Terima Kasih, Maaf..




    Kau yang pernah hadir dalam hidupku, entah menghiasi atau malah menjadi pemotivasiku: itu memang kau. Lupa rasanya dengar suaramu, celotehamu, candaanmu. Lupa rasanya dengan wajah yang selalu mampu buat aku ingin sekali menampar wajah itu, namun terkadang mampu buat aku tertawa. Laki-laki terkonyol sewaktu SMP mampu buat aku belajar mengontrol emosiku saat kau tak pernah berhenti ucapkan kekuranganku yang selalu jaadi bahan candaanmu yang terkadang lucu atau bahkan terkadang ingin sekali aku membuat aku kesal.

    Sekarang kau hadir lagi, dengan perubahan yang cukup berbeda walaupun tak banyak. Sekarang kau lebih puitis, lebih dapat membuat aku terbang saat kau kirimkan aku kata-kata puitis itu apa karena sekarang kau calon pilot ?. Laki-laki yang aku tau diam-diam jadi Anonymous  di  Ask.fm, yang lontarkan aku beberapa pertanyaan yang sudah dapat kau tebak. Terima kasih.

    Walaupun kau tak selalu ada disaat aku butuh, kau selalu datang disaat yang takku duga. Dengan sapaan Japan yang sedikit demi sedikit aku sudah mengerti, selau datang tiba-tiba dan pergi juga tiba-tiba. Terima kasih telah jadi penghiburku dengan caramu mengirim aku kata-kata puitis, terima kasih telah jadi teman walau hanya lewat pesan singkat, terima kasih.

    Hingga aku tau arti dari semua ini, saat aku pikir panggilan “Say” kita dipesan singkat  yang pernah aku anggap hanya lelucon itu benar terjadi. Ternyata kau suka. Sedangkan aku tak dapat berbuat apa-apa, aku hanya menganggapmu teman, sahabat, tempat curhat tentang hidup ini. Maaf, pintu hatiku telah tertutup untuk orang lain. Walaupu tempat ini kosong dan masih menunggu orang tersebut untuk mengisinya aku akan tetap menunggu, sekalipun kau pernah bilang ini percuma.

    Kau pernah berikan aku arti yang sunggguh berharga, saat kau jelaskan perbedaan dari “Dicintai” dan “Mencintai”. Kau bilang lebih baik mencintai, karena kita bisa membuat orang yang kita cintai tersenyum dan bahagia sekalipun kita sendiri tersakiti. Sedangkan aku memilih dicintai, memililih untuk dicintai oleh orang yang nampaknya tak mencintai kita. Aku belajar darimu, aku mencintai seseorang, dan aku berusaha untuk membuat orang itu tersenyum, walaupun aku sendiri tersakiti.

Terima kasih, atas semua yang kau lakukan selama ini. Maaf telah menolak cintamu untuk orang yang aku cintai yang rasanya tak mencintaiku. Terima kasih, telah masuk dalam hidupku dan mewarnainya dengan berbagai warna. Maaf, dengan tanpa sengaja aku menyakitimu. Aku yakin suatu saat nanti ada yang dapat mencintaimu seperti kau mencintaiku, ya, tentunya seiman dengamu. Aku akan trus beroa untuk kebaikanmu dan kebahagiaanmu sekarang ataupun dimasa depan nanti.

Komentar