See You Again #1




Hari yang terus berjalan kemudian menggunung dan menjadi sebuah tahun yang terlewati 4 tahun. Waktu yang cukup untuk melakukan hal-hal baru dan bermanfaat, kini langkahnya menuju sebuah gedung yang cukup besar yang rasanya hampir setiap hari ramai. Kakinya menyusuri koridor gedung, saat ini menunjukkan pukul 10:00 Pagi. Natasha mengatur langkahnya agar memelan ketika melewati keramaian sehingga ia tidak menabrak siapa pun, ia tengah dikejar waktu karena ia melewatkan waktu untuk menemui Dosen dan Crew-nya yang sudah menunggunya di Perpustakaan.

“Ayolah sampai, Ayo…!”. Teriaknya kesal dalam hati.

Kini kakinya mulai melangkah masuk perpustakaan juga dengan wajah-wajah kesal yang tengah menantinya, wajah Natasha begitu tegang dan mencoba memohon maaf atas keterlambatannya.

“Maaf.. maaf ya semua, tadi ada kelas dadakan jadi telat. Maaf ya…”. Ia menggeser bangku dan mengatur nafasnya.

“Jadi gimana Natasha untuk mading kita bulan ini ? Apa kamu ada beberapa ide yang bagus untuk mading kita ini ?”. tanya kemudian terlontar dari Pak Dosen Ridho yang dengan terburu-buru Natasha mengeluarkan sebuah buku catatannya yang berwarna merah dari tasnya yang telah ia letakkan diatas meja.

Akhir-akhir ini langkahnya sudah tak terhitung untuk mengerjakan mading yang sebentar lagi akan luncur, Natasha sebagai ketua dari Mading harus mencari tema mading yang kemudian akan dikembangkan oleh Crew-nya. Ia mencari Perpustakaan yang berada di kotanya, mencari-cari hal yang akan sangat begitu tertarik untuk dibaca juga menarik untuk mahasiswa lain untuk gabung dengan Crew-nya atau sebagai bacaan yang bermanfaat.

“Mmm…”. Masih mencari-cari ide yang telah ia catat.

“Kenapa Natasha ?”. Ucap Terre, salah satu Crew-nya penasaran.
“Gimana yah…. Gini loh, sebenernya ini classic banget sih bisa dibilang kuno banget tapi kenapa gak dicoba dulu yakan…!”. Mencoba membaca kembali tulisannya dibuku catatan berwarna merah itu.

“Apa Natasha ?”. Tanya Pak Dosen.

“Ide saya sih gimana kalau, kita terbitin puisi-puisi mahasiswa di kampus ini untuk dipajang di mading kita. Kita nanti sebarin e-mail kita maupun e-mail kita masing-masing untuk kemudian mereka bisa post karya mereka ke e-mail kita, kita pilah lalu kita cetak dan kita pajang. Karena mading kita bertepatan dengan gerbang masuk, maka lebih banyak yang baca, dan satu lagi ide saya. Gimana kalau mereka yang baca bisa men-Like tulisan itu. Gimana ? “.

Semuanya hening, membayangkan apa yang mereka bayangkan. Detak jantung Natasha berdetak cepat, dan berdoa dalam hati berharapp idenya diterima dan dilaksanakan. Melihat wajah-wajah yang berada dihadapannya membuatnya berharap banyak.

“Mia… Terre… Fina… Dio…. Vico… Pak Ridho… gimana ?”. Wajahnya penuh harap

“Yap… Kita proses semuanya…..!!!”. Seru semuanya yang kemudian bungkam ketika teringat dengan tanda “Dilarang Berisik” pada tembok perpustakaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Komentar