See You Again #2



Dalam mading yang masih kosong tersebut Natasha ditemani Crew-nya menempelkan selembar kertas dengan tulisan yang cukup besar agar terbaca dan menarik perhatian mahasiswa lain untuk melihatnya.  Jam menunjukkan pukul 13:00 siang, Natasha dengan santainya duduk di perpustakaan yang begitu sejuk dengan pendingin ruangan yang membuat rasa panas siang itu tak ia rasakan. Natasha duduk berkumpul dengan Crew-nya dan mencoba membaca e-mail yang mungkin saja sudah masuk dari beberapa mahasiswa yang menyimpan bakat mereka dalam sebuah folder pada masing-masing laptop mereka.
Jemarinya menarik panah menuju kotak masuk, berharap ada beberapa pesan yang masuk. Dan ternyata ada beberapa e-mail masuk. Crew-nya mendapat respon yang baik, dapat dilihat dari banyaknya yang mengirim e-mail juga puisi-puisi yang sangat bagus. Matanya mulai mengitari layar laptopnya, membaca tiap pesan e-mail yang masuk.
***
Matanya terbelalak ketika melihat jam dinding di perpustakaan menunjukan pukul 08:00 malam.

“Wah… sudah jam segini, pantesan udah rada sepi gini!”. Matanya mengitari ruangan Perpustakaan yang sudah mulai sepi.

Matanya masih kembali menuju layar laptopnya dengan sesekali mentap sekelilingnya yang sudah mulai sepi. Dengan sangat serius hingga ia tak menyadari beberapa Crew-nya berpamitan untuk pulang karena memang jam sudah menuju untuk malam yang begitu larut.

“Puisinya bagus-bagus juga yah… berbakat semua!”. Matanya masih sangat tertarik membaca puisi-puisi.

Hingga rasa ketakutan menghampiri, ketika ia sadar ada seseorang yang tengah memperhatikannya diseberang ia duduk. Laki-laki dengan jaket hitam dengan menggunakan headset, namun wajahnya tertutup buku yang sedang ia baca, dan juga ia merasakan hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu. Natasha mencoba mengubrisnya dengan memasangkan headset dan memplay sebuah lagu.

“Ihhh…. Siapa sih, horror banget ngeliatinnya gak usah gitu juga kali”. Ia masih merasa diperhatikan oleh sosok itu.
***


Hari tiap hari berganti, hampir genap 1 minggu.

“Gimana Natasha, gue sama teman-teman yang lain sudah dapet satu persatu puisi untuk kita terbitin Senin. Lo sendiri udah dapet ?”. Vico berkata.

Mereka sedang duduk berkumpul di meja yang biasa mereka pakai untuk berdiskusi hampir 1 minggu ini untuk mengecek puisi-puisi yang masuk. Mereka masing-masing sibuk mengecek e-mail yang masuk dimeja yang biasa mereka tempati, namun Natasha masih terlihat sangat sibuk membaca e-mail yang masuk.

“Tau nih masih belum ketemu puisi yang membuat aku tertarik banget, emang sih banyak yang bagus tapi rada gimana gitu!”.

“Natasha, kita tunggu kamu sampai jam 12:00 siang ini ya, setelah itu kita akan buat konsep pencetakan atau hiasan mading. Tapi lebih cepat lebih baik!”. Ucap Pak Dosen yang juga ikut memilah-milah e-mail yang datang.

“Kita tunggu di kantin ya!”. Ucap Dio, yang semuanya langsung bergegas menuju kantin.

“Ok!”. Jawabnya singkat dengan mengancungkan jempolnya tanda setuju.

Natasha menoleh pada jam tangannya yang menunjukan pukul 10:00 pagi, dan kembali menatap layar laptopnya dengan sangat serius. Matanya menambahkan focus pada salah satu bacaan, matanya tak pernah lepas dari laptopnya. Natasha segera mengeluarkan buku catatannya yang berwarna merah juga sebuah pulpen. Ia memperhatikan baik-baik nama pengirim dengan puisi yang hampir mencuri perhatiannya dan kemudian menuliskannya pada buku catatannya, setelah itu matanya kembali releks dan mencoba menarik nafas panjang. Rasanya tubuhnya mulai remuk ketika terlalu kaku untuk terus menerus menatap layar laptopnya, kemudian tiba-tiba ia melihat sepucuk surat yang terselip didalam tasnya yang berada tepat disamping laptopnya.

Jemarinya perlahan mengambil surat itu dan membukanya, dan matanya yang berbinar membaca tiap baris tulisan tersebut.

“Puisi…”. Ucapnya perlahan dalam hati sembari membaca rangkaian kata yang tertuliskan pada kertas berwarna pink.

Natasha terdiam, perlahan tangannya melipat kertas itu dan menyimpan kembali kertas itu didalam tasnya. Seolah ia pernah melihat dan mendengar 4 baris itu dibacakan oleh seseorang. Ia mencoba mengingat-mengingat kembali, namun sulit; sudah terlalu lama.

“Puisi ? hanya 4 baris ?”. tanyanya dalam hati.

“Mana mungkin puisi ini dipajang dimading!”.

Tak disangka jam sudah menunjukan pukul 12:00 siang, dan seperti perjanjian Natasha harus sudah memiliki puisi yang ia pilih sebagai salah satu puisi yang akan dipublikasikan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~



Komentar