Ketika Jingga Senja Datang (2)



Hatinya masih dipenuhi dengan perasaan yang singgah hanya beberapa menit. Shinta tak pernah mengenalnya dengan dekat. Shinta hanya mengetahui dia adalah seorang laki-laki yang lahir dalam keluarga sederhana dan penuh dengan kemandirian, yang umurnya 1 tahun lebih tua darinya, tingginya kira-kira 170cm, dengan wajah yang meneduhkan seperti Jingga juga ketaatannya kepada Allah.

Mungkin perasaanya mulai tumbuh ketika salah satu teman Shinta yang bersekolah disekolah yang sama dan sedikit lebih kenal dengan sosok laki-laki itu berkata,

“Kenapa gak sama dia aja ? Dia rajin Sholat loh!”.

Sebuah kata sederhana namun terdengar sangat menakjubkan untuk Shinta, yang membuat benih-benih yang terlempar menjadi sebuah pohon kecil yang akan tumbuh dengan subur bersama sucinya waktu. Membuat Shinta terdiam duduk dibangkunya sambul menatap langit dari jendela kelas tentang perasaan yang ada hanya sampai Jingga hilang ditelan malam. Dan hari yang sama seperti hari ini selalu terulang selama 2 bulan ini.

Kak Jingga~  . 3 Januari 2014.

Jingga<3  . 4 Januari 2014.

Jingga~  . 5 Januari 2014.

Shinta terlihat duduk di sebuah sisi koridor sekolah saat siang hari, ia sengaja datang lebih awal untuk merasakan sosok itu saat tengah lewat didepannya lalu menuliskan kalimat yang dikatakan hatinya dalam sebuah buku kecil yang berwarna putih dan hitam. Matanya mulai menerawang dalam sinar matahari yang mulai menyilaukan mata, untungnya hari ini cerah dan semoga Jingga masih dapat ia lihat jelas nanti sore.

Dalam serpihan kaca yang aku  punya…
Kau datang lalu menyinari…
Membuatnya berkilau bagai emas…
Emas yang meneduhkan jiwa ini…
Membuatnya selalu hangat tanpa pernah membuatnya beku…
Datang memberikan kehangatan yang abadi…
Jingga…
Datang, seperti pernah datang sebelumnya…
Pergi, seperti tak pernah akan pergi…
Dan jingga…
Aku tak ingin berlari, ketika mentari mulai turun perlahan…
Aku ingin tetap duduk manis di antara ilalang…
Diantara burung-burung cantik yang terbang pulang…
Melukis langit dengan cinta dan ketulusan yang mendalam…
Kaca ini bukan lagi sampah, tapi siap lagi untuk diolah…
Menjadi lebih indah dengan jingga…
Jingga…
Bahwa budi-mu mampu lumpuhkan aku…
Bahwa cahaya-mu mampu terpukaukan aku…
Bahwa kau…
Mampu buatku semangat
Dengan jingga….

Shinta masih melakukan hal yang sama “Diam-diam”-nya dalam mencintai seseorang yang membuatnya terkagum-kagum, melihat sosok itu  dari jauh, memantau sosok itu dijejaring sosialnya, memikirkannya dan memasukkan nama tersebut dalam doanya. Hingga tak ia sadari waktunya melamun sudah habis, akan banyak yang tau jika ia masih duduk, menulis dan memikirkan tentang seorang laki-laki yang membuatnya begitu jatuh cinta bersamaan dengann saat indah yang di ciptakan Allah.

………

Komentar