Give Me The Reason To Prove Me Wrong



Aku terlahir sebagai seorang pecundang, sebagai seorang pelanggar, sebagai seorang yang kejam yang tak tau tentang emosi dan dan perasaan. Dari tiap mata yang menatapku terbelalak tak percaya aku adalah orang yang sangat tak perduli perasaan orang lain, karna aku hidup sendiri. Benci, benci dan muak dengan semua ini, semua berawal dari mereka, kedua orang tuaku yang saat aku benci.

Seorang diri, manusia yang dikelilingi setan-setan yang penuh keburukkan tinggal bersamaku. Dirumah yang sering sekali ramai, ricuh, berantakan ulang dua orang yang sering bertengkar sebab kesibukkan mereka masing-masing. Aku lebih memilih untuk seharian dijalanan, membuktikan keanehanku kepada semua orang yang melihat.

Mabuk-mabukkan, jatuh, bangun lagi, sempoyongan. Aku tau tingginya melebihi apapun, namun aku juga tau rasanya hanya sementara bahkan saat pulang wanita itu sering menuntunku untuk pergi kekamar. Sedangkan laki-laki itu, pergi keenakkan mencari kenikmatan diluar sana, sialan.

Putus asa, merusak diri dari apa yang selama ini telah aku punya. Ini sebab mereka berdua. Aku yang masih terpengaruh minuman alcohol itu masih berbaring ditemani wanita yang selalu memberi pengertian kepadaku yang terdengar terisak-isak, namun semuanya berubah kembali. Terdengar pintu utama terbuka, dan dengan mataku yang masih buram melihat wanita itu mengusap air matanya dan menegarkan dirinya dan langsung keluar kamar untuk menemui seseorang yang biasa membuat kegaduhan dirumah.

“Abis dari mana saja mas ?”, Suara yang serak mencoba untuk membentak. Namun masih tak mendapatkan jawaban sampai tepat depan pintu kamarku, aku hanya mendengarkan percakapan mereka yang masih belum selesai. “Kamu ya mau tau saja urusan suami!”. Menjawab dengan santainya yang berhenti di depan kamarku. “Kamu itu baru pulang dari 7 hari yang lalu!! Kemana ? ke isteri mudamu ha ?”. Rasanya wanita itu perlu penjelasan tentang ketelatan pulang suaminya itu, karna nada bicara mereka yang mulai meninggi membuat aku untuk merubah posisiku menjadi duduk. Prakk… “Kamu ini ya.. asal aja kalau berbicara!”. Terdengar suara tamaparan yang pasti laki-laki itu lontarkan dari tangan besarnya, mendengar suara itu aku berlari menuju mereka.

“Apa-apaan ini ?”. Wajah laki-laki yang sangat aku benci itu kini menatap kearahku, “Kamu ? mabuk lagi ? kenapa gak sekalian aja mati ??”. Nada yang menedekku sekaligus menyumpahiku yang mambuat sumbu amarahku mulai terbakar dan menunggu beberapa waktu lagi untuk meledak. “Mas! Jaga omongan kamu!”. Wanita itu sedikit membelaku. Sudah berkali-kali ini berjadi, bahkan sering. Membuat aku semakin muak dan ingin menyudahinya. “Owh… ia … ia… biadab memang. Sadis memang…  lo tuh gak pantes hidup. Pantes ? gak! Lo liat ini semua karna lo! Gue berubah karna lo! Ya, bener… lebih baik gue mati dari pada lo harus nyakitin mama dengan kebohongan lo dan kekerasan lo!”. Ini memang isi hatiku dan dengan alcohol yang masih berpengaruh memudahkanku untuk mengungkapkan semuanya.


“Sialan!”. Tangannya melayang kearah wajahku, namun aku menangkapnya. “Wanita memang lemah, Tapi mereka mulai. Tapi… lo bajingan!”.  Tanpa aku sadar sedari tadi wanita yang berada disampingku menangis, dan dengan kesalnya aku meletakkan dengan baik tangannya di dadanya. Aku berjalan menuju wanita itu cukup dekat, “Cerai sama dia, mungkin akan lebih baik!”. Aku mengelus pipinya yang masih merah itu dan lalu pergi keluar rumah.

5 tahun hidup dengan rasa terkekang, melihat kelakuan laki-laki itu yang selalu main tangan dengan wanita itu. Siapa yang tahan ? aku ucapkan sepatah kata disela mereka bertengkar, aku yang jadi. Memar, berdarah, sakit, bergumam benci dan dendam. Kembali kejalanan dimana semuanya gelap dan hanya lampu mobil yang menyinari walau hanya lewatan saja, berteriak sekuat mungkin, jalan sempoyongan dengan tangan memegang botol kaca itu.

Kepalaku terasa berat, pengelihatanku semakin buruk, dan kakiku tak dapat melangkah lagi. Dan akhirnya aku terjatuh namun, sebelum terjatuh seseorang menangkapku bagaikan malaikat dalam kegelapan yang tiba-tiba datang. “Duh.. cewe-cewe kok mabuk”. Hanya  suara yang kudengar karna remangnya lampu jalanan tak cukup untuk dapat aku melihat wajahnya.

