"DREAM"



Hari sekolahan tampak sepi, hanya terlihat beberapa orang yang lalu-lalang diseputaran sekolah. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 09:00 pagi, ia sudah berada satu setengah jam disekolah. Nayla, seorang gadis remaja yang berlalu-lalang didepan perpustakaan yang beberapa kali duduk pada sebuah tempat duduk yang menempel dengan dinding perpuatakaan sekolah.

Tentu saja hari ini merupakan hari dimana kelas 3 SMK sedang melaksanakan Ujian Sekolah, dan entah apa yang membuat Nayla ingin pergi menuju kesolah dimana anak-anak kela 2 SMK diliburkan. Terlihat beberapa Guru yang sangat sibuk mengawas jalannya Ujian Nasional, Nayla juga dapat melihat sebuah kertas yang menempel disetiap pintu yang berisikan nama-nama peserta yang tengah melaksanakan Ujian Nasional. Kemudian langkah Nayla berhenti, ia telah kelelahan berjalan-jalan ditempat ia berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Nayla memilih untuk duduk, dan membiarkan segala beban ia tumpukan pada tempat yang tengah ia duduki. Matanya mulai lelah menatap setelah beberapa menit duduk memandang sinar matahari yang mulai begitu menyilaukan mata. Nayla menarik tas yang berada dipunggungnya. Membuka perlahan, merogoh tasnya dalam-dalam. Ia mendapatkan handphoenya terselip diantara buku-buku pelajaran yang sengaja Nayla bawa. “I need something!”. Nayla perlahan membuka lagi tasnya yang telah ia tutup, mengambil sebuah kabel putih yang cukup panjang; headset kesayangannya.

Nayla mencolokkan perlahan kabel itu ketempatnya, meletakkan 2 benda yang bisa dibilang bulat itu ke dua buah telinganya yang tertutup jilbab. Menyentuh perlahan layarnya, hingga ia menemukan sebuah lagu pertama yang akan menemaninya menghabiskan waktu yang percuma. Rasanya Nayla tau komentar yang akan keluar ketika guru atau murid lain melihatnya sendirian disekolah, terutama karena Nayla adalah kelas 2 SMK.

Rasanya waktu memang berjalan begitu cepat ketika lagu mulai diputar, atau bahkan sebaliknya. Tak terasa sudah 3 lagu yang ter-play di handphoenya. Dengan ia sadari, dari kejauhan terlihat seorang gadis berjalan mendekati Nayla dengan imutnya dan kemudian duduk tepat disebelah kiri Nayla. Nayla mulai heran ketika gadis imut itu mulai bertanya, “Kakak ada apa datang kesini ?”. suaranya membuat siapa pun yang mendengar akan memperhatikan wajahnya. Gadis imut, berkulit putih mulus, senyum imutnya, nada suaranya, dan rambut panjang yang tergerai mempermanis penampilannya. Gadis ini memakai baju biasa yang membuat Nayla juga menanyakan hal yang sama dalam hatinya.

Dengan segera Nayla membuka headsetnya, dan menjawab pertanyaan gadis itu. “Kakak juga gak tau dek, lagi kangen sama sekolah aja!”. Gadis itu terlihat begitu tertarik untuk bercakap lebih jauh dengan Nayla dan melanjutkan lagi percakapan, hingga. “Kakak, gak enak ngobrol-ngobrol disini. Mending ikut aku yuk… gak enak dliat sama yang lagi ujian ka!”. Suara gadis itu membuat Nayla terhipnotis, rasanya sosok adik idamannya berada didalam diri gadis itu. “Aduh… aku bahkan belum tanya namanya!”. Celotehnya dalam hati.

Gadis itu menarik tangan Nayla dan merangkulnya seperti seorang adik merangkul kakaknya. Mereka berjalan perlahan menuju  sebuah ruangan. “Oh.. iya dek, nama kamu siapa ?”. Gadis itu menoleh kearah Nayla dengan manisnya karena memperlihatkan senyuman termanisnya, “Ah.. kakak Nayla gimana sih! Kita udah ngobrol hampir 1 jam loh, masa baru nanya nama aku sekarang”. Tingkahnya begitu imut ketika ia tertawa dengan menutup mulutnya. “Ya.. maaf dek, kakak baru inget”. Suara tawa kecil terdengar diantara mereka, “Sttt!! Kakak jangan berisik ada yang lagi ujian kan! Nama aku Melissa!”. Tanpa Nayla sadari ia telah dibawa oleh gadis imut Melissa ini ke sebuah ruangan yang tak pernah ia lihat.

