See You Again #3



Keesokan harinya.

Senin.
 
“Hufttt… selesai juga!”.

Natasha dan Crew-nya menatap dinding mading yang telah dihias indah beserta pusi-puisi terbaik yang masuk dalam e-mailnya. Tentu saja mereka datang pada pukul 06:00 Pagi agar mading mereka dibaca juga dapat nilai oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang membacanya.

Setelah semuanya selesai mereka pergi ke kantin dan merayakan semuanya bersama dengan sarapan pagi yang penuh semangat, sudah terlihat beberapa mahasiswa yang datang, berarti mading sudah dibaca oleh para mahasiswa yang masuk melalui lorong utama. Senyum dan tawa menjadi hadiah untuk mereka yang berhasil menjalankan tugas ini.

Waktu berlalu sangat cepat ketika waktu itu diisi dengan kebersamaan, kekeluargaan dan cerita-cerita menarik. Natasha tanpa sengaja melihat jam tangannya, yang ternyata telah menunjukan pukul 09:30 pagi, yang seperti biasanya ia harus segara menuju perpustakaan untuk mencari bahan untuk tugasnya.


“Guys… thanks ya untuk kerja samanya sampai semuanya selancar ini, oh ya aku harus kembali ke Perpustakaan untuk selesaiin tugas ya..”. Mengambil tasnya dan kemudian beranjak dari tempat duduknya.

“Ia Natasha hati-hati ya, makasih juga untuk kerja samanya”.Crew-nya berteriak.

Waktu berjalan dengan sangat cepat, kali ini jam sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi seperti biasanya kini langkahnya menuju perpustakaan.

“Gimana ya madingnya, apa banyak yang baca ?”. kakinya melangkah pada lorong.

Hatinya tertarik untuk melihat perkembangan madingnya, kakinya berubah haluan merasa tertarik oleh hasil kerja kerasnya. Matanya melihat dari kejauhan, segerombolan mahasiswa mengerubungi mading  dan tanpa ia sadari senyum mengembang membuat pipinya semakin terlihat mengembung. Natasha lanjutkan lagi langkahnya untuk lebih dekat dengan mading.

“Bagus deh banyak yang suka, lagi pula siapa tau ini cara untuk mempelajari prosa lama”.
Melihat lekat-lekat mading yang dipenuhi mahasiswa dari beberapa jarak.

Beberapa mahasiswa yang membaca mulai berpergian dan memberi ruang untuk melihat hasil karya yang satu persatu temannya mewakilkannya lebih dekat. Natasha beberapa kali melihat sepintas beberapa karya itu, hingga ia terpana pada sebuah puisi yang membuat banyak tanya pada pikirannya. Bahkan tangannya ikut main diatas kertas yang berbeda sendiri itu. dengan tulisan tangan juga beberapa goresan tipis pulpen.

“Ini, berbeda. Bukannya semuanya print out bukannya tulisan tangan ?”. ia membaca semua baris puisi yang ada.

“Engga mungkin, engga!”. Ia menggelengkan kepalanya kemudian menjauh secepat mungkin dari tempat itu, hingga ia menabrak seseorang yang berada dibelakangnya dan kemudian melanjutkan perjalanan yang teralihkan itu.

“Mana mungkin. Engga mungkin! Kenapa tadi harus kesana?!”. Omelnya dalam hati.

Udara dingin Perpustakaan terasa ketika pintu Perpustkaan dibuka oleh tangannya yang masih begitu menyimpan kesal, ia langsung beralih duduk pada bangku yang biasa ia tempati. Amarahnya yang memuncak meledakkan rasanya yang malah berubah menjadi penasaran yang menyebar pada lereng-lereng hati dan pikirannya. Tangannya segera mengeluarkan laptopnya dari tas, segera membukanya dan melanjutkan tugasnya yang belum selesai. Ketikkannya memelan ketika ia teringat dengan kertas puisi itu. dengan keyakinannya ia mengambil kertas itu yang sempat ia simpan ditasnya.

Membaca kembali, dan berulang-ulang juga melihat lekat-lekat tulisan yang berada dikertas itu.

“Itu kan…. Terbitannya Terre, dia pernah bilang sama Dio!”. Natasha segera mengambil handphonenya yang berada disamping laptopnya.

“Halo, Terre! Bisa ke Perpus ? Aku mau tanya sesuatu!”.

“Natasha...”. ucapannya terputus.

“Segera!”. Ucapnya cepat dan segera menutup telefonnya.

Hatinya dipenuhi perasaan penasaran. Tangannya tak henti menghantam meja perlahan, berdiri dan kemudian duduk lagi. Kemungkinan terlalu banyak ia pikirkan membuat Natasha hilang fokusnya untuk melanjutkan kembali tugasnya. Beberapa menit Terre datang. Natasha langsung menyambutnya untuk segara duduk bersamanya di satu meja.

“Nat… ada apa sih?”. Tanyanya dengan wajah yang kebingungan.

“Terre, puisi yang beda sendiri itu punya kamu kan ?”. matanya melebar seolah siap untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.

“Iya, memangnya kenapa  ? salah ya kalau itu beda sendiri?”. Wajahnya terlihat sangat penasaran.

“Siapa yang menulis itu ? punya kontaknya kan ?”. Memohon dengan sangat kepada Terre yang masih kebingungan.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Komentar