Hujan, 21 September 2015



Untuk pertama kalinya lagi langit terlihat sangat mendung, gelap dan tidak ada harapan lain selain adanya Hujan yang sebentar lagi turun. Semuanya tak akan menyadari itu ketika mereka lupa harus menengok kearah jendela yang dapat memantau dunia ini, namun sering kali tertutupi atau bahkan terabaikan. Sekali pun rumah adalah tempat teraman namun ada waktunya untuk pergi sementara.

Dedaunan bergoyang, spanduk yang tergantung terguncang dan debu menari-nari, berputar langit. Dan aku hanya diselimuti harapan agar hujan tak membasahi apa yang aku sebut adalah ‘Hidupku’. Gerbang masih belum juga terbuka, menunggu perintah dari bell yang berbunyi keras perlahan membuka gerbang yang didorong oleh satpam baru.

Aku melihatnya di kerumunan sepeda motor yang berjejer tak rapih itu, tapi apa dia melihatku diantara kerumunan itu ?. Apa dia yang diluar sama ingat dengan orang yang hampir kehujanan ini ? Apa dia salah satu orang yang dipikiranku memikirkan aku di salah satu pikirannya ?. Mengapa sekalut ini, seolah mengambil satu butir debu yang terbang bebas dilangit.

Rasanya kerumunan itu menyadarkan betapa sendirinya aku, betapa banyak masalah yang menggencatku, mencekikku dan mempersulit aku untuk berjalan. Namun aku sadar mereka dan semuanya yang terjadi padaku adalah apa yang sudah ditakdirkan, sudah dituliskan untukku dan aku harus menjalaninya dengan apa yang aku bisa dan aku mampu walaupun terkadang hal-hal itu membuatku ingin mati.

Nafasku sudah tak beraturan, langkah kaki sudah tak tertahan lagi ketika bell itu telah membuka gerbang. Tujuanku hanya satu; Pulang. Entah kemana aku harus pulang, tapi rasanya aku ingin sekali tidak merasakan hujan ini; tapi aku merindukannya. Langkahku dipercepat walaupun kakiku masih terasa sakit tapi apalah rasa sakit itu ketimbang aku harus mengulur waktu. Aku membawa jika keduaku  “Notebook” yang harus aku lindungi pula, ketika aku sadari tetesan itu mengenai dahiku.

Lampu merah diatas sana masih menghitung mundur, dan begitu pun rintik hujan yang semakin banyak turun. Gelap, ramai, riuh, kacau, buyar semua pikiranku. Lampu hijau menyala. Namun mobil berwarna biru muda itu membuat semuanya semakin kacau, bertambah gelap, sumpek dan nafasku masih belum normal begitu pun detak jantungku.

Rasa itu memang masih ada namun lagi-lagi aku harus menghiraukannya, menyangka ada beberapa orang yang masih mau membangkitkan si lemah ini untuk terus jalani hidup.  Hujan semakin deras, jantungku semakin terpacu cepat. Hujan ini masih terus turun ketika aku sadari masih ada jalan yang harus aku lewati dengan berjalan kaki.

Sekarang bukan Cuma dahi, tapi kepala, tubuhku dan kakiku yang kemudian sebentar lagi akan jadi semuanya; basah kuyup. Lalu apa aku harus berjalan santai dan menikmati sakit dan kesendirian ini ? No!. Aku akan sakit, aku akan semakin sakit. Dengan rok sepan ini aku mencoba lari, lari sebisaku untuk keluar dari hujan ini. Aku teringat oleh jiwa kedua ku yang bila kehujanan ia akan sakit dan tidak ada lagi yang menemaniku.

Aku mencoba membuka almamaterku untuk melindungi tas, walaupun aku tau ini bodoh aku mencoba melindungi si ‘Notebook’ tanpa berfikir dengan diriku sendiri. Seperti setiap perjalanan yang ada didunia ini, dimana aka nada tempat pemberhentian sebelum semuanya diulang kembali. Hanya beberapa langkah lagi aku akan sampai di garis finish untuk hari ini, dengan baju yang basah.

Hujan Senin 21 September 2015, mengajarkanku banyak pelajaran yang tersirat.

Komentar