“Ayoo kak duduk!”. Pintanya yang kemudian ia duduk tepat dihadapan Nayla. Dalam rangan kecil yang seperti rumah tersembunyi diantara bangunan sekolah yang sudah berumur. Mereka berdua duduk dilantai dengan santai. Nayla melihat sebuah meja dimana ia meletakkan tasnya, kipas angina yang berkali-kali menggelengkan kepalanya dan peralatan rumah tangga yang sederhana. Mereka bercakap-cakap kembali, membagi kisah, dan membagi pengalaman. Tanpa Nayla sadari datang sosok laki-laki paruh baya yang berjalan dibelakangnya dan duduk tepat tak jauh dari tempat dimana Nayla duduk. Laki-laki paruh baya itu ternyata ikut mendengar perbincangan yang berada diantara Nayla dan Melissa. “Mmm… Kakak lagi deket sama Kak Jingga ya ?”. Jantung Nayla berhenti. Mulutnya tanpa sadar mengeluarkan kata, “Hah?”. Melihat ekspresi Nayla yang menganga dan matanya yang terbelalak, Melissa terlihat tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Nayla terlihat sangat kaget dengan apa yang baru saja diucapkan Melissa, seolah sebuah panah menembus hatinya.

Melissa masih saja dengan tawanya yang tak berhenti, dan Nayla masih mencoba untuk menghentikan tawa Melissa. Tak lama kemudian tawa Melissa tiba-tiba berhenti, membuat Nayla merasakan 2 kali kebingungan yang berturut-turut. “Dia orangnya gimana Melissa?”. Tanya Nayla ketika ia mulai mengatur nafasnya. “Baik kok kak baik banget!”. Jelasnya singkat. Tatapannya mulai tajam ketika wajah Melissa mendekatkan wajah ke arah Nayla, “Owh.. iya ka, dia lagi deket sama seorang perempuan tau! Cantik, rambutnya panjang, putih, baik, ramah, perhatian pokoknya perfect deh”. Melissa menarik nafasnya panjang, dan melanjutkan lagi ucapannya. “Dan katanya mereka itu memang jodoh dan ditakdirkan bersama!”.  “Mmmm.. dan mungkin setelah dia lulus dia akan pulang kampung dan gak akan kesini lagi!”.

Jantung Nayla terasa berhenti berdetak, benar-benar berhenti. Darahnya berhenti mengalir, namun ada hal yang tiba-tiba begitu derasnya melebihi mengalirnya darah keseluruh tubuhnya; air mata yang tiba-tiba tergedang lalu kemudian jatuh dengan cepat. “Dek, kamar mandi dimana ? kakak kebelet ?”. Dengan terburu-buru Nayla bergegas pergi menuju toilet rumah itu, setelah Melissa menunjukkan arah dimana letak toilet berada. Jalannya setelah berlari, tak membiarkan orang yang pertama Nayla kenal melihat setetes air mata yang jatuh dari matanya.

Ia melihat wajahnya pada sebuah kaca yang terdapat didekat toilet, kaca yang terlihat tua. Namun ia melihat sebuah kesedihan yang sulit ia ucapkan, ia mencoba menghapus air matanya yang masih mengalir deras melewati pipinya. Hingga matanya mulai merah dibuatnya, nayla memasuki Toilet dan membasuhkan air kewajahnya berharap tak ada seorang pun yang tau bahwa ia telah menangis. Entah mengapa Nyla bahkan tak menyadari laki-laki paruh baya yang duduk didekatnya, beberapa menit yang lalu entah apa yang membuatnya begitu mengabaikan apa yang ada disekelilingnya.

Setelah rasanya cukup untuk membasuh wajahnya yang membuat jilbabnya sedikit basah, Nayla keluar dari toilet. Tak jauh dari itu ia melihat sesosok laki-laki yang begitu Nayla kenal dengan hanya melihat punggungnya. “Kak Ihsan!”. Ia melangkahkan cepat kakinya menuju sebuah meja dimana ia menyimpan tasnya tadi, bersamaan itu ia melihat sosok yang begitu ia cintai melangkah mendekatinya dengan berpura-pura membereskan sesuatu.

“Gimana sama kakak kelas yang namanya Kak Jingga itu? gimana dia bisa tau kalau kamu pake nama inisial?” sosok itu tepat berada disamping Nayla yang tengah mengambil tasnya dan memasangkannya tepat dipundaknya, dan berkata, “Dia itu kamu!”. Nayla bergegas keluar dari ruangan itu dengan air mata yang masih deras mengalir.


Entah kenapa kata
“Dan katanya mereka itu memang jodoh dan ditakdirkan bersama!”.
  “Mmmm.. dan mungkin setelah dia lulus dia akan pulang kampung dan gak akan kesini lagi!”.

Make the pain is so real for me, and when I woke up. I cried again. Like I never be created for youand you will go away~



Komentar