My Reason For Your Reason


Ingin rasanya saat semua yang aku impikan dapat terwujud kembali, menatap matamu dalam-dalam saat cahaya lampu enggan untuk lebih lebih terang, membingkai wajahmu dalam frame yang sangat istimewa. Melihat betapa mengagumkannya dirimu saat semua rasa ini benar-benar telah menyesak didalam dadaku, hal itu sudah tak mungkin  lagi terjadi setelah kita meributkan apa yang sebenarnya sudah tak penting.

Kamarku bahkan bosan, bantal guling pun basah karena air mataku semalam seakan mereka hanya menjadi saksi bisu atas semua curhatan hatiku yang terus berbicara, entah mereka mengerti atau tidak.  Rasanya kemarin sudah lama terlewatkan dan sudah memudarnya semua warna bahkan detail-detailnya, aku kehilangan lekuk senyummu yang samar-samar, aku kehilangan sosok karismatiknya dirimu yang selalu kuanggap sebagai kesatria yang datang disaat yang tidak tepat; kesatria kesiangan.

Penunjuk hati, bisakah terus berputar dan mencari? Mengapa panahmu selalu tertuju padanya?. Ingin rasanya dapatkan jawaban tepat didepan wajahku, oh, tidak, itu terlalu gila untuk gadis yang selalu menyembunyikan kesedihannya dimalam hari. Tapi siapa tahan, aku pun akan turunkan air mata. Aku paksakan semuanya, memang tak baik, tapi tak apa. Aku tak ingin jadi yang selalu tergantungkan dan terabaikan olehmu, kini aku berontak lepaskan ikatan dan menuju barisan utama untuk dapatkan jawabanmu.


Seharusnya aku sudah tau dari awal, sebenarnya sudah ketebak sebelumnya. Namun aku terlalu besar rasa tentang perasaanmu padaku, dari segala caramu untukku atau pun yang kau lakukan padaku aku menganggapnya istimewa sedangkan rasanya kau hanya menganggapnya bisa saja. Yap!! Kini aku tau jawabanmu sekaligus alasanmu lakukan ini padaku, dan kini aku dapat lanjutkan langkahku yang sudah terhenti cukup lama karena menunggumu. Menunggumu yang sebenarnya salah, saaallllaahh, kenapa ? aku gadis yang terlalu plin-plan dalam keteguhan jiwa  seharusnya aku, aku yang tentukan jalanku sendiri. Cinta, cinta, cinta kuatkan sekaligus melemahkanku.

Setelah aku tau itu, aku harus kuatkan hatiku, biasakan hatiku tanpamu dan perlahan menghilangkan rasa ini yang sudah tinggal cukup lama dalam hatiku. I got your reason when I know it’s so hard for me, and I must be the stronger girl without you. Aku hanya berharap bertemu denganmu  in good time we have  dan aku akan usahakan bila itu terakhir kali kita bertemu akan buatnnya special and hard to forget.  Walaupun terkdang saat aku ingat hal kecil yang pernah kau berikan membuat keraguan dua kali lipat dari hal kecil itu tentang jawaban dan alasan yang kau berikan padaku, dengan caramu memanggil namaku, pesan singkat biasa namun masuk dalam hatiku, caramu menatapku (dulu).

I got your reason for my reason, ketika aku dapat alasanmu aku pun dapatkan alasan ku untuk berusaha hilangkan perasaan ini walaupun kamu selalu menjadi utama dalam siklus hidupku. I’m learning for my mistake I make, aku gak mau jatuh ditempat yang sama dengan rasa sakit yang bertambah parah sakitnya. Aku memang terkadang bohong, aku dapat terlihat membencimu diluar sedangkan hatiku masih mencintaimu.

Komentar