CRIME #02



“Ini…..”. ujar laki-laki itu dengan segera memberikan saya beberapa kertas juga buku catatan Alm Bapak Indroyanto. “Yasudah saya pergi, jika ada yang bertanya tentang saya jangn beritahu siapa pun!”.

Dengan sangat cepat setelah saya menerima kertas tersebut, laki-laki yang bernama Kelvin itu segera pergi dengan sangat cepat. Seperti ada yang disembunyikan. Saya menyimpan kertas itu tepat disamping tas saya, dan kemudian memulai menyelidiki. Saya hampir lupa, saya menitipkan kesimpulan yang didapatkan dari polisi yang telah datang ketempat TKP sebelum saya datang untuk menuliskannya pada sebuah kertas putih yang ditempelkan pada tembok kamar yang kosong. Saya melihatnya, saya  mengambilnya. Membacanya perlahan dan kemudian lakukan seolah-olah saya berada pada saat kejadian.

“Pelaku tidak masuk melalui pintu utama, karena pintu utama baik-baik saja!”.
Saya mengecek seluruh bagian pintu yang ada, saya menemukan 1 kejanggalan yang mendapatkan 4 kesimpulan yang dapat saja terjadi.
“1 kejanggalan, pertama bisa saja pelaku tidak masuk melewati pintu utama. Kedua bisa saja pelaku masuk bukan dengan paksaan atau didobrak karena memang dipersilahkan masuk. Ketiga, sengaja menjebol kunci kamar atau menduplikatnya dan keempat adalah mereka menggunakan hal lain!”.

“Seluruh peralatan rumah baik-baik saja!”.
Saya mengecek semua peralatan rumah yang dapat diindikasikan sebagai pemicunya atau dapat menyembunyikan barang bukti ditempat tersebut. Namun saya melihat 2 gelas yang telah digunakan dengan air putih yang tersisa pada gelas itu.
Saya berhenti ketika melihat lembaran yang memang saya abaikan sedari tadi, kumpulan kertas yang tadi diberikan laki-laki yang diberikan oleh laki-laki yang bernama Kelvin tersebut. Dengan sangat teliti saya membacanya perlahan. Ada catatan yang sangat berbeda, ada beberapa kertas yang terlihat hampir tidak terbaca karena sangat kotor dan terdapat banyak lipatan yang terselip dalam kertas-kertas, ini bisa saja catatan yang hampir saja dibuang atau emang beberapa kali disembunyikan sebagai rahasia.

“Akhir-akhir ini saya sering diikuti oleh beberapa orang yang tidak saya kenal, entah kenapa akhir-akhir ini banyak mata yang berbeda yang selalu memperhatikan saya dimana pun….”.
“Bukan mata, tapi rasanya mata yang menatap bukan biasa……”.
 Dengan sangat teliti saya harus membacanya, sulit tapi saya tau ini bisa saja petunjuk yang diberikan. Tanpa saya sadari tiba-tiba sebuah pulpen jatuh dan menggelinding kebawah tempat tidur, entah datang dari mana pulpen itu tapi rasanya pulpen itu terselip antara kertas-kertas yang cukup banyak itu. Dengan perlahan saya mengambilnya, entah tepat sekali pulpen itu menggelinding dan masuk kebawah kasur melewati celah selimut tempat tidur yang memang dibuat menjuntai kelantai.

Saya mencoba meraih pulpen itu tanpa menyingkapkan sama sekali selimut yang menjuntai, ada sesuatu yang aneh ketika saya mendapatkan pulpen itu terasa sangat basah entah air apa itu. Dengan rasa sedikit takut yang sudah saya usir jauh-jauh karena saya masih baru menjalani pekerjaan ini beberapa tahun, saya mencoba untuk menyingkap selimut yang menjuntai itu. Dengan lantai kayu seperti itu membuat hawa semakin berbeda, terutama pendingin ruangan dibiarkan tetap menyala. Saya menarik kembali tangan saya yang memakai sarung tangan dengan pulpen yang saya ambil. Air itu tidak meninggalkan warna dan bau, yang terlihat hanyalah air putih dan bau air putih. Bukan darah!. Tapi saya yakin ada yang tidak benar dari air ini, bagai mana air dapat berada di bawah kasur, dari kesimpulan polisi dikertas sebelum saya datang tidak ada air yang jatuh atau berceceran di lantai apalagi gelas pecah yang mungkin saja bisa terjadi.
Saya mengambil beberapa botol kecil dan memasukkan sempel air tersebut kedalam botol dengan posisi sedikit duduk dilantai untuk menjangkau air tersebut, kemudian dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi saya langsung menuju 2 gelas tersebut yang berada di atas lemari tv.  Meneteskan beberapa tetes ke dalam botol kecil. Ada suara aneh yang terdengar walaupun samar-samar, sebuah suara yang menyerupai seperti lemari terbuka. Saya mencoba membalikkan badan pada seluruh ruangan yang cukup luas ini tanpa ada ruang lagi atau pun sekat kecuali kamar mandi. Semua pintu lemari masih dalam keadaan tertutup, dimana datangnya arah suara seperti pintu terbuka tersebut.

****

Tidak heran jika setiap mata yang menoleh kearah saya akan sangat-sangat mengintimidasikan saya, walaupun tinggal di daerah padat namun rasanya sama seperti tinggal digurun. Dapat dikatakan saya tidak pernah bergaul dengan para tetangga yang selalu membicarakan saya, tapi untung saja saya hanya mengekost bukan tinggal tetap. Bahkan tidak heran semua tetangga yang melihat saya bertepatan terlihat saat mereka berkumpul, mereka akan sangat sengaja untuk

Komentar