CRIME #01



Pada jam 02:00 malam saya mendapatkan telefon dari kepolisian bahwa terjadi sebuah pembunuhan pada salah satu hotel terkenal di Indonesia, yang terkenal karena memang hotel itu adalah salah satu hotel termahal di Indonesia. Setelah mendengar kesimpulan dari Bapak kepala polisi yang menangani peristiwa  itu, saya yang masih terheran-heran dengar penjelasan yang membingungkan dari Bapak kepala polisi itu bergegas keluar rumah dan segera meluncur ketempat kejadian pembunuhan tersebut dengan mobil sedan saya yang berwarna hitam dengan stiker 3 garis dengan 3 warna kesukaan saya yaitu merah, putih dan biru.

Memang benar, hotel ini dijaga sangat ketat. Saya yang sangat awam dengan hotel berkelas seperti ini sangat kebingungan untuk masuk, untung saja ada salah satu polisi yang menunggu saya di lobby. Gedung yang sangat mewah dengan warna yang hampir semuanya berwarna emas, menyilaukan mata. Dibagian depan resepsionis saya melihat beberapa orang yang memang terganggu atas kejadian ini dan keluar dari kamarnya untuk memastikan pembunuh itu pergi dari hotel itu. Beberapa memakai baju santai, pijama, dan ada juga beberapa orang yang memakai pakaian yang sangat rapi, tapi sungguh karena lewat tengah malam dengan otomatis hotel ini membuat lampu sedikit lebih padam yang membuat jarak pandang untuk beberapa meter terganggu.

Kami menaiki sebuah lift yang memang arsitekturnya sangat hebat, tidak seperti lift yang kebanyakan. Lift yang sengaja tidak memantul seperti cermin, dan sengaja warna permukaannya dibuat gelap dengan lampu yang berwarna putih. Namun sebelum benar-benar lift itu tertutup, seseoang wanita cantik yang berpakaian rapih, dengan baju pesta berwarna silver, tingginya tidak jauh dengan saya, dengan gaya rambut yang sedang sangat tren tahun ini menahan pintu lift dan segera masuk. Wanita cantik itu berdiri disebelah Saya, membuat aroma parfum dari wanita ini sangat tercium menyengat. Polisi yang sedari tadi diam tersebut menekan tombol 3. Dalam perjalanan dari lobby menuju tampat kejadian polisi yang menjemputku sama sekali tidak pernah mengeluarkan sepatah kalimat pun hingga kami sampai ketempat TKP.  Dengan sangat jelas pintu berwarna cream dengan angka yang bertuliskan 313, semakin memasuki ruangan tengah hawa semakin sangat berbeda entah rasanya panas dari amarah dan dinginnya tubuh yang telah terbunuh itu menjadi satu.

Saya melihat seorang laki-laki yang terbaring diatas tempat tidur yang menggunakan pijama, seperti baju tidur yang telah tewas dengan mengenaskan dengan 2 tusukan di dada dan 2 tusukan di perut yang terselimuti selimut yang berwarna hitam begitupun dengan warna sprei tempat tidur tersebut. Hanya 2 orang yang dengan telitinya mencari-cari barang bukti yang mungkin saja ditemukan dan 3-4 orang polisi yang berjaga diluar kamar untuk mengamankan situasi dan garis polisi pun telah dilingkarkan di tempat kejadian dan kamar tersebut. Saya ikut membantu 2 orang polisi tersebut dengan hal yang pertama saya lakukan sebelum lebih teliti lagi dalam meneliti.

Dengan mata yang masih mengantuk, karena saya tidur hanya satu setengah jam. Dan sekarang tepatnya pukul setengah tujuh pagi pada hari Rabu, 14 Maret 2001. Saya kembali bersiap-siap untuk melakukan perjalanan kembali menuju hotel yang beberapa jam yang lalu telah saya kunjungi untung saja untuk saat ini saya diberikan kemudahan untuk masuk dan keluar dari hotel yang semakin diperketat pengamanannya setelah terjadinya pembunuhan tersebut. Saya mengikuti setiap langkah yang saya ingat dari polisi pendiam lewat tengah malam itu, Namun kali ini ada yang berbeda setelah saya membuka pintu kamar itu seseorang dari kejauhan datang. Seseorang laki-laki tinggi, dengan arah poni kesebelah kanan dengan rambut yang cukup klimis, dengan matanya yang berwarna sedikit berwarna abu-abu yang terengah-engah dan selalu menengok kebelakang, saya tau tidak ada seorang pun yang sepertinya mengikutinya karena pagi ini saya melihat lobby sangat sepi bahkan rasanya officeboy pun belum sama sekali datang, aneh.

Matanya terbelalak ketika saya melihat matanya, saya tau laki-laki itu sangat-sangat ketakutan. Dengan gerak tubuhnya saya tau, bahwa ia mengizinkan dan ingin untuk masuk kedalam ruangan 313 didepan kami. Setelah kami masuk dan menutup kembali pintu, laki-laki itu mengikuti langkahku yang terhenti disebuah meja dan juga kursi yang terdapat sebuah cermin besar yang cukup besar dan mewah didepannya.
“Anda siapa ?”.
“Biarkan saya memperkenalkan diri, saya adalah orang ke dua yang dipercaya Bapak Indroyanto Kusmowijoyo. Saya Kelvin!”.
“Ada apa datang kesini, tepat setelah saya datang ?”.
“Saya hanya ingin menceritakan kisah Almarhum Bapak dan memberikan beberapa berkas!”.
“Tapi maaf… saya gak bisa lama-lama!”.
Dengan cepat dan terlihat sangat-sangat terburu-buru, saya dapat melihat dari sudut mata saya tangannya yang bergetar saat mengambil beberapa berkas di tas hitamnya yang laki-laki itu bawa, saya yang sedang memakai sarung tangan dan mempersiapkan barang-barang untuk segera mengidentifikasikan tempat tersebut dengan sangat teliti.
“Bisa sedikit cepat ? saya tidak suka diganggu jika sedang bekerja!”.

Komentar