IF I KNOW - #2 Belajar Dari Hal Yang Tak Terduga







Mungkin ini sama seperti hari-hari sebelumnya, sekolah masih sepi oleh anak siang yang kebetulan anak pagi juga memang belum pulang karena memang bukan waktunya. Aku bersama Siska, teman tercantikku yang sejak 5 tahun ini selalu dekat dan selalu bersama ku. Aku tau sifatnya, kebiasannya dan kehebatannya bahkan rasanya aku selalu kalah dengannya bila bersangkutan tentang hidup terutama menyangkut masalah cinta, dia adalah yang paling berpengalaman.

Siang ini seperti biasanya, aku paling gak betah kalau harus dirumah tanpa pekerjaan. Aku dan Siska pasti memilih datang kesekolahan lebih awal, dan menjadi alasan lainnya juga adalah karena jika siang sang raja siang akan sangat menunjukkan kekuatannya terlebih saat ini adalah musim kemarau.
Aku bersamanya duduk, didepan perpustakaan sekolah. Cukup teduh karena kebenaran pohon lebat didepan kami menghalau panasnya matahari. Kami lebih banyak diam jika saat berjalan, kami lebih banyak bicara jika sudah ada tema pembicaraan juga pada saat duduk-duduk santai seperti pada saat ini.
Aku teduh jika melihat wajahnya, iya, wajah ke-Ibu-annya itu, banyak yang bilang juga begitu. Selain cantik, manis, dia juga tegas, konsisten juga ramah dan yang paling utama dia itu adalah seorang yang setia. Tapi akhir-akhir ini dia berubah, bukan jadi lebih buruk ya, tapi berubah menjadi lebih hebat lagi, dia sekarang lebih berani lagi mengutarakan pendapatnya, keinginannya dan juga apa yang ingin dia perjuangkan.


“Gimana semalem ?”. Tanyaku penasaran
“Ya.. gitu, dia menyebalkan!”. Jelasnya dengan wajah yang terlihat kesal.
“Tapi senangkan, dia udah balik lagi seperti semula ?”. Aku menggodanya, agar dia tertawa. Berhasi!
“Iya sih… tapi siapa yang gak kesel dikerjain kayak gitu, rasanya itu mau nonjok dia tau!”. Sekarang tawanya makin menaik.
“Bagus deh kalau gitu”.
“Bener juga katamu, dia itu mau lihat batas kesabaran aku sampai mana!”.Jelasnya
“Iya, iyalah…. Dalam sebuah proses butuh kenyataan yang harus di tes”. Aku ikut tertawa.


Akhirnya aku melihatnya tertawa, karena hari sebelumnya Siska mengaku telah menangis karena saking tak kuatnya menahan perasaannya, aku sangat bersyukur memiliki sahabat yang seperti dia. Kesabarannya dan keteguhan hatinya mengantarkannya kepada kebahagiaan yang dia impikan dengan pacarnya. Sungguh aku tak tega jika harus mendengar pengakuannya kalau Siska menangis lagi, maaf juga sebenarnya pacarmu melarangku untuk tidak mengatakan bahwa sebenarnya Izan pacarmu itu sebenarnya mengerjaimu hingga kamu menangis. Kalian pasangan yang sangat manis!.

Aku mengenalnya sudah 5 tahun, terkadang sulit ditebak gimana sikap satu sama lain. Tapi pasti saja ada yang membuat hal kecil menjadi masalah yang cukup penting yang terkadang juga sering diabaikan. Tak terasa suara azan zhuhur melangkahkan langkah kami menuju mushola kecil yang berada disekolah untuk segera melaksakan sholat. By the way, Siska adalah orang kesekian yang aku kagumi yang baru ini aku sadari karena dia menginspirasiku untuk terus menjadi diri sendiri dan mensyukuri apa yang aku miliki saat ini.



 *menghilang menuju tempat wudhu setelah melepas sepatu yang menyimpan tas

Komentar