KARUNIA



Rasanya Aku tak cukup mengenalnya, tentu saja. Aku baru saja mengenalnya sebulan yang lalu. Tapi entah mengapa sepertinya dia adalah masa lalu yang kutemukan kembali untuk mengisi hidupku. Seolah dia adalah sesuatu yang sedang Aku butuhkan, datang diwaktu yang tepat dan Aku sangat-sangat mensyukuri itu. Dia adalah Kak Karunia. Memang sih namanya cukup aneh dan sangat langka, namun Aku tau dibalik namanya tersimpan sebuah harapan orang tuanya. Kak Karunia adalah sosok laki-laki yang umurnya 1 tahun lebih tua dariku dia tepatnya kelas 3 dan Aku kelas 2 SMK, kita satu sekolah dan entah mengapa Aku baru mengenalnya sekarang setelah hampir 2 tahun Aku bersekolah disana.

Perkenalan dimulai ketika tak sengaja percakapan terjadi ketika diadakan sebuah acara sekolah yang bertajuk seni. Aku menyemangati sahabatku yang tengah ingut lomba menggambar, tanpa Aku sadari Kak Karunia tepat disampingku yang ikut menyemangati sahabatnya. Entahlah Aku lupa bagaimana terjadinya yang tiba-tiba kita saling biacara, rasanya semuanya dimulai dari hal yang sangat-sangat kecil.

Kak Karunia yang tampangnya sangat dingin dan selalu berlagak sok cool ini memang banyak membuat beberapa orang terpesona karena, entah kenapa Aku selalu ingin tertawa ketika ia berlagak sok cool. Kak Karunia, sosok laki-laki yang sangat sederhana dan gak macem-macem ini terkadang menghampiriku dikantin ketika bell istirahat terdengar walaupun hanya sekedar menyapa dan menanyakan kabarku. Rasanya ia memang tipe laki-laki yang lembut, bahkan Aku belum pernah mendengarnya berbicara menggunakan nada tinggi.

Ia menemani hari-hariku walaupun tak selalu, lagi pula terkadang Aku malas untuk membalas pesan dari siapa pun. Ia selalu menelefonku ketika ia memiliki pulsa banyak dan ketika ia butuh seseorang untuk menemani malamnya.

“Kamu tau gak Dek ?”
“Engga Kak, Kakak kan belum kasih tau!”. Tawaku mencoba menghiburnya, suaranya terdengar sangat datar dan rendah.
“Kamu pernah liat saya senyum gak ?”.
“Mmm… Kak masih aja suaranya kayak gitu ? kenapa sih cerita dong ?”.
“Kakak nanya loh Dek, dijawab toh!”.
“Pernah Kak…”
“Berapa kali ?”. Masih datar dan rendah.
“Gak kehitung sih, Cuma senyumnya itu loh Cuma hitungan detik”. Aku berikan sedikit tawa.
“Kadang Kakak itu takut untuk senyum, bukannya gak mau ngasih kebahagiaan untuk orang lain dengan senyuman Kakak. Tapi Kakak Cuma mau orang tertentu aja…”
“Kak, are you okay ?”
“Dek… jangan pake bahasa inggris Kakak gak bisa”. untuk yang kedua kalinya ia menperdengarkan tawanya padaku.
“Abis kayaknya giamana gitu”. Aku pun ikut tertawa.
“Udah ya Dek, udah jam 10 nih. Kamu tidur sana ya.. Bye”

Belum sempat Aku berucap, ia katakan kata yang tak kuduga.

“Good night, have a nice dream”.


Ngomong-ngomong, ketika ia ucapkan senyumannya Aku teringat saat ia tersenyum padaku kemarin. Senyum yang begitu kaku, melekuk pada ujung bibirnya yang manis. Dan kalimat yang baru saja ia ucapkan dalam telefon membuat sesuatu rasa bergetar dalam hatiku. Mengingat senyumnya ketika Aku dan dia berkeliling kota dengan motor maticnya yang berwarna putih, melihat senyumnya dan tawanya ketika jingga senja menghiasi langit sore yang begitu indah.

Rasanya kini sudah berbeda, ada perasaan yang muncul ketika Aku dan Kak Karunia bersama. Entah harus disebut apa perasaan ini, tapi yang pasti Aku selalu nyaman bersamanya. Seolah sayap-sayapnya selalu memelukku dan menjagaku. Dan dia menjadikan Aku lebih baik lagi, ia mulai ajarkan Aku melihat dunia dengan mata tertutup dan dengan mata terbuka, ia ajarakan aku dewasa, ajarkan Aku tentang hal-hal baru yang membuatku banyak belajar, dan dia banyak membuat perubahan yang lebih baik dihidupku.

Hingga suatu hari, Kak Karunia mengajakku kesebuah tempat yang baru. Sebuah tempat yang dipenuhi ilalang panjang ketika jingga mulai muncul di angkasa, Aku dipenuhi dengan tanda tanya.

“Sebentar ya….”. Ia berjalan menjauh, mendekati ilalang dan lenyap dalam pandanganku.

Aku hanya diam dan menunggunya diatas motor meticnya yang berwarna putih. Tak lama kemudian Kak Karunia datang.

“Abis pipis ya ?”. Aku tertawa terbahak-bahak.

Ia masih berdiri didepanku dengan tatapan yang membuat jantungku berdetak, ia menggenggam tangan kananku perlahan sedangkan tangan satunya masih dibelakangnya Aku pun seketika terdiam.

“Mmm… Dek, akhir-akhir ini kamu tau kenapa Aku selalu ajak kamu jalan-jalan sore ?”.

Aku hanya menggelengkan kepala.

“Karen Kakak tau kamu suka langit sore yang jingga-jingga gitu, yakan ?”
“Kakak kok tau sih ? hahah iya Kak bener banget!”
“Kamu seneng kan ?”
“Senang banget ka!”.
“Kakak juga seneng Dek liat kamu senang, apalagi liat kamu senyum!”.

Ia ikut duduk disampingku menatap langit sore yang men-jingga, dengan tangannya yang masih menggenggam jemariku.

“Jika jingga mampu buat kamu jatuh cinta karena keindahannya, apa kamu mau cintai aku dengan kekuranganku ?”.

Aku terkejut ketika ia mengatakannya dengan nada rendah dan datar seperti suara yang kemarin aku dengar ditelefon.

“Aku tak mencintai jingga, aku hanya mengaguminya. Karena cinta, untuk saling melengkapi bukan ?”
“Mmm… jadi kamu mau cintai kekuranganku dan melengkapinya ? maka aku akan melengkapimu!”. Ia memberikan aku bunga yang ia ambil tadi dengan manisnya.
“Aku mau!”.

 Karunia yang begitu indah, ketika jingga dan ketika cinta kita menyatu. Kak Karunia terima kasih untuk semuanya, ini akan menjadi awal yang baik untuk Aku, Kamu dan Kita; aku selalu berdoa seperti itu. Dan untuk Tuhan, terima kasih untuk Kak Karunia dan untuk karunia-Mu ini, aku sangat-sangat bersyukur.

Komentar