Saat mataku terbuka, kepalaku dahsyat sakitnya, sepertinya langit sudah ingin berubah warna. Aku tertidur pada sebuah pundak seorang laki-laki dan terbalut aku jaket kulit hitam. Bangun dengan rasa sedikit terkejut dan merasakan sakit pada sekujur tubuhku, rasanya ini subuh yang kesekian kalinya. Aku coba untuk menatap wajah laki-laki itu ternyata matanya terbuka lebar menatap langit yang rupanya mulai berwarna aku-abu itu.

“Udah bangun?”. Aku membenarkan posisi ku untuk duduk tegak, ternyata aku tidur diemperan toko yang terdekat. “Duh.. “ aku hanya mengeluh karna kepalaku rasanya sangat-sangat sakit walaupun tak sesakit hatiku karna laki-laki tua itu, aku tak menjawab pertanyaannya. “Lo siapa ?”. “Gue yang nolongin lo semalem!”. Aku mencoba membuang segala tentang laki-laki kasar itu yang selalu terbayang. “Kenapa mabuk ?". aku hanya diam, rasanya aku mulai benci pada semua laki-laki yang ada didunia ini. “Gue benci sama semua cowo yang ada didunia ini!”. Otomatis wajahku berubah menjadi sangat jutek. “Kenapa ??”. “Mereka egois, mereka sok pahlawan, mereka kasar, merka jahat, mereka bebas pergi keluar, mereka bebas untuk main tangan, mereka kejam dan mereka…. Gue benci mereka!”. Sebelum ia mengatakan sesuatu aku kembali berkata kembali, “Gue tahu, gue lemah, gue kecil, gak bisa mainin tangan, gue terlalu perasa. Tapi, gak gini juga !”.

“Mending kita pergi dari sini, toko-toko udah mau muka!”. Ia berdiri membenarkan pakaiannya dan mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun, namun bantuannya sama sekali tak aku tanggapi dan langsung berdiri sendiri dan mengembalikan jaket kulitnya. Entah tujuan kita ke arah mana, dan aku juga bingung jalan mana yang ingin aku pilih.

Sebenarnya ku tak ingin seperti ini, merusak diriku sendiri dan masa depanku. “Kasih gue alasan kenapa lo benci sama cowo ?”. berjalan menyusuri jalanan yang mulai panas karna matahari yang sebentar lagi akan tepat di atas. “seperti yang gue bilang dipertanyaan pertama lo!”. “Apa lo yakin semua cowo kayak gitu ?”. “Iya…  emang begitu kan!”. “Gue juga punya alasan kenapa cewe begini!”. Kepalaku mulai dipenuhi dengan tanda tanya tentang alasannya, “Yang pertama karnan dia ingin tau siapa yang benar-benar perduli padanya, oleh karna itu ia bertingkah seperti tersebut. Yang kedua karna kelemahannya, ia ingin sekali dilindungi. Yang ke tiga, tangannya hanya untuk digenggam untuk sama-sama melangkah kedepan”

Aku terdiam mendengar alasannya. “Aku bisa kasih alasan kenapa laki-laki melakukan hal tersebut!. Mereka, kotdrat memang ditujukan menjadi pemimpin untuk selalu diikuti kecuali untuk hal yang tidak baik. Mereka sok hebat, karna mereka yang akan memberi keringatnya untuk banting tulang mencari nafkah. Mereka main tangan, kadang karna untuk kebaikkan atau bahkan akan menggenggam tangan untuk pergi kekebaikkan.”. aku hanya merenung dan mendengarkan perkataannya yang terus terlontarkan dan menyadarkanku, “Jadi… pada intinya gak semua laki-laki seperti itu!”.

3 hari aku bersama laki-laki ini, yang baik, pengertian, jujur, dan tegas ini serasa gedung yang melindungiku. Dan dalam 3 hari aku sadar, aku telah salah menilai laki-laki yang hanya aku tau dengan hanya melihat ayahku yang buruk. Setelah aku benar-benar sadar aku mengajak laki-laki ini untuk datang kerumahku.

Mengetuk pintu dengan perlahan. Dan terbuka dengan disambutnya wajah penuh senyum itu, mama ku yang sekarang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Aku memeluknya, dengan air mata yang tak dapat aku tahan lagi. “Ma.. maaf in aku ya!”. “Ia nak, sudah mama maafkan. Maafkan mama juga ya yang sudah buat kamu seperti ini”. Aku hanya mengangguk dan memeluk mama dengan sangat erat, “Bagaimana kabar dia mah ?”. aku melepaskan pelukkanku. “ mama sudah bercerai nak..”. aku menghapus air mata dipipinya yang kini mengembang karna senyum kebahagiaanya.

“Mah.. kenalin !”. Bersalaman dengan sopan. “Dia siapa ?”. “Dia calon suami aku mah!”. Aku tersenyum, “Dia mah yang menyadarkan aku, dan aku, hatiku telah memilihnya untuk jadi pendamping hidup aku!”. Aku dan dia bersebelahan, “mama restuin kok nak!”.

tamat

Komentar