Pengorbanan Cinta (Kahlil Gibran)




Cinta dalah karunia tuhan
Kepada jiwa-jiwa yang peka dan agung
Cinta adalah kekeyaan yang tak ternilai harganya


“Bicaralah Selma, tetang segalanya, dan jangan biarkan aku tersesat dalam kepalsuan.”
Kemudian Selma pun menambahkan, “Aku merasa tak mampu berkata, karena lidahku telah kelu oleh rasa sakit. Aku tak mampu lagi berbicara, karena bibirku telah terlatup oleh derita hingga tak kuasa aku menggerakkannya. Yang dapat ku katakana padamu hanyalah bahwa aku kuatir kalau engkau akan terjatuh dalam perangkap yang sana, seperti perangkap yang telah menimpaku.”


Aku mencintaimu, Selma, dan engkau pun mencintaiku. Cinta adalah karunia Tuhan kepada jiwa-jiwa yang peka dan agung. Cinta adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Haruskah kita campakkan kekayaan ini dan kita biarkan babi-babi itu memorak-porandakan dan menginjak-injaknya ? Dunia imi penuh keajaiban dan keindahan, lalu mengapa kita hiduo dalam terowongan sempit yang digali oleh pendeta itu bersama antek-anteknya untuk mengasingkan kita. Hidup ini penuh dengan kebahagiaan dan kebebasan, tapi mengapa kita tetao membiarkan belenggu di pundak kita. Kenapa tidak dipatahkan kayu yang memasung kita. Kenapa tidak kita patahkan rantai-rantai yang menjerat kaki-kaki kita, lalu berjalan dengan bebas menuju peraduan kedamaian.


“Tidak! Tidak kekasihku. Tuhn telah meletakkan cawab di tanganku, yang berisikan asam cuka dan empedu, dan aku mewajibkan diriku sendiri itu untuk meneguknya, menghirup seluruh rasa oahitnya, hongga tak ada lagi yang tinggal kecuali beberapa tetes saja, yang juga akan ku reguk dengan penuh kesabaran. Aku tak layak untuk sesuatu kehidupan baru yang terbuat dari cinta dan kedamaian itu. wujudku terlalu lemah untuk menikmati kesenangan dan kemanisan hidup. Burung yang telah patah sayap-sayapnya tak akan mampu terbang melayang diangkasa yang lapang. Mata yang terbiasa pada temaram cahaya lilin tidak akan mampu menahan terangnya sinar matahari. Janganlah engkau berbicara lagi tentang kebahagiaan kepadaku. Sebab, kenangan pada kebahagiaan itu hanya akan membuatku menderita. Jangan sebut-sebut lagi kedamaian kepadaku, karena bayang-bayang kedamaian itu hanya akan membua aku semakin takut. Tapi pandanglah aku lekat-lekat, dan akan ku perlihatkan padamu Obor Suci yang telah dinyalakan Tuhan berkeping-keping di hatiku.”


“Engkau tentulah tahu bahwa aku mencintaimu seumpama seorang Ibu mencintai anak satu-satunya, dan cinta hanya mengajariku melindungimu bahkan terhadap diriku. Cinta yang terbatas hanya ingin memiliki yang dicintai, tapi cinta yang tak terbatas hanya menginginkan cinta itu sendiri. Cinta yang tumbuh dengan peluk-pelukan. Namun cinta yang dilahirkan dalam pangkuan cakrawala dan yang diturunkan bersama segala rahasia alam, tidak pernah puas dengan apapun selain keabadian dan kelestarian. Cinta itu tidak berdiri dengan hormat kepada apa pun kecuali kepada Tuhan.”


“Marilah kita tegarkan hati, setegar menara yang menantang prahara. Marilah kita berdiri laksana prajurit-prajurit gagah perkasa menghadapi musuh dan menantang peluru. Jika mati kita akan menjadi martir atau syuhada , dan jika memang kita akan hidu sebagai pahlawan. Berani maju menghadapi tantangan dan rintangan itu lebih mulai dan terhormat daripada mundur menuju ketenangan.”


Aku sadar cinta kita sedlam samudra, setinggi bintang-gemintang, dan seluas angkasa. Akudatang ke tempat ini hanya untuk melihatmu. Dan kekuatan itu adalah kemampuan untuk mengorbankan sesuatu yang agung, agar dapat memperoleh sesuatu yang lebih agung. Aku mengorbankan kebahagiaanku agar engkau bisa tetap bersih dan terhormat dalam pandangan masyarakat, serta terhindar dari cercaan atau hukuman.


“Hari aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal padamu, kekasihku. Harapanku, semoga perpisahan kita akan abadi dan seindah cinta kita. Biarlah perpisahan kita ini seperti api yang melebur batangan emas, demi membuatnya semakin berkilau-kemilau.”


Aku telah mengenakan mahkota duri dan menampakkan mahkota mutiara, mambasuh diriku dengan darah dan air mata, bukan dengan minyak wangi dan harum-haruman. Aku telah meminum asam cuka dan air mata empedu dari cawan yang Engkau ciptakan untuk menjadi wadah anggur dan minuman para dewa.


Itulah kali pertama aku menyadari kenyataan bahwa, manusia walaupun terlahir bebas merdeka, mereka tetap akan menjadi budak peraturan yang diwariskan oleh leluhur mereka, dan bahwa langit yang kita bayangkan tetap tak berubah, adalah penaklukan hari ini terhadap kehendak esok hari dan penyerahan haru kemarin pada kemauan hari ini.

Komentar