Datang Lalu Pergi





Aku kini mulai mengerti hidup, sulit memang. Kini aku mulai pahami hidup walau kadang rasanya ingin berontak namun apa daya, seperti inilah hidup yang harus selalu dijalani dan dilewati dengan penuh perjuangan  dan doa yang selalu terpanjat.
Aku banyak menemukan apa yang dalam rencanaku tak pernah aku sangka, mereka datang setitik namun memberikan pelajaran yang sungguh luas dan membuat aku mengerti juga membuatku tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Keadaan adalah salah satu guru yang begitu banjur membuat aku begitu cepat mengerti.
Hingga aku tersadar, bahwa hidup ini bukan melulu tentang aku, aku, dan aku. Yap!! Tentu aku memerlukan mereka, dan mungkin di antara mereka juga membutuhkanku. Manusia sebagai makhluk pribadi dan manusia sebagai makhluk sosial.

Sama seperti tempat penginapan mungkin. Orang-orang datang, menginap, lalu pergi lagi. Datang dengan mudahnya yang hanya membayar dengan senyum dan perkenalan yang singkat dan cepat. Menginap, dekat dengan sangat dekat, membuat moment yang tak terlupakan dan meninggalkan bekas bayangan yang selalu mengingatkan lalu pergi dengan mudahnya dengan ucapan yang singkat.

Aku pernah bertemu dan mengenalnya dengan sangat dekat. Mungkin persamaan dengan “Tempat Penginapan” ini cocok,  dimana semuanya dimulai lewat perkenalan, dekat kemudian…
Seperti kebanyakkan alasan yang dipakai semua orang termasuk dalam sinetron, Kecewa. Mungkin itu salah satu alasan yang ia gunakan untuk cepat-cepat pergi dari rumah ini. Dan ini memang mungkin benar, aku tak mempunyai kunci ganda untuk menahan mereka dalam rumahku tentu saja aku begitu jahat telah memenjarakan mereka yang ingin bebas pergi lagi.

Seandainya aku bisa memiliki selayaknya, Hamba membutuhkan Tuhan-nya, Manusia membutuhkan Matahari dan seperti Manusia membutuhkan Oksigen. Walaupun banyak keluhan yang terucap namun akan selalu ada dan senantiasa berdampingan dalam hidup. Dan seandainya bersama selamanya, mungkin semuanya tak akan ada yang sedih, tak akan ada yang berharap dan tak akan ada menyesal, memang Hidup.


Komentar