Rahasia Dan Keajaiban Cinta (Kahlil Gibran)




Cinta adalah telaga kautsar yang dituang pengantin fajar
Pada jiwa-jiwa yang perkasa, membumbung di hadapan
Bintang-bintang malam, terbang sambil bersenandung
Dihadapan matahari siang

Apakah sayap-sayap ini
Yang mengepak-ngepak disekitar pembaringan
Pada keheningan malam hingga kuterjaga
Dan mengamati apa yang tak ku tau
Memasang telingauntuk sesuatu yang tak ku dengar
Menatap apa yang tak ku lihat
Memikirkan apa yang tak ku mengerti
Dan merasakan apa yang tak kurasa
Serta merta mendesah karena didalamnya terdapat ketersekatan
Yang lebih ku suka dari pada getar tawa

     Seorang tua renta, yang berwajah lesu lewat dihadapanku seraya mendesah, “Cinta adalah kelemahan yang diwariskan secara turun-temurun.”
     Lalu, lewatlah seorang pemuda berbadan tegap, dengan lengan berotot dan berkata menyenandung, “Cinta adalah hasrat yang ada dalam diri kita yang menyambungkakn masa lalu dan masa dengan.”
     Kemudian berlalulah seorang perempuan. Matanya redup. Ia berkata dangan suara yang tersendat, “Cinta adalah racun mematikan yang disemburkan ular hitam yang tergeletak di gua-gua jahanam, lantas menebarlah diangkasa, lalu turun bertutup butiran embun kemudian dihisap jiwa-jiwa yang haus, maka jadilah ia masuk sesaat, siuman setahun dan mati seabad.”
     Ketika itu sorang gadis berpipi mawar lewat dengan berkata dengan senyuman, “ Cinta adalah telaga kautsar yang dituang pengantin fajar pada jiwa-jiwa yang perkasa, membumbung dihadapan bintang-bintang malam, terbang sambil bersenandung dihadapan matahari siang.”
     Lewat juga seorang lelaki berpakaian hitam dengan janggut tergerai lalu berkata masam, “Cinta adalah kebodohan bua, berawal pada masa rremaja dan berakhir bersama berakhirnya masa itu pula.”
     Lalu seorang lelaki yang bersinar wajahnya dab terkuak air mukanya berlalu dan berkata cerita, “Cinta adalah pengetahuan agung yang menyinari penglihatan kita. Sebab itulah kita melihat segala sesuatu sebagaimana halnya pada dewa.”
     Lalu kulihat seorang tunanetra, berjalan bertopeng tongkat dan berkata dengan nada meratap, “Cinta adalah kabut tebal yang mengepungjiwa dari segala arah dan membuatnya buta terhadap sketsa semesta,atau menjadikanya tidak melihat apa pun selain pada bayangan keinginan yang bergetar di antara bebatuan, tak mendengar suara apa pun selain pada jeritan yang datang dari semua sisi ngarai.”
     Lalu berlalu seorang pemuda yang membawa gitar dan bernyanyi, “ Cinta adalah nyala magis yang terbit dalam kedalaman mata jiwa dan menyinari sema arah kebaikannya. Maka alam semesta tampak seperti pawai tang berjalan di padang rumput hijau, dan kehidupan pun serupa  mimpi indah yang tegak diantara keterjagaan dan kesadaran.”
     Lalu lewatlah seorang tua renta denga punggung bungkuk, menyeret kakinya seolah-olah kakinya robek dan berkata dengan gemetar, “Cinta adalah ketentraman jasmani dalam ketenangan kubur dan kedamaian jiwa didasar alam baka.”
     Lalu berlalu anak kecil, berteriak sambil tertawa, “Cinta adalah Ayahku, cinta adalah Ibuku, tak ada yang tahu cinta selain Ayah dan Ibu.
     Siang pun berangsur malam, sementara orang-orang yang berlaly didepan kuil ini hanya menggembarkan jiwanya seraya berkata tentang cinta, mengungkapkan pengharapannya seraya menjelaskan rahasia kehidupan.
     Sesudah malam datang dan gerak pelalu lalang pun diam, ku dengar suara dari dalam kuil, “Hidup terbagi dua; Separuh kesabaran dan separuh yang lain adalah kobaran. Cinta adalah bagian yang menyala.”
     Pada saat itu juga aku memasuki kuil dan bersujud, serta merta berdoa sepenuh hati, “Ya Tuhan, jadikanlah aku santapan bagi kobaran itu, jadikanlah aku, oh Tuhan, suapan bagi api keramat. Aamiin.”

Komentar