IF I KNOW : #5 Beautiful Night





Kini dia memakai baju yang berbeda, entah bisa secepat itu berganti. Er yang pada saat itu menaiki motor matic berwarna hitam, dengan sweater, jeans dan sandal jepit yang semoga saja tidak ia ambil pada saat sholat jumat. Rasanya satu langkah membuat 100 detakkan untuk jantungku, aku hampir mati, hampir mati rasa untuk tidak merasakan rasa ini. Ia melihatku dengan wajah dinginnya, tanpa senyum dan terlihat biasa saja tanpa rasa grogi. Aku semakin dekat dengannya, langsung menaiki motornya dan kita menembus sore penuh dengan macet Kota Tangerang.



“Kenapa kalau ketemu selalu menghindar ?”. Tanyanya dengan sedikit menoleh kearahku.

“Banyak alasannya!”. Jawabku dengan nada yang datar.

“Sebutin satu-satu!”. Pintanya sambil terus menyetir motor meticnya.

“Kalau disebutin sampe besok juga gak akan selesai….”.

“Yaudah gak apa-apa sampe tahun depan juga didengarin kok!”.


Ya Tuhan, itu hanya alasan ku saja untuk tidak banyak bicara apa lagi menceritakan apa yang tengah aku alami akhir-akhir ini. Tapi sungguh Er menyebalkan sore itu, membuatku sangat malas utnuk berbicara dengannya, seolah dia memojokkanku untuk katakan apa yang sejak dulu ingin ia dengar dari diriku sendiri dan seperti biasanya aku hanya berusaha menghindar dari itu. disepanjang perjalanan aku hanya bisa terdiam, entah rasanya memang serba salah bahkan dipikiranku pun begitu. Semua rasa dan semua pikiran menjadi satu yang berputar-putar dikepalaku. Er pun begitu aku tak mendengar sayup-sayup suaranya, ia juga pasti merasakan apa yang tengah aku rasakan, Er mempercepat perjalanan ini karena magrib akan segera datang. Sudah sampai rumahku, Er masih terdiam hingga aku turun dari motornya.


“Makasih sudah nganterin sampe rumah!”. Ucapku yang berdiri disampingnya. 

“Iya sama-sama….”. Tuhan Er tidak menatap kearah ku, ia malah memilih menatap bumi.
 
“Hati-hati ya….”. Ucapku, Er menyalakan mesin motornya.

“Abis isya siap-siap nanti aku jemput!”. Er pergi begitu saja.


Suara azan isya sudah terdengar beberapa menit yang lalu, tentu saja aku sudah mencurahkan segala kerisauanku pada-Nya namun rasa ini masih saja ada walaupun sedikit berkurang. Rasanya setiap detik adalah pacuan untuk jantungku semakin bergetar, kamu tau rasanya pasti ketika akan bertemu dengan orang yang kamu sukai namun kamu mencoba melupakannya,atau seperti dikejar-kejar deptcollector yang meminta janjinya yang sulit sekali dibayar. Aku sungguh tak bisa diam, duduk, berdiri, minum air putih yang kuharap dapat mengurangi kegugupanku lalu duduk lagi. Hingga rasanya Mamaku mulai heran melihatku bertingkah tak seperti biasanya.

Semua perasaan aneh merasuki hatiku, lebih banyak aneh dibanding hal-hal baiknya, rasanya semuanya bagai mimpi. Untuk masalah seperti ini Er memang jagonya, membuat hatiku dipaju untuk terus berlari ditempat yang sama hingga aku lemah. Tak lama kemudian aku mendengar ucapan salam dibalik pintu rumahku, aku pun tau siapa yang mengucapkan salam dan yang ada dibalik pintu itu; siapa lagi kalau bukan Er. Aku menuju keluar untuk menemuinya.

“Ada apa ?”. Tanyaku sinis, dan memperhatikan pakaiannya yang sangat rapih.

“Ayo ikut….”. Ia bersiap merapihkan jaketnya.

“Eh….tunggu dulu.. mau kemana ?”. Aku terkejut mendengarnya berkata seperti itu. Kini yang ia lakukan membuat jantungku rasanya ingin copot.

“Pemisi Ibu, saya mau ajak anak Ibu keluar dulu bentar ya Bu. Ada yang mau dibicarain dulu sama anak Ibu yang cantik ini…”. Tiba-tiba saja ia katakana itu setelah ia membuka pintu rumahku sedikit, dan masuk begitu saja seolah aku mengizinkannya untuk menemui Mamaku.

“Yaudah hati-hati ya, jangan malam-malam pulangnya!”. Sahut Mama dari dalam rumah.
“Oke Bu!”.


