IF I KNOW - #1 When I Know The Words Can Touch My Heart



Hari ini sama seperti hari biasanya, yang berbeda hanyalah saat ini langit terlihat sangat mendung. Untung saja aku dan saudara perempuanku telah pulang dari mall setelah aku menemukan buku yang sebenarnya tidak ingin aku beli. Aku langsung membukanya, ketika aku melihat jam dinding yang telah tua itu menunjukkan pukul 4 sore.  Buku Kahlil Gibran yang sebulan lalu aku inginkan telah habis dan aku lupa judulnya, aku pun membeli buku dengan tema yang berbeda dengan judul yang sama yaitu Kahlil Gibran dengan tulisannya yang indah.

Sampul manis yang terlihat simple, yang berhiasi sepasang merpati yang terbang dan sehelai sayap merpati yang jatuh. Aku mengetahui namanya ketika aku mendengar berita bahwa Dia adalah pembuat pusisi dan kata-kata yang indah dan ternyata memang benar, tulisannya mampu membuat hatiku bergetar meresapi setiap kata yang tertuliskan. Perasaanku mulai tersentuh, diajak, larut dan kemudian diombang-ambingkan dengan penuh perasaan.

Kahlil Gibran yang menuliskan sebuah kata-kata yang pastinya tidak asing lagi, yaitu “Sayap-Sayap Patah” yang sepertinya sudah mendunia ini, sangat membuatku begitu mengerti arti cinta yang sesungguhnya, kekuatan dari cinta dan keikhlasan dalam cinta.

Hatiku sungguh tergetar, seolah semuanya dapat aku rasakan begitu dalam. Rasanya kata-kata itu benar-benar membuatku sangat tersentuh, dan aku menyadari kata-kata memang sungguh dapat mengetuk hatiku. Bukan berarti tindakan tak berarti, malahan tindakan adalah tindakan kedua ketika kata-kata telah dikeluarkan secara jujur atau dapat juga sebaliknya. Tapi, apakah frekuensi ketukan itu sama pada tiap hati manusia ? apakah ada hati yang tidak dapat diketuk ?. Semudah inikah hatiku terketuk oleh kata-kata yang bisa saja hanya sebuah kata tanpa makna dan tindakan.

Sebelum aku membeli bukunya sudah beberapa kali aku memasukan namanya pada kolom perncarian pada tampilan awal  Google, membaca beberapa karyanya yang termuat disana ketika mesin pencari itu sudah menunjukkan beberapa hasilnya. Aku begitu tertarik dengan kata-kata, begitu pun tulisan yang aku buat, tapi punyaku masih belum ada hasilnya.

Mungkin dia adalah salah satu orang yang menginspirasiku untuk mulai menulis puisi-puisi yang aku tuliskan ketika aku sedang ingin membuat puisi, atau saat tiba-tiba ide itu muncul. Mungkin kata-kataku tak se-magic yang aku bayangkan, rasanya tak dapat mengetuk, mengusap atau bahkan mendobrak. Rasanya kata-kataku hanya angin lemah yang tak dapat menggetarkan sesuatu. Tanpa aku sadari kamarku terlihat mulai redup oleh cahaya mentari, aku segera bangkit dengan terus menggenggam buku kecil itu dan menyalakan lampu yang menjadi penerang ruangan yang kemudian menjadi cukup terang untukku membaca kembali.

Komentar