IF I KNOW : #6 Laki-Laki Berkacamata



Pagi ini pagi yang sangat indah, yap!! Karena memang malam tadi ada sebuah kejadian  yang sangat membuat aku begitu bahagia. Aku masih ingat dengan matanya saat bertanya hal-hal konyol seperti semalam, tingkahnya saat memberikan aku semangkuk es krim coklat vanilla yang sangat manis. Pagi yang berawal dari bahagia semoga berjalan dengan rasa itu juga hingga pagi menjelang lagi.

Pagi berjalan sangat cepat sekali, hingga tanpa aku sadari waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Nampaknya aku harus segera bersiap-siap menyiapkan buku-buku untuk sekolah, dan aku mengikari semuanya. Aku malah asik menyanyi-nyanyi dengan mem-play beberapa lagu yang tengah aku sukai.

Siang sudah menjemput, panasnya kian mulai terasa nyenyengat kulitku. Aku sudah siap untuk pergi kesekolah, tapi tunggu! Aku menunggu seseorang! Aku bersiap lebih awal sehingga aku yang sudah rapih ini harus menunggu, tapi tak apa, aku tak boleh membuat orang terus-terusan menunggu.

“Assalamualaikum….”. Seseorang yang ku tunggu sudah datang.

Dia bukan orang asing, bukan juga orang biasa-biasa saja dan jangan berfikir jauh dulu. Dia adalah Siska. Dan kami pun berjalan menunbus jalan yang cuacanya mulai terasa sangat panas ini, menaiki angkutan umum untuk melaju lagi menuju sekolah yang jaraknya tidak mungkin ditapaki kaki yang lemah ini.

Beberapa langkah lagi gerbang berwarna hitam itu akan menyambut kami, dan jangan ditanya lagi berapa lelahnya kami menahan panas yang membuat tenggorokan terasa sangat kering. Sebelum memasuki gerbang, tepat disebrang sana aku melihat sosok yang akhir-akhir ini membuat aku selalu bertanya-tanya tentang sosok yang membuat aku sangat bingung dengan sikapnya dan tingkahnya. Laki-laki berkaca mata, yang terlihat sangat cupu dan bisa dibilang sangat lucu itu membuat aku ingin berkali-kali melihatnya. Laki-laki yang terlihat penuh misteri yang ia simpan. Dengan senyum kakunya ia melangkah terlebih dahulu untuk memasuki gebang sekolah yang berwarna hitam.

Azan sudah terdengar sangat merdu, saling terikat dengan suara-suaranya yang tak henti dari masjid atau pun musholla di seluruh dunia. Aku dan Siska melangkah menuju musholla sekolah yang jaraknya tidak jauh dari kelas, azan zuhur memanggil dengan indah. Aku dan Siska memilih untuk menyimpan mukena di atas karena memang letak musholla sekolah yang berada dilantai ke dua. Saat menaiki tangga aku melihat ada sebuah kaca mata yang tertinggal disana, aku menyentuhnya dan melihat kesana kemari untuk mencari pemiliknya yang pasti mencari kaca matanya yang tengah aku temukan. Seseorang datang dengan menaiki tangga perlahan dengan langkah yang membekas ceceran air.