Er menarik tanganku untuk menuju motornya yang tidak jauh dari pintu rumahku, apa yang dia lakukan membuat aku sangat cemas dengan apa yang nanti akan terjadi nanti dan tentang hal yang akan dia bicarakan padaku. Entah Er akan mengajakku kemana namun rasanya kami hanya memutar-mutar jalan utama ketika ramainya jalanan membuat Er malah memelankan laju motornya.
Without conversation, entah apa yang Er maksut mengajakku untuk keluar rumah namun rasanya ia tidak pernah memulainya. Hingga kami berhenti pada sebuah warung kecil yang menjual es krim yang sedang naik daun. Ia memelankan laju motornya dan berhenti tepat lampu menyinari, tanpa ia menuruh aku sudah turun duluan dari motornya, setelah ia memarkirkan motornya ia mengajakku untuk masuk.
Aku memilih tempat duduk yang kosong, sedangkan Er malah main selonong untuk memesan es krim yang kelihatannya sedang banyak yang memesan. Aneh! Semua orang yang mengantri pasti sangat-sangat tidak rela. Er dengan senyum bangganya menghampiriku dengan 2 buah porsi es krim ditangannya, apa yang dia lakukan ? kita baru sampai dan Er langsung mendapat apa yang dia mau tanpa menunggu.


“Loh… kok udah dapet aja ?”. Tanyaku keheranan.

“Silahkan, es krim coklat dan vanilla-nya tanpa strawberry!”. Ia meletakkannya tepat tanganku diletakkan dan kemudian dia duduk.

“Tau aja… hahha”. Kami mulai memakan es krim itu perlahan.

Aku tau ada  yang aneh, sore tadi Er terlihat sangat serius dan sekarang ia berubah menjadi 180 derajat menggembirakan seperti ini. harus ada yang dipertanyakan kalau seperti itu !.  matanya yang mondar-mandir melihat aku dan es krimnya menandakan ia mencari waktu yang tepat untuk berbicara, aku tau dia gugup.


“Mmmmm…. Kenapa harus menghindar seperti tadi sore ? emangnya aku polisi apa dan kamu buronannya ? Tapi sepertinya ia sih gitu “. Ia mulai menunjukkan wajah seriusnya, namun masih terus menyisipkan senyum manisnya.

“Argh….ia bener aku kayak ngeliat polisi yang menyeramkan mau nangkap aku!”.

“Lalu ?”. Wajahnya semakin berubah menjadi serius. “Kamu sekarang sedang di introgasi lohm sebentar lagi juga masuk penjara!”. 

“Lalu apanya ?”. Aku memasang wajah bingung. “Eh.. mana ada diintrogasi dibeliin es krim, kalau begini nanti jadinya masuk penjara apa ?”.

“Kenapa selalu menghindar ?”.

Aku diam ketika benar-benar aku melihat wajah seriusnya yang begitu membuatku sulit bicara, dan mulai, jantungku mulai berdegup cepat.

“Kamu malu karena ramai ? ini rame kok! Tapi sekarang berani, malah kayak biasa aja”. Tawanya muncul lagi, membuat aku sedikit tenang setelah melihat tawa dan mendengar kata yang keluar dari dalam mulutnya.

“Nih ya… pokoknya kalau ada sesuatu kamu bilang, jangan kamu simpen aja, taukan itu rasanya gak enak ? makannya bilang aja ya… “. Ia meledekku seolah Er tau bahwa saat ini jantungku rasanya mau meledak.

Aku hanya mengangguk seolah aku mengerti dengan apa yang dia katakana, padahal emang aku tau bicara itu terkadang memang sulit.


Diperjalanan pulang aku hanya dapat diam, seolah malam ini aku sudah menyelesaikan sesuatu padahal belum. Terima kasih telah mengurangi ketakutan ini yang sebelumnya tidak berani melihat kini malah berani untuk menatap mata Er, yang tadinya takut didekatnya kini malah tepat  berada didekatnya. Setidaknya hal yang sepertinya phobia ini dapat hilang sedikit.
Diperjalanan pulang ini yang lebih banyak bicara adalah Er, seolah ia menceritakan semua rahasianya padaku, seolah aku adalah orang yang ia percaya, dan seolah tidak ada siapa pun kecuali aku. Terima kasih Er.

“Udah sampe….!”.

“Udah ya ?”.

“Masih mau ditahan ? untuk saat ini saya kamu bebaskan!”. Tawa kami pecah.

“Jadi tadi dimotor aku ditahan ?”.

“Iya!”. Jawabnya tegas. “Lain waktu saudara, saya tanggap lagi. Bersediakah saudara ?”.

“Iya, saya bersedia!”. Kami tertawa kembali, dan perlahan turun dari motor.

“Seneng malam ini ?”. tanyanya yang masih duduk diatas motor dengan senyumannya yang manis.

“Seneng banget banget banget! Makasih ya…”. Aku memberikannya senyuman.

“Sama-sama!”. Ia menatap jam tangan hitam di pergelangan tangannya sebelah kiri. “Sudah jam setengah 10 kurang nih, pulang dulu ya..”.

“Iya pulang nanti dicariin sama komandan loh”. Aku tertawa, dan yang pasti Er juga pasti ikut tertawa.

“Hhaah iya bener, bilang Ibu kamu ya anaknya jangan dibawa main keluar selain aku!”.

Aku hanya tertawa, Er mulai menyalakan mesin motornya dan perlahan pergi dengan salaman lembut dari senyumannya yang manis itu. Aku sangat senang…..

Komentar