See You Again #4



Natasha melangkahkan kakinya. Hari ini sudah pukul 10:00 pagi, seperti biasanya ia akan melangkah menuju Perpustakaan. Dikepalanya masih berputar-putar puisi yang membuatnya termenung, juga penjelasan dari Terre tentang puisi yang ia terbitkan. Ia berjalan seolah ia berputar dalam pikirannya.
Ia menggeser kursi yang akan ia duduki, dan langsung duduk termenung mengingat kata-kata yang sempat diutarakan Terre tentang laki-laki yang menulis puisi tersebut.

“Jadi bagaimana ceritanya ?”. tanyanya penuh dengan perasaan tanda tanya.

“Entahlah, dia memakai masker dan berjaket hitam dan juga memakai helm karena kebetulan kita bertemu di tempat parkir!”. Mencoba menjelaskan apa yang Terre ketahui.

“Mungkin dia gak mau siapa pun tau dia itu siapa, lalu dia bilang apa aja ?”. tanyanya penuh rasa curiga.

“Dia tingginya segimana ? warna kulitnya ? dia kuliah apa ? gimana dia bisa tau lu Re?”.

“Memangnya kenapa sih Sha ?”. Terre pun ikut bingung ketika Natasha selalu mengutarakan pertanyaan yang berlebihan.

“Dia bilang apa aja ?”.

“Dia bilang sih, tolong publikasiin itu puisi soalnya ada seseorang yang membuat dia selalu merasa bersalah. Jadi yaudah gue publikasiin lagi pula puisinya juga emang bagus!”.

Kepalanya terasa sakit, berputar-putar pada kemungkinan yang membuatnya begitu pusing. Semuanya tak bisa ia pungkiri seolah ini adalah kejadian yang membuatnya kembali pada masa lalu. Ciri-ciri yang disebutkan Terre membuatnya tak henti-henti membayangkan sosok sang penulis puisi tersebut, membuatnya tak sabar ingin menemui sosok yang membuat hatinya bergetak ketika membaca puisi tersebut.
“Duh….. kenapa lagi? Butuh refreshing ini!”. Rasa kesal yang menyelimutinya.

Ia mengambil tasnya yang berada diatas meja dan kemudian berjalan keluar dari ruang perpustakaan, kali ini ia melangkahkan kakinya menuju taman yang berada di lingkungan Universitasnya. Kakinya melangkah seolah ia berharap menemukan tempat yang tepat untuk membuat perasaannya membaik. Jarak taman tak terlalu jauh membuatnya tak perlu kelelahan, dari jauh ia sudah mendapatkan tempat yang cocok. Sebuah kursi yang tepat berada dibawah rindangnya ranting pohon yang dihiasi hijaunya dedaunan. Didepannya tepat berada sebuah kolam air mancur kecil yang membuat pikirannya sedikit teralihkan.
***

Natasha duduk tepat dibawah rindangnya pohon, menikmati udara sejuk yang sebentar lagi akan berubah menjadi udara yang panas. Ia masih penasaran dengan puisi yang mengingatkannya dengan sesuatu, ia perlahan menarik nafasnya panjang, juga perlahan mengeluarkan secarik kertas yang membuatnya bingung. Ia baca sekali, dua kali, dan berkali-kali. Menghayati setiap kata yang terucap pada bibirnya.

Empat tahun bukan waktu yang sebentar
Ketika berkali-kali musim berganti
Aku bukan lari
Aku hanya mengikuti air yang mengalir

Ia melipat kembali kertas itu dan menyimpannya ditasnya, ia butuh pengalihan, ia kemudian membuka laptopnya. Dan ternyata ada sebuah e-mail dari Terre.

Natasha,
Orang itu membujuk gue untuk kirim ini, entah dia pengecut atau memang pemalu.

Tepat 4 tahun berlalu ketika aku meninggalkanmu, maafkan aku. Mungkin aku terlalu bodoh untuk meninggalkanmu padahal saat itu aku tau kau membutuhkanku. Semuanya terlanjur jauh dan lama, dan itu yang membuatku terlalu takut untuk mendekat karena memang sebelumnya jarak kita sangatlah jauh. Maafakan aku, seandainya waktu dapat mengajari dengan cepat bagaimana mendekatkanmu mungkin aku akan berani untuk sekedar menyapamu.
Aku harap masih ada waktu…..
Do.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Komentar