LDR~




Geram hati yang diam-diam tergerus, kekuatan hati yang semakin kutahan, menerjang apapun yang ada didepan. Seperti kata mereka rasa ini sungguh sakit dan menyiksa, tapi harus bagaimana ?. Saat aku tak harus selalu melihatmu, saat aku tak lagi tau apa yang sedang kau lakukan setiap saatnya. Terkadang aku sedih tapi lagi-lagi, cinta.

Besok tepatnya kita 1 tahun 5 bulan berjalan bersama cinta, tapi entahlah kau mengingatnya atau tidak. Iya, memang aku tau, kita terpaut jarak antara Amerika dan Jepang tap,i aku juga yakin  tali yang sudah kita ikat tidak akan putus karna sebuah jarak yang menghambat kita. Kita yang harus berpisah untuk sesuatu yang dari dulu kita impikan, di Negara berbeda yang masing-masing dari kita menyukai Negara itu.

Kadang aku sebagai waanita mencoba melawan keegoisanku untuk menarikmu ke sini, atau mengganggumu jika aku pergi kesana. Kadang juga aku harus rela menunggu balasan dari pesan singkatku yang meminta untuk dengarkan suaramu yang sangat aku rindukan itu dari ponselku, atau bahkan hal itu sangat sulit sekali untuk kita nyatakan.

Sebenarnya malam ini tugasku sangat banyak sekali, tapi aku menyempatkan waktu luangku untukmu atau sekedar menuliskan kata-kata rindu untukmu. Tapi entahlah terbaca olehmu. Mmm… atau terabaikan olehmu dari setiap kali kau online di laptopmu.

Sulit rasanya ungkapkan perasaan ini, dimana terkadang fikiranku terbagi dua atau bahkan tidak seimbang beberapa waktu antara kau dan studiku disini yang cukup padat. Rasanya sulit untuk kuterjemahkan kata-kata yang sering merintih merindukanmu disini, dan mencoba kuatkan hati saat kau tak disini.

Dan malam ini aku tak bisa berkonsentrasi, kamu, kamu dan kamu yang kini aku fikirkan. Dan kejadian-kejadian mengerikan antara kita terjadi, yang semoga tak pernah terjadi. 1 tahun 5 bulan yang lalu saat di bandara, kau janji padaku bahwa jika kita nanti bertemu kembali kau akan melamarku dan kita akan kembali ke Indonesia. Kembali ketanah air, dimana kita pertama kali bertemu, saling bertatap mata dan aku mau disanalah kita bersama-sama menutup mata.

Selama 1 tahun 5 bulan ini aku coba untuk menahan segala emosi yang sangat-sangat sering muncul, entah itu kesal, rindu, air mata. Aku memang berfikir untuk pindah hati, namun aku ingat kembali terakhir kita bertemu saat di bandara. Dan janji itu sudah benar-benar mengikatku.

Dan tepatnya malam  ini. Aku tak bisa menahan lagi apa yang selama ini aku tahan, air mata, entah ini air mata apa. Yang aku harapkan dan yang aku bisa hanya ini, rasa sakitku yang terpendam segera reda dengan jatuhnya air mata yang teras menetes dari pipiku malam  ini. Dan tanpa sadar aku terlelap dengan air mata yang membasahi bantal yang tengah ku peluk.

Pagi ini, aku terlalu malas untuk melihat matahari yang bersinar. Entahlah aku lebih ingin untuk menyendiri dan tempat yang lembab seperti mataku yang sembab karena menangis semalam, berjalan dengan rasa sedihku menuju dapur untuk membuat secangkir  teh  menemaniku dipagi hari ini. Yang tanpa kusadari, aku kosong, pikiran ini juga, seperti tiada pelangi dalam hidupku.

Entah sudah berapa sendok teh gula yang telah ku masukkan, dan terhenti setelah bunyi bell memanggilku untuk membuka pintu. Berjalan seperti halnya siput yang tanpa gairah hidup dan tanpa cinta. Lalu saat aku membuka pintu dan melihat seseorang telah berdiri membelakangiku dengan jaket kulit hitam yang terpapar sinar matahari yang menyilaukan mataku, siapa dia ?. dan saat ia membalikkan badannya.

“Kamu!”. Entah mengapa air mataku jatuh tanpa aku sadar. “Ia ini aku!”. Lalu dengan tiba-tiba ia berlutut dan terdengar lagu romantic yang entah datang dari mana, “Mmm.. aku udah lama menunggu waktu ini, dan sekarang terealisasi. Jadi, aku gak mau menyia-nyiakannya. So… will you marry me ?”. Ternyata kau, janjimu tak pernah kau ingkari dan aku berharap seperti itu. “Yes, I do”.

tamat

Komentar