Dari Sebuah Gitar





Siang ini akku mengunggu, menunggu sebuah kereta kuda putri yang menjemputku. Khayalan yang nampaknya hanya lelucon bagi mereka yang tau isi kepalaku, pangeran dengan karismanya meminta tanganku lalu menuntunku untuk masuk kereta kudanya dan pergi bersamanya. Ia minta aku untuk menunggunya disini, disebuah halte tempat menunggu, dan jika saja kau tau aku benci menunggu. Matahari pun semakin tepat diatas membuat siapapun bersembunyi pada sebuah bayangan gelap.

Suara kaki berlalu jelas ku dengar walau samar-samar, dia datang!. Datang dengan nafasnya yang masih memburu membuat tubuhnya membungkuk tepat dihadapanku. “Atur nafasmu!”. Dengan wajahku yang sedikit bosan dengan penantian yang cukup lama itu, wajahnya memerah aku tak kuasa melihatnya aku pun mengeluarkan sebuah air mineral dari tasku dan memberikannya. “Duh maaf ya! Tadi dosennya penuh!”. Aku hanya diam dan melipat tanganku didepan perutku.

Sekarang langkah telah berganti dan terus berganti, sekarang aku dapati wajahnya yang ceria dengan lelucon yang ia buat untuk menghiburku. Senyummu yang paling aku rindukan sejak 1 minggu tak bertemu yang sekarang terobati walaupun aku yakin setelah ini kita akan disibukkan lagi dengan sesuatu yang menjauhkan kita, kali ini kau mengajakku untuk datang kerumahmu nampaknya tidak cukup jauh dari halte.

Ibu mu menyambutku dengan baik, dengan senyumnya yang selalu terukir saat melihatku, nampaknya ia menyukaiku dan merestukan aku dengan anaknya. Entah mengapa tiba-tiba sosoknya menghilang beberapa menit, lagi-lagi aku menunggu. Aku duduk diruang tamu dan melihat apa yang ada disekelilingku, ibunya kembali dan memberi minum padaku. “Baru kali ini loh dia ajak cewe main kerumah!”. Dengan senyum manis ibunya  yang diturunkan pada anaknya. “Ya udah ibu masuk lagi ya?”. “Ia bu!”.

Ia datang dengan pakaian yang simple kaos putih dan jeans panjang yang sudah robek terlihat sangat luar biasa, ia datang membawa sebuah gitar dan duduk tepat disampingku.Namun ada yang berbeda. Matanya semakin jelas aku lihat, rasanya ada sesuatu yang yang terpendam disana saat sekilas ia menetap mataku. Apakah itu ? rasanya membuat aku penasaran dan aku tak mencoba untuk memberontak hanya membiarkan semuanya erjalan dengan yang seharusnya.

Sekarang tak  ada lagi jarak antara kita, ia memberikan gitarnya padaku dan seketika aku bingung. “Loh kok ?”. lagi-lagi dia berikan aku senyum yang semakin membuat aku jatuh hati padanya, “Katanya mau belajar gitar, aku liat kok status kamu!”.  Aku hanya tersenyum dan tak menyangka ia akan mengajariku bermian gitar.

Minggu-minggu selanjutnya kita ulangi apa yang kita sama-sama inginkan, rasanya ikatan ini semakin kuat dan mengikat kita untuk bertemu lebih dari 1 kali seminggu. Gitar yang menjadi saksinya saat kita sama-sama tak sadar ucapkan kata-kata yang pernah terucap saat kita sama-sama mengucapkan lirik lagu cinta, rasanya kita memang sudah benar-benar sama-sama jatuh dan akan bersama-sama untuk bangun dan menghubungkan tali cinta kita.

Aku tak mau ini semua berakhir secepatnya, akhiri ini jika ini terakhir kalinya kita bersama tanpa status hubungan yang tak jelas. Dan ijinkan aku untuk terus mencintaimu.  dari tiap petikan gitar dan nyanyianmu aku jatuh hati padamu.

Komentar