IF I KNOW - #4 When I Meet You (agian)




Tanpa aku rasakan getaran bell itu menembus ruangan kelasku dan juga semua ruangan kelas yang berada dikelas ini. Aku kelas 10. Setelah mendengar suara itu semua siswa-siswi bersiap untuk keluar dari kelas, namun aku menyimpan perasaan ragu, nafsu makanku hilang untuk beberapa menit dan tiba-tiba datang kembali. Namun aku ingin makan bubur ayam kantin yang tentu saja jarang atau bahkan tak pernah aku beli sama sekali. Aku meminta Siska untuk mengantarku setelah ia datang kembali dari kantin sekolah bersama teman kelasku yang lain. Untung saja dia mau mengantarkanku. Dan aku baru sadar ini adalah hari Rabu dimana dia akan latihan futsal gabungan dengan futsal sekolahku, aku pasti akan bertemu dengannya, tapi aku tak mungkin mengabaikan rasa laparku ini. sejuta perasaan menggelembung dengan hal-hal buruk yang sebentar lagi akan meledak.


Harus aku jelaskan terlebih dahulu, mengapa aku begitu takut dengan orang tersebut. Iya takut, tapi bukan takut yang seperti biasa, aku hanya tak ingin jika bertemu dengannya akan menambah rasa yang tak ingin aku rasakan lagi. Er mungkin bukan musuhku, tapi kami seperti bermusushan. Tapi dia adalah sahabatku sekaligus mantanku tapi apakah bisa dibilang pacaran jika pada saat itu kami hanya berpacaran 3 hari ?.Er  sangat baik, hanya saja aku yangjahat, tapi aku masih mencintainya pada saat itu , bahkan hingga sekarang. Maafkan atas kelabilanku pada saat itu, masa SMP  dimana semuanya yang ada pada saat itu masih belum bisa aku pahami dengan baik dan tentu saja emosi, keegiosanku belum stabil membuat aku mudah memutuskan sesuatu. Maafkan aku Er. Dan alasan aku mengapa aku menjauhi dia adalah, aku malu telah mencurangi dia, aku malu jika perasaan ini tumbuh lebih besar ketika aku memutuskannya, aku takut jika aku aku harus mengakui bahwa aku masih mencintainya bahkan sulit melupakannya. Padahal seharusnya aku tidak perlu begitu terutama menjauhinya, terutama kita adalah sahabat. Membuat persahabatan ini semakin jauh dan jauh lagi antara aku dan Er, membuat Er begitu bingung dengan apa yang sedang terjadi padaku karena telah menjauhinya. Padahal sudah jelas ia butuh penjelasan dariku.

Jantungku mulai berdegub dengan cepat, membuat aliran darahku rasanya dipompa dengan cepat keseluruh tubuhku. Semoga tidak ada Er, Semoga tidak ada Er!!! Aku hanya berharap aku  tidak bertemu dengan Er atau Er tidak latihan hari ini di sekolahku. Namun hanyatanya aku melihatnya sedang latihan, membuat aku semakin ingin cepat-cepat membeli bubur dan kembali ke kelas, tapi apa dayaku ternyata keramaian anak-anak membuat aku sulit berjalan dengan Siska. Namun pandanganku tak pernah terlepas darinya, aku sadar pada saat itu Siska pasti sangat bingung dengan sikapku yang aneh terutama aku menggenggam lengannya cukup kencang. Aku gagal hilang dari pandangannya, malahan ia bergerak cepat untuk tepat berada didepan pandanganku, Gawat !! Dia semakin cepat dan semakn dekat lagi !, aku sudah mencoba menjauh namun aku gagal, benar-benar gagal. Sebelum benar-benar tepat berada dihadapanku dia memanggil namaku beberapa kali.

Sekarang dia tepat berada didepanku, ia membungkuk dan mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Aku hanya bisa diam begitu pun Siska. Aku semakin bertingkah tak karuan ketika bebrapa kali ia menatapku, aku bingung harus melakukan apa, aku melihat Siska yang malah tersenyum dan mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya kenapa aku  menghindari orang itu. Dia sudah mendapatkan nafasnya yang teratur, ia mengacahkan kedua tangannya dipinggang.

“Pulang sekolah aku tunggu!!!”. Dengan wajah yang kelelahan, dan kemudian berlalu pergi melanjutkan latihannya.

Aku terdiam menatap wajah yang tadi ia tempatkan disana, seolah aku tak percaya atas apa yang telah ia ucapkan padaku. Jantungku rasanya berhenti berdetak untuk beberapa saat!. Siska menyadarkanku untuk segera membeli apa yang inginkan, sekarang wajah oriental Siska terlihat tersenyum dari sudut bibirnya yang menyudut.
“Ada apa sama Er ? Ada masalah sama Er ?”. Tanya Siska yang tangannya masih cukup keras ku genggam.
Kami hampir sampai di tempat penjual bubur ayam disekolahku, cukup ramai. Hanya dengan beberapa langkah kami sampai.

“Bang….Buburnya satu dimangkok ya!”. Aku memesan. “Adalah pokoknya, masalah itu loh yang pernah aku ceritakan padamu”.
“Baguslah kalau masalahnya, mau diselesain mah!!”.

Tanpa kurasa jam sudah menunjukkan pukul 05:30 sore, sebentar lagi jam pulang akan tiba. Aku semakin cemas membayangkan apa yang nanti akan terjadi antara Aku dan Er. Aku semakin gelisah, ketika bell pulang berbunyi cukup kencang seolah bell itu meledekku yang akan bertemu dengan Er sore itu. Aku semakin lemas, ketika mellihat isi kelasku berkurang karena sudah saatnya pulang, aku hanya perlahan berjalan keluar kelas.

Tentu saja aku ragu akan soal ini, dia hanya berkata tapi apa mungkin ia membuktikannya dengan nyata?.Aku berjalan menuju gerbang sekolah bersama Siska yang masih tersenyum dalam diamnya, aku tak dapat menebak apa yang tengah  dipikirkan Siska tapi aku tau dari sikapnnya yang terlihat senang jika aku bertemu dengan Er dan memperbaiki semuanya. Itu menurutku. Aku dan Siska telah sampai digerbang hitam yang lumayan tinggi.

“Aku pulang sama Izan kok, tenang aja…”. Siska menyentuh lenganku dengan lembut “Hati-hati ya…”.
Aku tentu dapat melihat kebaikkan dalam mata Siska, Siska mengetahui kalau saat itu aku sangat-sangat gugup. Setelah itu Siska melangkahkan kakinya menuju Izan yang berada di parkiran sekolah, setelah Siska menghilang dari pandanganku seolah ketakutan itu datang lagi tapi juga ada rasa untuk tetap melangkahkan kaki ku menuju Er.

Aku melihatnya disana…..

Komentar