Ketika Jingga Senja Datang (3)



Pada suatu hari, terdapat sebuah 1 pelajaran yang sudah Shinta nanti-nanti sejak seminggu kemarin. Bahasa Indonesia yang tengah dalam materi Puisi. Sudah berlembar-lembar ia menulis sebuah puisi yang cocok untuk dibacakanya didepan kelas, hingga ia harus berganti-ganti tema puisinya sampai mencari-carin kata-kata hingga larut malam. Namun puisinya tak akan jauh dari kata-kata yang berhubungan dengan cinta, penyebabnya karena Shinta tengah jatuh cinta hingga dalam bawah sadarnya

Siang ini Shinta terlihat sangat bersemangat, matanya memancarkan sebuah sinar mentari yang ia pinjam karena saat ini matahari terlihat sangat redup dilangit. Senyumnnya penuh dengan keceriaan dan sangat-sangat penuh dengan cinta, yang sepertinya membuat orang yang baru membuatnya sangat heran dan penuh dengan tanda tanya.

“Yes… sudah selesai semoga nanti bagus deh walau sedikit deg-degan “.

Jam pelajaran Bahasa Indonesia ada saat setelah istirahat, dan tak lama lagi suara bell istirahat akan terdengar dan membuat siswa-siswi pada tiap kelas pergi menuju kantin termasuk Shinta.Dan benar, tak sampai satu menit suara bell istirahat terdengar keras memanggil keluar kelas untuk segara mengisi perut dengan makanan yang berada dikantin sekolah. Shinta berjalan sangat senang dan terlihat sedikit berlari saat menuju kantin bersama teman-temannya dan tak berapa lama kemudian ia kembali ke kelas.

Ia merogoh kantong seragam putih abu-abunya dan mendapati sesuatu telah hilang dari kantongnya yang disatukan dengan uang jajanya. NASKAH PUISI. Naskah puisinya hilang, sontak ia terkejut dan melempar jajannya yaitu roti keatas mejanya untuk segera mencari dimana jatuhnya kertas itu, sontak teman-temannya keheranan melihat Shinta yang terlihat begitu gelisah.

“Naskahnya dimana ? naskahnya dimana ? Aduhhhh…..”.

Kakinya kemudian sedikit berlari mencari kertas putih yang dilipat cukup kecil itu dijalan yang tadi ia lewati, Shinta tak perdulikan ratusan pasang mata yang menyaksikan keheranan saat ia mencari. Hingga...
Grubrakkkk….

Shinta ternyata menabrak seseorang yang ia kenal, sontak malah menambah ia sangat kebingungan dengan rasa yang bercampur-campur dalam hatinya.

Maaf Kak….”. Dengan mata yang masih tak terlepas dari jalan yang ia lewati berharap kertas itu ditemukan.

Kak Andre terlihat seperti biasanya terlihat, jika ia tidak dengan gerombolan kelasnya ia akan bersama orang yang tengah itu bersamanya yaitu Kak Rizky. Kak Andri terlihat saat kaget juga bercampur senyum yang membuat Shinta pun tak ingin hilangkan kesempatan itu.

“Lagi cari apa sih sampai segitunya ?”. Dan untuk yang pertama kalinya Shinta mendengar langsung suara laki-laki yang tengah ia kagum-kagumi.

“Itu loh kak, kertas putih yang dilipat.. tadi jatuh”. Shinta masih begitu takut jika sampai tulisannya hilang dan penampilannya menjadi gagal.

“Oh… yang judulnya ‘DAN JINGGA’ ?”. Mengatakannya dengan wajah masih tersenyum.

Shinta terlihat sangat terkejut tak percaya, wajahnya menatap wajah Kak Andri tak berkedip. Masih bertanya-tanya tentang ketahuan Kak Andri tentang puisinya yang baru saja hilang.

“Kakak tahu dari mana ?”.

“Untung kakak yang temuin tadi didekat minimarket, memangnya ‘ Jingga’ itu siapa sih Dek ? Kamu sebutin terus distatus Facebook ?”.

Kak Andri memberikan kertas yang Shinta car-cari, hatinya lega namun perasaan baru muncul, Shinta terlihat sangat malu tentang sosok ‘Jingga’ yang selalu ia sisipkan namanya akhir-akhir ini. Kak Andri terlihat sangat penasaran dengan sosok tersebut yang membuat seorang gadis mampu berbuat sesuatu yang kreatif. Mata mereka saling menyatu, bertukar senyum dan mendengar suaara satu sama lain untuk yang pertama kalinya, yang sebelumnya hanya me-Like status satu sama lain dalam Facebook.

“Mmmm… Dia itu Kakak. Terima kasih ya Kak!”.

Dengan keberaniannya Shinta mengatakan Bahwa Jingga-nya selama ini yang selalu indahkan dan sejukkan hatinya adalah Kak Andri, yang kemudian berlari menuju kelasnya. Kak Andri yang wajahnya terlihat sangat tak percaya hanya tertawa bersama Kak Rizky dan melanjutkan langkah mereka  menuju Musholla sekolah.

Bell selesai istirahat berbunyi, tapatnya pukul 03:55 sore. Shinta dan beberapa temannya pergi menuju sekolah untuk melaksanakan Sholat Ashar. Dalam langkahnya terucap seribu syukur untuk setengah hari ini yang begitu membahagiakannya dan senyum yang terukir dalam bibirnya. Setelah sholat ia menuju kelas lagi untuk segera memulai pelajaran Bahasa Indonesia.

………

Komentar