“Mmmm….”. sosok itu terdiam menatapku dengan wajahnya yang sedikit bingung, membuat aku pun ikut bingung.
“Ini punya kamu ?”. tanyaku yang membuat wajahnya sedikit berubah, sekarang terlihat sedikit senyum dari sudut bibirnya.
“Owh… ia, makasih ya…”. Ucapnya yang perlahan mengambil kacamata yang tengah aku genggam, karena aku tau laki-laki yang berada didepanku ini pasti sudah mengambil wudhu.
“Ia sama-sama, kali kali kantongin aja. Takutnya ada yang ngambil atau jatuh gara-gara disimpen sembarangan!”. Seruku yang kemudian melanjutankan lagi langkahku dan Siska menuju dalam musholla setelah kacamata itu sudah benar-benar disimpan dengan rapih dengan si empunya.
“Owh.. ia gimana sama cowo yang pas itu ?”. Tanya Siska yang perlahan menyimpan mukenanya tepat disalah satu sejadah dan membuka perlahan jam tangan berwarna hitam dipergelangan tangan kirinya.
“Cowo yang mana ?”.
“Yang itu loh, yang pernah kamu ceritain ?”. Siska mulai menekankan suaranya berharap aku kembali ingat dengan sosok yang tengah ia maksut.
“Owh…. Yang pas itu ngucapin hai didepan gerbang ?”. Maafkan aku yang sedikit pikun ini, karena memang kejadian itu sudah lama berlalu.
“Iya, gimana hubungannya sama dia ?”.
“Owh.. dia ? Alhamdulillah baik-baik aja kok Sis”. Aku baru saja mengingatnya.

Yang Siska maksut adalah Ibrahim, laki-laki yang selalu terlihat dewasa dengan pemikirannya yang kritis dan bisa dibilang penuh dengan pengetahuan alias sangat pintar. Ibrahim Zailal, laki-laki tersebut lebih tua 2 tahun dari ku, dengan tinggi yang hampir sama itu membuat dia selalu terlihat lebih muda dari umurnya dikarenakan dengan warna kulitnya yang hitam manis juga gaya berpakaiannya yang sangat rapih.

Setelah shalat, kami kembali menuju kelas dikarenakan jam belajar akan segera dimulai. Tapi kami harus memakai sepatu terlebih dahulu, ada yang aneh ketika aku ingin memasukkan kakiku yang sudah memakai kaos kaki putih itu kedalam sepatuku, ada sesuatu yang mengganjal!. Aku membukanya kembali, dan mengambil apa yang ada didalam sepatuku; sebuah kertas kecil yang dibuat bola kecil sebesar penghapus. Dengan rasa penuh tanda tanya aku bermaksut membuka kertas yang sepertinya sengaja dibuat bola, yang aku lihat adalah sebuah kalimat singkat yang membingungkanku.
“Pertemuan yang tak terduga dari hal yang tak terduga!”.
Dengan sangat mengejutkan Siska menyebut namaku dengan tiba-tiba, yang membuat aku sangat terkejut dari diamku beberapa detik yang sedang berfikir apa maksut dari kertas kucel itu. dengan cepat aku memasukkan kertas itu kedalam sakuku dan segera memakai sepatu.
Ketika perjalanan menuju kelas, ada seseorang yang tiba-tiba menghentikan langkahku. Orang yang tidak aku kenal tapi yang pasti ia bersekolah disekolah ini. Memberikan aku lipatan kertas yang cukup rapih yang kemudian orang yang memberi itu pergi tanpa memberi tahu kertas itu dari siapa. Aku membukanya perlahan dan Siska ikut melihat kertas yang tengah ku buka pada saat itu, dan yang tertulis adalah “Nice to meet you!”.

Tanpa aku sadari waktu berlalu sangat cepat, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore; saatnya pulang sekolah karena bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku dan Siska berjalan bersama untuk pulang, saat kami berjalan aku merasa ada yang salah dengan aku dan Siska seperti ada yang memperhatikan namun tersembunyi. Aku hentikan langkahku untuk sejenak melihat sekeliling dan ternyata ada seseorang yang tengah duduk didepan kelas dengan posisi yang berbeda, dia menunjuk. Laki-laki yang sepertinya penah aku temui, dengan wajah bingunng Siska ikut memperhatikan sekitar.

“Lagi nyari siapa sih ?”.
“Bukan, aku merasa ada yang ngeliatin kita gitu !”.
“Terus siapa ?”
“Engga tau siapa!”.
“Hantu ? ihhh… ayoo lah pulang!”.







Komentar