan, namun bukan berarti hati ini ikut mencair atau telah mencair, masih saja beku dalam kepanasan ini. Entahlah sepertinya aku harus berjuang untuk mencairkan segala yang mambuat hidupku menjadi penuh beban ini, dan aku yakin Allah akan terus bersama aku dengan segala kelemahan yang aku punya.

Dalam kepanasan ini, saat mengingatmu, lagi-lagi menjadi beku, dan lagi-lagi aku harus membiasakan diri tanpamu sekarang dan seterusnya. Dulu kamu supporter aku dan sekarang tiada dukungan lagi darimu dan lagi-lagi aku harus tanpamu dan penggantimu adalah Allah karna dalam hidupku Allah lah yang terus setia menemaniku sekali pun kau telah pergi.

Aku lelah untuk terus keluarkan air mata yang kesekian kalinya, bahkan sampai begadang. Dan tak ada pilihan lain selain membiarkanmu bahagia dan tinggalkan kebencian untukku, aku akan terus tunggu balasan dari segala permohonan maafku padamu.


Siang ini memang panas, panasnya menyayat hatiku namun sama sekali tidak mencairkan hatiku …

Komentar