I Need Your Reason





Perasaan yang sudah lama terabaikan, kalimat demi kalimat yang tergantung dibibir ini. Seharusnya aku lebih tegar dari ini, wanita mana yang tak sakit hatinya bila ini terjadi pada wanita. Wajahnya sekarang tertutup dengan rasa kesalku, sikapnya tertutup dengan rasa kecewaku, harum tubuhnya tertutup oleh kemunafikan, namun lagi-lagi cinta untuknya tak pernah tertutup apapun.

Lagi-lagi harus aku yang memulai dalam membuat conversation diantara kita, jika aku bukan yang memulai kau mana mungkin berani. Sebenarnya aku ragu, takut, kesal, kecewa, benci, marah; dan lagi-lagi cinta selalu berbaris terdepan dan menyamarkan rasa yang telah lama terbentuk. Aku harus pastikan ini padamu, apakah itu right or wrong yang terpenting aku tanyakan ini padamu. Dan aku selalu temukanmu beberapa menit kemudian setelah aku mengirimmu pesan.

Aku tak dapat membacamu, aku tak tau apa yang kau pikirkan sekarang. Aku ragu jika hanya ada aku yang selalu kau utamakan. Aku tentunya terlalu berlebihan tentang ini aku tersadar bahwa tak pernah ada kata “KITA” untuk kita berdua, sayangnya kamu tak pernah mencoba untuk mengulik isi hatiku, tak pernah mencoba tanyakan perasaanku padamu; kau tidak akan pernah lakukan itu. Pengecut atau tidak perduli, sebagian isi otakku hanya kau, sedangkan kau;entahlah.

Aku rasa benar, kau nyaman dan senang dengan kehidupanmu sekarang hingga kau acuhkan aku dengan gayamu yang aneh itu. Aku yang begitu mudah membuka pintu maafku padamu dari berjuta kesalahan yang kau buat, and you always repeat your mistake it’s like you never feeling if you make the same mistake. Berjuta kali aku kecewa, beribu kali aku dapat memaafkanmu, namun lagi-lagi entah tanpa sadar atau tidak kau mengulangnya; aku hanya dapat pasrah.

Hal apa yang tak bisa aku lupakan dari aku? Sedangkan kau tak pernah menunjukkan kepedulianmu padaku, haruskah aku percaya kata-kata itu ? kata-kata yang pernah kau ucapkan dulu seperti  saat dulu dengan kau yang berbeda. Bagaimana caramu mengendalikannya ? sedangkan aku paling tidak bisa ditinggalkan tanpa kabar, aku paling tidak bisa bila aku tak tapat kabar pun sedangkan aku seorang wanita yang gengsi pun dapat menepis ke-gengsianku. Rasanya kau tak pernah mencoba untuk memulai semua ini, kau biarkan menggantung hingga aku yang merasakan sakitnya.

Seharusnya aku bisa pergi, tapi rasanya cinta terlalu kuat dari pada kekuatan tubuhku. Haruskah aku diam disini untuk waktu yang lama sedangkan aku harus melihat kau pergi sebebas yang kau mau, entah dengan apa kau membuatku seperti ini seperti terhipnotis kemanisanmu yang sesaat itu.


Aku butuh kepastianmu, kepastian agar aku dapat memilih jalanku sendiri. Kapan aku dapat kebenaran tentang perasaanmu padaku, agar aku tak terlalu lama menunggu apa yang sebenarnya bukan untukku; kan jadi sia-sia. I need your reason, I want your reason, I ask your reason, just a reason. Terlalu lama untuk menunggumu dan begitu lelah. Saat kau benar-benar masuk dalam pikiranku, aku tak dapat focus dan itu sangat menyiksaku. Satu alasanmu maupun itu tentang kebehagiaan dan kesakitan aku dapat membuat langkah terbaik untuk diriku sendiri, tidak seperti ini hatiku tersiksa. Apa aku yang selalu menjadi yang tersakiti ?.

Setidaknya aku dapatkan 1 alasan untuk melupakanmu walau sebenarnya sulit, I can figure it out if you not the only one I need. Dan lagi-lagi, terkadang aku harus sesabar mungkin menunggumu namamu muncul dalam screen handphoneku and I must waiting for a minute or hour, disappointed but I’m always giving your my apologize.

I need your attention to prove me you is the only one I search. Aku hanya butuh alasanmu…. Sebelum kau kembali nyaman dengan duniamu yang baru, aku hanya tak ingin unutk yang kesekian kalinya ditinggalkanmu. Aku tau kita saling menyukai bahkan mencintai, tapi kita tak pernah saling melengkapi dan saling memiliki; hanya aku yang memulai segalanya. Aku harus melihatmu keluar dari lingkaranku, lingkaran yang ku anggap tempat ternyaman saat aku bersamamu, tapi apa mungkin kau tak nyaman hingga pergi keluar mencari kesenangan yang kau mau.

Lagi, lagi, aku hanya butuh alasanmu. Pilihan antara waktu yang jawab atau biar kau yang berucap  panjang lebar denganku, biarkan waktu yang jawab sedangkan sebelumnya aku telah letih untuk menunggu. Tak tak pernah berucap banyak.


Aku mencintaimu selamanya…
Aku menantimu sebisa dan semampuku…
Masa-masa kita birkan terkubur perlahan bersama waktu…
Dan untuk saat ini, I love you for the rest of my life but I’ll tired for waiting.

Komentar