Aku Akan Rindu Matamu









Hari-hariku semakin berwarna sejak ada kamu temani hidupku, mungkin ini ada karena air mata pernah terjatuh dari sudut mataku yang besar. Pembiasan cahaya yang indah, bermacam warna dan tentu membuat siapa pun takjub dan senang. Kamu memang bukan orang yang mereka para wanita inginkan, kekayaan, ketampanan, dan sikap yang baik. Namun menurutku kau sudah pantas untuk isi tempat yang pernah aku abaikan, yang pernah sama sekali tak ku usik.

Rasanya dari tiap kata-kata yang kau ucapkan kau terbaca sempurna, walaupun aku tau tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kedewasaanmu, tingkah laku mu sugguh mempesona. Berbicara denganmu, membuatku terdiam walau sebenarnya aku sadar aku sedang berkata, namun aku bertanya-tanya mengapa kau begitu menakjubkan dimataku, seolah berlin kerajaan tepat di depan mataku.  Sore yang menenangkan hati disambut hangat oleh langit jingga yang indah dan waktu yang terasa melambat, melambat juga saat ini karena melewati waktu dengamu.

Entah mengapa rasanya nyaman di dekatmu, didekat orang yang rasanya hangat. Dengan nada suaranya yang ia pelankan walaupun saat tertawa ia terbahak-bahak kencang dan dengan seketika matanya mengecil dan terlihat terpejam, laki-laki yang sederhana namun terlihat sangat kaya dengan sifatnya yang sulit ditemukan diluar sana; dan aku beruntung telah mengenalmu.

Tepat diatas meja, kita memesan coffee yang sama, dengan uap yang terus mengepul diatasnya. Rasanya langit jingga itu membuat semuanya terasa lebih indah dan menjadi pelangkap saat ini, entah semuanya terhenti saat ia berhenti tertawa dengan tiba-tiba dan aku terdiam. Melihatnya dengan slowmotion yang penuh menakjubkan, perlahan mengambil cangkir yang berisi Mocachino. Wajahnya yang bersih, terlihat sangat polos saat aku diam-diam masuk dalam tatapannya yang sedang tertuju pada cangkir coffe. Tatapan yang sangat membuatku nyaman, tatapan dengan segala keramahannya, dan aku tau mata itu penuh ketulusan.

Bahkan aku tak izinkan satu detik pun terlewatkan dengan hanya mengedipkan mata, rasanya sesuatu telah memeluk hatiku dengan erat dan menghangatkannya; rasanya nyaman senyaman aku berada disampingmu. Kau sungguh menikmati secangkir kenikmatan itu, rasanya kau melupakan segala kepahitan hidup yang pernah kau alami selama ini, dan semua terpancar dari senyummu yang tergaris tepat dekat dengan bibir cangkir itu. Aku terdiam entah mengapa, kau sungguh menakjubkan.

Entah berapa lama kau lupakan aku saat kau seruput coffe itu dan entah berapa lama pula aku menatapmu dengan penuh harap, dan sekeliling pun mulai sunyi saat detik-detik magrib hanya tinggal beberapa menit lagi. Aku melupakan coffe-ku hanya untuk melihatmu, rasanya kau sungguh berbeda saat kau sedang asik dengan coffe kesukaanmu rasanya coffe itu sangat tahu tentangmu, tapi jangan salah; aku sebenarnya lebih tau tentangmu dari pada secangkir coffe itu.

Aku lupa waktu, lupa coffe ku dan lupa bahwasanya kau telah menghabiskan coffe itu dan menatapku. Rasanya malu saat tau orang yang sedang ku pandangi tahu apa yang sedang ku pandangai sejak tadi, rasa malu yang terlihat dari tingkahku yang tiba-tiba resah atau mungkin itu hanya menjadi alasan dari rasa Malu ku. Dia hanya tersenyum, seolah dia benar-benar memahamiku dengan benar, tiba-tiba tangannya menggenggam tanganku yang tepat disamping tangannya. Dan seketika itu, rasanya ratusan boom siap untuk ditembakkan kehatiku memacu jantungku untuk berdetak dengan kencang sekencang cahaya yang terlintas.

Aku bertanya-tanya, tentu, apa yang akan ia ucapkan padaku; seorang gadis yang diam-diam memperhatikannya. Jantungku berdetak lebih cepat, rasanya air telah mendidih, namun kebekuan tepat diwajahku dan menerka-nerka apa yang ingin ia ucapkan padaku. Aku membeku dalam gejolak cinta pada hatiku yang tak kuasa aku menahannya, dan tanpa aku sadar aku sudah benar-benar telah menatap matanya sangat dalam. Ketulusan, cinta dan kasih sayang yang ia miliki tak dapat terhitung, rasanya aku ingin memilikinya.

Kedua tanganku dia genggam serasa tak ingin kehilanganku, apakah ia akan menyatakan cinta padaku? , Terkaanku yang salah ketika ia katakan ia akan pergi untuk beberapa bulan ke Jogyakarta untuk menyelesaikan beberapa urusan disana, berarti hari demi hari pelangi itu akan hilang satu persatu. Dan aku, akan merindukan matamu, senyummu, suara lembutmu, dan candaanmu di caffe ini. Namun, terselip harapan dalam kata-kata yang ia ucapkan, hatiku yang mendengar kata pergi kemudian menjadi sangat layu dan hampir mati, tapi ada harapan dalam kata-katamu yang tak akan biarkan aku sendiri, tak akan birkan aku menikmati coffe sendiri disini.

Hati yang hampir mati, kau berikan setitik kehidupan yang aku harap akan berkembang; saat kau ada disini kelak dan menjadi apa yang aku mau. Aku akan terus menantimu, menantimu dalam sebuah mimpi yang semoga terkabulkan dan berharap dalam melihat matamu, suaramu, dan kamu disetiap aku membuka mata dan sampai aku menutup mata.

Komentar