See You Again #5



2 bulan berlalu setelah tidak ada kabarnya dari Donny, Natasha tidak diam saja. Ia berlari dan mencari-cari kejelasan dari kepergian Donny yang hilang begitu saja. Pergi ke kakak-kakakannya, pergi ke rumah sahabat Donny, saudaranya Donny dan semuanya yang berkaitan dengan Donny.

“Natasha, yang gue tau dia itu pergi ke Amerika sama keluarganya. Pas itu dia cerita kalau dia belum tentu balik lagi ke Indonesia, dan dia gak berani bilang ke elo, karena dia takut buat elo sedih dan membebani lu karena waktu itu bertepatan sama Ujian Nasional.” Ujar salah satu sahabat kecil Donny.

Air matanya menetes membasahi pipinya, seolah tak ada satu pun yang dapat menghentikan deras air matanya. Hatinya penuh sesal dan sesak, ia ingin menangis sejadi-jadinya tapi itu terlalu sulit ada sebuah alasan yang membuatnya memang harus tegar.

“Do, aku udah lulus. Aku senang banget lulus denga nilai yang bagus, dan sekarang aku harus berjuang untuk dapat Universitas yang bagus. Aku pengen cerita banyak, aku pengen bagi kebahagiaan aku. Tapi kamu gak ada….”. Air matanya jatuh ketika ia melihat bulan dari kaca jendela kamarnya
***

“Sudah 4 tahun yang lalu, aku tentu gak melupakannya tapi seiring berjalannya waktu itu memang sudah sirna. Aku belajar untuk focus sama cita-cita aku, walaupun selama 2 bulan itu aku lelah cari kabar kesana kemari karena aku sudah yakin tak ada yang bisa diharapkan, semuanya yang berhubungan dengan kamu hilang gitu aja; gak ada sama sekali yang tersisa.”.

Ia menyimpan kembali laptopnya, mencoba menghapus air matanya. Perasaanya bercampur aduk seolah semuanya menjadi satu dalam satu tempat yaitu hatinya. Sudah beberapa kali ia mengelak namun lagi dan lagi ia tidak bisa dan menyerah ada air matanya yang kemudian jatuh.
Jantungnya terasa berhenti sejenak, dadanya sesak dipenuhi kengangan yang kembali muncul ketika seseorang kembali muncul. Donny adalah kekasihnya ketika Natasha masih berada di tingkat paling akhir masa SMA-nya. Donny yang harus pergi dikarena kan ia harus pindah keluar negeri karena tuntutan pekerjaan Ayahnya, ia tidak pernah bilang. Donny tak pernah bilang kalau ia harus pindah keluar negeri bersama keluarganya, ia tak pernah bilang kalau dia akan kembali lagi.

“Do….?”. matanya berbinar setelah melihat sebuah inisial nama yang pernah ia kenal pada baris terakhir.

“Donny ? kamu balik lagi ke Indonesia ?”. Kini tidak diragukan jika ia matanya mulai membasahi pipinya yang chubby.

“Dia gak bilang dia pergi, dia gak bilang pergi kemana, dia hilang begitu saja!”. Hatinya mengomel.

Ia membawa tasnya, berjalan cepat mencari Terre yang sepertinya berada di kelasnya. Berjalan membawa beratnya perasaan yang membebaninya, matanya pun masih merah sembab. Natasha berjalan menunduk berharap tak ada seorang pun yang melihatnya bersedih. Kakinya berjalan, ia melewati persimpangan yang menyatukan 3 koridor. Ia melihat sosok yang sedang berjalan melewatinya, sosok yang pernah mewarnai hidupnya. Ia tidak lupa, ada hal kecil dari sosok itu yang membuatnya selalu ingat, wajah itu tidak berubah jauh masih ada wajah yang dulu ia cintai.

“Donny…..!”. panggilanya dalam hati.

“Apa itu tadi Donny ? disini ?”.  Natasha hampir tak percaya apa yang telah ia lihat tadi, seolah bayangan yang terasa begitu nyata lewat dihadapannya.

Ia kembali melangkahkan kakinya, menuju apa yang sedang ia  tuju. Ia menemukan Terre dikelasnya. Ia berlari dan langsung memeluk Terre tanpa bisa  membendung air matanya ia bahkan tak perduli ramainya kelas Terre.

“Terre!”. Teriaknya kecil dan langsung memeluk Terre.

“Kenapa Sha ? kenapa nangis gini ? duduk.. duduk..!”. Tanyanya keheranan.

“E-mail yang lo kirim, inisial “Do” itu. Dia yang selalu gue ceritain ke elo, dia Re!”.

“Dia ? kalau dia itu yang lo maksut gue harus samperin dia, tega-teganya dia perlakuin lo kayak gitu!”. Terre hampir beranjak dari kursinya.

“Jujur aku kangen banget sama dia Re, aku cuma gak siap ketemu dia lagi yang udah lama banget hilang dari kehidupan aku, aku belum siap Re…”. Air matanya tak berhenti jatuh.

“Udah-Udah, sekarang lo harus biasain lagi dia hadir dalam hidup lo, karena dia kuliah disini!”.

Tentu waktu tak akan bisa berhenti, sekali pun kita memohon. Karena waktu adalah dirinya sendiri yang hanya diciptakan untuk terus berjalan dan berhenti sesuai dengan apa yang diperintahkan-Nya. Natasha mencoba membiasakan diri walaupun beberapa kali dia harus kalah karena ia tidak sanggup dan menangis. Setiap pertemuan akan berarti dan penuh tanda tanya.


Komentar