Surat Yang Tak Pernah Terkirim










Saat itu aku sangat ingat, 3 Juni 2014 yang lalu. Bagiku tetap sama walaupun aku merasa sedih karena aku bukan orang pertama mengucapkan Selamat Ulang Tahun padamu, karena saat itu aku tak tahan dengan rasa kantuk yang begitu berat. Namun tiba-tiba jam 3 pagi aku terbangun dan langsung mengambil handphone-ku untuk segela mengucapkan Selamat Ulang Tahun yang tentunya aku bukan lagi yang pertama mengucapkan.

Sepertinya ulang tahunmu begitu berarti bagimu, terutama seseorang yang telah mengisi ruang kosong dalam hatimu. Hari cepat sekali berlalu dan kini saatnya aku yang berulang tahun, yaa..  aku memang sangat bersyukur ada beberapa yang membuat aku bahagia. Namun rasanya ada yang kurang saat itu, terlebih kau tak berusaha menghubungiku lebih awal. Kau tahu aku begitu menunggu pesan darimu yang ternyata datang pada pukul 3 sore. Aku sungguh kecewa, namun aku juga masih bersyukur kau masih menyempatkan untuk memberi ucapan padaku.

6 bulan sebelum bulan ini, aku berniat membelikan mu sebuah jaket atau bahkan sebuah jam. Aku sudah menyiapkan semuanya ya walaupun aku belum membelikanya, karena aku harus mengumpulkan uang terlebih dahulu. Aku sabar menunggu waktu, menyisihkan uang sakuku, dan bersiap merangkai jalinan kata yang akan aku tulis dalam sebuah surat yang akan aku simpan dalam kado itu.

Dari semangat yang seperti sebuah bom yang sangat dijaga keamanannnya, menjaga agar meledak dalam waktu dan suasana yang benar. Dan aku mulai merangkai kata-kata itu :

Detik kian berdenting
Menetapkan semuanya sesuai dengan waktu yang tepat
Mengingatkanmu dengan segalanya
Segala kesempatan dalam detiknya yang ada
Dan itu alasan kenapa aku memberi jam ini padamu
Happy Birthday ya..
Semoga kamu jadi manusia yang lebih baik lag
Banggain kedua orang tua dan orang-orang yang sayang padamu
Dan semoga keberkahan, kesehatan dan keridhaan selalu melindungimu dan keluargamu

Dan aku juga memberikan ini
Aku juga tidak tahu kau menyukainya atau tidak tapi aku harap ini kau simpan
Berharap selalu melindungimu dalam panas maupun dingin
Aku masih mencintaimu dan aku ingin apapun yang terbaik untukmu

SEMANGAT YA !!


Kejadian-kejadian mulai membuat bom itu meledak tidak pada waktu dan suasana yang tepat, membuat semuanya berantakan. Percuma!.  Kejadian-kejadian membubuat semangatku berhamburan tak tentu dan akhirnya menggagalkan semuanya, lagi pula percuma dengan aku memberikan sesuatu itu tak akan ada yang berubah darinya. Aku pun mengurungkan niatku untuk membeli kado untukmu, karena aku tahu kado yang begitu biasa itu tak akan sebanding dengan kado Tuhan yang diberikan padamu pada sosok perempuan cantik untuk mengisi hatimu.

Aku sedang membereskan peralatanku dan kemudian menemukan secarik kertas yang pernah kulihat. Kertas itu! kertas yang pernah ku ambil dari kulit hati, dengan darah hati da nisi yang berasal dari hati, menuliskan harapan dalam tiap goresan tinta merah. Aku membukanya perlahan seolah akan melihat hati yang pernah aku korbankan untuk menulisnya.

Aku terdiam seolah ini adalah segala harapan yang telah gagal, kesempatan yang telah hilang. Dan tulisan ini yang membuatku sadar, aku memang tak sungguh-sungguh. Membacanya lagi perlahan, membuat segala perasaan itu hadir lagi, bukan cinta, tapi kekecewaan. Aku sungguh muak, tapi ada beberapa perasaan yang membangunkan sedikit cinta yang pernah terkubur.

Surat yang tak pernah terkirim atau bahkan terbaca olehnya. Aku merobeknya.

Komentar