Ketika Jingga Senja Datang



Seperti biasanya jam sudah menunjukkan pukul 11:40 siang, Shinta dan Sisi sudah berjalan menyusuri jalan setapak perkampungan yang menyambungkan dengan jalan raya. Tentu saja ada yang membuat wajah mereka berdua terlihat keringat diantara hidung dan bibir bahkan didahi yang tertutup dengan kerudung, tapi tak hentikan langkah mereka berdua untuk pergi kesekolah.

Mereka sudah berada diujung jalan yang terlihat sebuah gapura yang terlihat seperti sebuah atap rumah yang di cat hijau muda yang telah pudar akibat cuaca akhir-akhir ini yang lebih sering hujan, mereka menyebrang diantara dua arah yang berlainan. Dan menaiki sebuah kendaraan umum yang sudah menunggu sebelum mereka menyebrang,  dan kembali melaju membelah angin siang yang panas.

2 pasang kaki itu harus melangkah lagi menuju sekolah yang tidak terlalu jauh dari gang. Terlihatlah sebuah gerbang sekolah yang berwarna silver dan beberapa aksen bunga mawar yang diberi warna emas yang sudah pudar dimakan waktu. Shinta dan Sisi melangkah kedalam melihat sekeliling yang sudah terlihat siswa-siswi yang keluar dari kelasnya karena jam sudah menunjukkan pulang sekolah, lengkahnya terhenti pada sebuah kelas yang masih diramaikan oleh beberapa orang yang sedang membereskan tasnya didalam kelas. Shinta hanya memberikan kode kepada Sisi kalau tidak apa-apa mereka masuk karen sudah jamnya.

Hari-hari masih sama bagi Shinta, terutama Pagi hingga Siang  dan Malam hingga tengah malam. Semuanya masih terlalu datar untuk ia lewati walaupun dalam beberapa kesempatan yang membuatnya harinya sedikit bergelombang. Hingga ia menemukan sebuah cahaya meneduhkan yang membuatnya sedikit lega dengan segala rutinitas sehari-hari.

Jingga menjelang

“Sinar mentari yang seperti ini pasti akan jarang banget aku dapetin, musim hujan akhir-akhir ini akan menutupi langit”. Dengan wajahnya yang muram

Bel istirahat sudah terdengar, Beberapa siswa siswi berhamburan keluar mencari secuil makanan untuk mengisi perut mereka menuju kantin da nada beberapa yang tetap di kelas memakan makanan yang mereka bawa dari rumah. Sedangkan Shinta memilih untuk duduk di depan kelasnya setelah pergi sebentar kekantin membeli roti kecil.

“Alhamdulillah, hari ini cerah jadi Jingga-nya terlihat indah walaupun Jingga-nya belum terlalu terlihat”. Jelasnya dalam hati

Ini memang yang dia tunggu, Jingga. Tapi ada satu hal lagi yang ia tunggu, seseorang yang hanya akan ia lihat ketika Jingga mulai Nampak terutama ketika beberapa detik bell istirahat berbunyi. Dan benar….

“Itu dia….”.

Sepasang matanya sulit terlepas tapi Shinta tau masih banyak pasang mata lagi yang akan memergokinya melihat seseorang hingga tak berkedip, Shinta harus beberapa kali mengalihkan pandangannya kearah lain padahal ia takut kehilangan satu detik untuk melihat keindahan ketika Jingga datang.

“Terima kasih, Ya Allah”. Mengembangkan senyumnya dibibir dan juga hatinya.

Sosok itu kemudian hilang begitu saja bagai hanya lewat ketika Jingga datang, seperti pelangi setelah hujan. Itu pun sama, tak akan selalu Ada. Hatinya bercampur aduk dengan berbagai perasaan yang membuatnya diam diantara teman-temannya yang sibuk dengan percakapan mereka sendiri-sendiri. Perasaan penuh dengan rasa kagum, cinta, terima kasih, keindahan, dan diam yang membuat semuanya serba salah.

“Semoga aku masih bisa melihat Jingga lagi, dan semoga di Jingga yang lebih perfect lagi”.

Bell masuk pun berbunyi.

Komentar