Come Back



    Siang ini udara memang cukup panas, dan udara ini yang membuatku sangat rindu dengan Indonesia. 3 tahun bersama dan tinggal di Negeri Paman Sam, di Negeri yang ku sebut dengan Negeri sejuta mimpi  dan  Country full of art. Dan janji akian terus menjadi janji yang mengikatku, terutama janji untuk kembali ke Negeriku tercinta Indonesia dan, bertemu dengan seseorang yang sebelumnya telah membuatku berjanji untuk pulang kerumah Tanah Air Tercinta.

    Keluargaku terkejut, walaupun tak segalanya berubah pada diriku. Aku yakin akan ada satu hal yang berbeda dari aku yang sekarang. Aku tak dapat fisik disana hanya saja bagaimana beradaptasi dan mendapatkan ilmu maupun pelajaran disana, hanya saja keluarga tak hentinya tanyakan adakah yang dapat menarik hatiku. Aku tau di umurku yang menginjak 26 tahun ini seharusnya aku telah dapat melihat malaikat kecil yang aku timang bersama sesosok laki-laki yang menjadi Ayahnya, dan ini mungkin alasan mengapa Ibu selalu tanyakan tentang percintaanku, yang seharusnya sudah harus melangkah kejenjang yang lebih serius.

“Adakah disana yang menarik hatimu ?”. Ibu menggodaku dengan senyuman selamat datangnya.
“Ibu… disana kan lebih dominan Kristen bu, lagi pula aku gak mau bulak-balik Amerika- Indonesia”. Tawa dan senyum yang dapat aku lakukan, dan sungguh senang melihat ibu tersenyum.

    Karena udara pagi di Indonesia ini tak sedingin Amerika, tapi rasa ini yang selama 3 tahun menyelimutiku membuatnya sangat dingin. Aku pikir aku harus segera bertemu dengannya, dan menepati janjiku bahwa aku telah datang lagi untuknya. Tapi, ada satu hal yang terlupakan. Huft… kenapa tak sempat pikirkan ini sebelumnya, pergi 3 tahun yang sebelumnya hanya kenal baik lewat pesan singkat atau pun diujung telefon dan terakhir bertemu taka da satupun yang tertinggal.

    Harus ada strategi untuk ini, rasanya ini harus jadi moment yang indah. Aku bersyukur ingatanku masih jelas dan dapat menemukan rumahnya, dan mencoba menemuinya. Nampaknya,rumah yang dulu sering aku lihat dari kejauhan ini mengalami beberapa perbedaan  yang cukup mencolok. Aku perlahan mengetuk pintu yang berwarna coklat tersebut. Entah mengapa sudah 3 ketukkan aku daratkan pada daun pintu tersebut tak dapat antarkan untuk membuka pintu ini, yang ada hanya kesunyian.  Aku memilih untuk menunggu beberapa menit. Ternyata ada langkah dibalik pintu yang akan terbuka, terlihat sesosok perempuan yang ku kenal wajahnya.

   Langkahku kini semakin cepat, entah apa yang membuat aku begitu sangat takut, cemas, dan khawatir. Ruang anggrek 10. Entah langkahku yang begitu cepat melambat bahkan terhenti, terhenti disebuah pintu yang penuh kesedihan. Aku melihat sesosok perempuan yang duduk disamping tempat tidur itu dengan setianya mendampingi, siapakah perempuan itu?. Tangan anak perempuan itu menarik tanganku untuk masuk.

     Tangan kalian yang bersatu dengan lingkaran putih dijari manis. Cukup untuk yakinkan jika semua ini sudah berakhir. Dinginnya rumah sakit membuatku beku, beku juga oleh pengelihatanku atas semuanya yang tidak bisa kutebak.

“Mm… kamu siapa?”. Suaranya melemah.
“Mmm.. kamu lupa sama aku ?”. tanyaku lirih.
Perempuan cantik berambut panjang itu menatap aneh.
“Aku Maya!”. Mencoba meyakinkanya, yang sedang terbaring di tempat tidur.
“Maya??....”. Mata kami mulai menatap dan berkaca-kaca.

Aku memeluknya, walaupun aku tau perempuan cantik itu masih bingung.

   “Kakak, tadinya juga aku masih gak percaya kalau ini kak Maya yang dulu. Cantik ya kak”. Adiknya memujiku dengan senyum imutnya, yang dulu sering aku dandani.

    “Rasanya semuanya sudah berubah ya?”. Suara yang dulu berbisik di telingaku sebelum Take off  masih terus bergeming sejak dulu. Bisikkan bahwa dia akan terus menunggu hingga semuanya selesai, akan tunggu aku pulang.
“Ya, rasanya begitu. 3 tahun waktu yang sebentar untuk tidak berubah”. Suaranya, membuat aku sangat rindu.
      Perempuan cantik itu bangun dari kursinya, “Lebih baik aku tinggal kalian berdua ya? Ayo!”. Perempuan itu dan adiknya yang perempuan keluar ruangan.
   Kini aku yang duduk disampingnya, perasaan yang dulu pernah ada dan aku simpan sampai 3 tahun ini semakin besar. Ia genggam tanganku, tangan yang masih terinfus, matanya berbinar. Sebenarnya keraguan basahi aku dengan derasnya, ingin tanyakan kejelasan tentang semua ini.
“Huftt… tampaknya dia cocok untukmu!”. Komentar yang sangat bodoh.
“Bagaimana disana ? Kamu luluskan ? aku seneng kamu balik lagi”. Senyum yang sempat buat indah hariku dapat aku lihat lagi, dengan wajahnya yang pucat ini.
“Mm.. ia aku lulus kok!”. Belenggu semakin besar dan membuatku sulit untuk berkata.

    Harus bagaimana?, pelukkan saat Take off adalah pelukkan yang terakhir dan tak akan lagi. Dia Yang akan jadi satu-satunya yang kamu cinta bukan aku, aku tak menyesal  tinggalkanmu selama 3 tahun walaupun aku tau semua ini akan berakhir seperti ini.aku tak mungkin merusak kebahagiaan yang telah kau miliki. mungkin tak akan sulit untuk aku cari penggantimu, walaupun aku tau juga selama 3 tahun aku hanya focus terhadap kuliahku, dan Indonesia. Indonesia, untuk bertemu kamu, pulang ke rumah.

   Tak sadar langit pun semakin gelap. Perempuan itu datang dengan senyum dan juga air mata diwajahnya, “Ri, May. Aku ada mungkin Cuma sementara, dan seterusnya adalah kamu May. Cinta kalian memang harus bersatu, dan kamu harus…”. Perempuan itu mendekatiku, membuka cincin dan memakaikannya padaku.”Ri, kamu harus secepatnya menikahi dia”. Aku dapat melihat wajah cantiknya, dia mencoba ikhlas.

   Pulang untuk mencintaimu lagi Ri, dan ini adalah impianku. Aku bahagia sekarang, semuanya bener-bener sempurna. Aku pulang dan temukan rumah yang baru, dan keluarga kecilku yang akan segera aku urus. Dan pulang dari perantauan ilmu, dan pulang untuk kembali memeluk.

Akan ada saatnya pergi untuk kembali
Dan akan ada saatnya pergi dan kembali ketempat yang berbeda
Dan cinta akan tunjukkan jalan yang benar
Jika hatimu benar

Komentar