Apakah Aku Orang Yang Paling Beruntung (?)





Sepertinya itu memang kodratmu, sebagai seorang pemimpin yang selalu dapat bertindak  benar dalam sebuah kejadian.  Sepertinya pelajaran hidup telah kau telan bulat-bulat olehmu, kau terlihat sangat tangguh saat kau berjalan dihadapanku kemarin.  Wajah yang selalu diselimuti oleh ketegasan dan ketegaranmu dalam hidup ini, ada satu hal yang aku benci saat aku lihat  berulang-ulang wajah yang selalu terlihat tanpa ekspresi sama sekali.

Berjalan lewati depan kelasku setiap kali bell istirahat berbunyi bersama 2 temanmu yang sepertinya tak ragu untuk tampilkan ekspresinya di muka umum, ada apa dengan kau ?.  Kita memang satu sekolah, satu lingkungan selama 5 jam lebih, satu tujuan yang sama. Fans-mu yang selalu menyapamu kala itu, dengan pedenya mereka  menyapamu walaupun wajahmu tak pernah terhiaskan oleh senyumanmu sedikitpun, dan rasanya akku mulai menyukai ke-dinginanmu itu.

Memang aku tau rasanya kau pun sudah tau. Semenjak aku bertemu denganmu saat promosi ekskul itu aku mulai memperhatikanmu dari jauh, maaf aku jadi pengagum rahasiamu yang menyukai ke-dinginanmu. Akhir-akhir ini aku tertangkap basah olehmu dari kejauhan  sedang memperhatikanmu, namun rasanya aneh kau membalas tatapanku walau kurang dari satu menit dan, ditambah dengan senyuman kaku yang kau berikan padaku.

Siapa yang tak heran saat seseorang yang begitu dingin, yang selalu dibilang si manusia logika ini membalas tatapanku dan memberikanku sebuah senyuman yang pastinya tak sembarangan orang pendapatkan senyuman yang selalu ia sembunyikan dibalik ke- dinginannya, kedewasaannya. Tapi masih ada tanda tanya dibalik semua itu, entah senyuman itu untuk para hatersnya atau untuk seseorang yang membuatnya luluh dan mencair.

 Kakak kelas ini memang membingungkanku, rasanya dibuat bertanya-tanya dengan segala pertanyaan yang sulit diucapkan oleh bibirku ini. Namun pada suatu saat ada sebuah moment yang rasanya tak mungkkin terjadi malah terjadi padaku, siang itu entah karena apa ia menuju ke kelasku  dan menawarkanku menjadi modelnya. Aku tak percaya, aku hanya dapat katakana Ia dan Ia dihadapannya seakan aku telah terhipnotis oleh suranya yang begitu merdu dapat aku dengar sangat sangat jelas, dan ia memintaku untuk mempertemukan dia dengan kedua orang tuaku.

Kata-katanya yang sopan, tak perlu tutur katanya semua orang dapat melihatnya dari bagaimana dia bergerak. Ia minta izin dengan ibuku untuk pergi bersamanya untuk pemotretan.  Berkendara bersamanya, dalam ke-diamannya  rasanya nyaman dekatnya entah rasa apa yang tengah merasukiku saat ini. Kata-katanya seakan dari hatinya dan aku temukan dirinya yang sebenarnya, seseorang yang penuh cinta dan penuh kebahagiaan dibaliknya, dan aku yakin ini senyuman yang tak sembarangan orang dapat melihatnya dan rasanya aku orang yang paling beruntung.

Komentar