Pergi Tanpa Jejak



Apa ada yang salah selama ini ? dengan semuanya yang semakin tak jelas dan sulit untuk kita jelaskan dan bicarakan. Aku bahkan lupa yang terakhir kali kita bicarakan lewat pesan singkat yang begitu singkat darimu, dengan kata demi kata yang sangat bisa kuhitung dengan jari-jemariku yang tengah mengimbangi pesanmu itu. Memang sudah lama berlangsung kata-kata sesingkat itu, namun apa boleh jadi walaupun aku katakana dan jelaskan padamu itu akan tetap jadi dirimu, dirimu yang kau atur.

Bahkan tanpa aku sadar aku rindukan kamu yang dulu, yang selalu dapat memahamiku dan dapat membuatku tertawa riang. Entah kamu menyadarinya atau tidak kamu memang benar-benar berubah jauh, dan entahlah apa aku yang terlalu menilaimu berlebihan. Sudahlah aku takut kau memanggapku orang aneh.

Aku juga tau kok, kesalahan dari tiap kesalahan yang selama ini aku sadari. Bahkan aku tau ada sesuatu yang aku berfikir itu sangat membuatmu sakit namun kau bilang semuanya sudah termaafkan, kamu tau tahun lalu aku cemburu sangat-sangat cemburu padahal aku juga tau aku bukan siapa-siapa untukmu yang tak berhak seharusnya melarangmu.

Dan sekarang juga aku sedikit lemah harapan untuk mengharapkan sesuatu yang sepertinya sulit untuk kita nyatakan, entah mengapa akhir-akhir ini aku kehilangan jejakmu. Jejak yang pernah aku ikuti tak lama kini aku berhenti mencoba cari jejakmu yang hilang begitu saja dan serasa saat ini aku tidak akan bertemu denganmu diujung langkah hentimu. Langkah peristirahatanmu dari langkah pencarianmu selama ini.

Bila aku tak kunjung temukan langkahmu yang selanjutnya, ada dua pilihan yang salah satunya harus aku pilih. Pertama, berarti aku harus menunggu langkah itu terlihat atau berjalan tanpa arah sampai aku temukan langkah selanjutnya. Atau yang kedua, dimana aku harus mencari jejak orang lain atau aku akan bertemu dengan orang yang mencari jejakku saat aku pun mencari jejakmu.

Dan aku sudah cukup lelah untuk menunggu jejakmu atau bahkan menunggu jejakmu yang selanjutnya, dan aku tidak pilih 2 pilihan yang ada, pilihan alternative yang semoga terbaik untukku. Berjalan menyusuri kehampaan dan menyusuri jalan yang seharusnya aku lewati dan mencapai kesuksesan yang ada nantinya.
Dan aku terlalu takut untuk memintamu kembali, karena aku tak akan menjadi yang berarti untukmu. Aku bukan pemimpinmu atau bahkan pengikutmu, aku hanya ingin menjadi sesuatu yang selalu ada disampingmu dan selalu menemanimu. Tapi rasanya begitu sulit dengan sikapmu yang berubah sekarang.

Dan 2 rasa dan pikiran yang ada hanyalah tentang, optimis dan pessimist tentang kamu nantinya. Dan semoga semuanya akan baik-baik saja.

Komentar