CRIME #03



Membicarakan keburukan saya dengan nada yang sangat terdengar jelas, bahkan sedikit berteriak. Namun hanya ada satu Ibu yang berbeda, dengan sosok yang keibuannya dan sangat pengertian Ibu yang saya maksut ini tidak seperti mereka. Ibu Julian, ibu pemilik kost rumahan yang rasanya menggantikan sosok Ibu kandung saya yang sudah meninggal.
“Kamu baru pulang ?”. tanyanya yang masih duduk santai dimeja makan sembari menonton televise.
“Iya bu! Ibu belum tidur ?”. Saya menghampirinya dan duduk disebelahnya tepat sebuah kursi kosong, ini bukan malam tapi lewat tengah malam, saya heran.
“Kamu kerja apa sih ? sangat jarang pulang kerumah ?”. Ia menahan wajahnya yang masih menatap televise.
“Mmmm…. Sulit dijelaskan!”.
“Ibu memang tidak terlalu kenal kamu, karena kepribadian kamu yang tertutup dan kamu jarang sekali bersosialisasi tapi Ibu  tau kamu anak baik!”.
“Terima kasih bu sudah menerima saya disini!”. Dengan perasaan yang sudah tidak tahan lagi saya mulai berbicara dengan Ibu Julian. “Ibu kalau saya cerita sama ibu tidak apa-apa ?”.
Ibu Julian hanya mengangguk dan merubah posisi tubuhnya menghadap kearah saya.
“Saya kerja menyelidiki kejadian!”.
“Detektif ? hahahha”. Tawa kecilnya.
“Iya bu bisa dibilang begitu….”.
“Kenapa kamu mau jadi detektif ?”.
“Mmm… mungkin ini karena dendam saya yang masih ada hingga sekarang….”.
“Dendam ? Dendam apa ?”. dengan wajah bingungnya.
“Dendam terhadap orang yang telah membunuh orang tua saya, saat itu mereka tidak memecahkan masalah dengan benar, dan hingga sekarang belum ditemukan pelakunya bahkan mereka bilang kalau kasus pembunuhan orang tua saya sudah mencapai final!”.
“Jadi kamu tinggal sendiri ?”. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Orang tua saya terbunuh pada saat saya sekolah menengah pertama, untung saja pada saat itu Nenek masih ada dan merawat saya hingga saya dapat berkuliah disalah satu universitas yang cukup besar itu pun biaya dari pensiun Kakek. Itu pun tidak bertahan lama, pada semester tiga saya harus kehilangan lagi satu-satunya keluarga saya yaitu Nenek!”.
“Jadikan pengalaman kamu sebagai motivasi kamu untuk menolong orang lain, niatkan dalam diri kamu kalau kamu ingin membantu orang yang ada diposisi kamu pada saat itu. Jangan dendam toh ya… kamu udah Ibu anggap anak ibu, toh Ryan anak satu-satunya ibu sedang kuliah diluar kota”.
Dengan perkataan Ibu Julian yang seperti itu membuat  saya kembali bersemangat untuk memecahkan segala masalah yang ada.


Sejak kehilangan, saya menjadi sangat tertutup dan lebih sedikit bicara dan hitam selalu menjadi warna pakaian kesukaan saya. Jas hitam yang tergantung dilemari pakaian telah saya gunakan, saya harus segera pergi ke labolatorium untuk mengecek sempel yang kemarin saya dapatkan dari tempat kejadian. Matahari sudah masuk melewati celah gorden berwarna putih gading yang berada dibelakang saya ketika saya sedang bercermin, saya hany berdiam menatap wajah hampa didepan cemin yang sudah buram. Ada sesuatu yang aneh ketika tanpa sengaja saya melihat sesuatu dibalik gorden berwarna putih gading itu.

Agak samar, menjadi alasan untuk memastikan kembali ada apa dibalik gorden itu, dengan cepat aku menyibakkan gorden itu. Kamar saya berada dilantai kedua dan ketika matahari terbit akan memencarkan sinarnya masuk kedalam kamar melewati kaca jendela. Mataku rasanya seperti terkena sengatan yang cukup membuat aku menutup mataku beberapa detik untuk kemudian melihat kembali hal yang masih kupertanyakan. Sebuah kertas putih yang tertempel di luar kaca yang bertuliskan “Jangan Ikut campur!” mana mungkin seseorang menempelkannya sedangkan rumah ini tidak memiliki balkon untuk seseorang bisa menempelkannya, ini sama sekali tidak menakutkan saya hanya mencemaskan Ibu Julian yang tinggal sendirian sebagai pemilik rumah ini bahkan para penghuni kost yang lain sering pula tidak pulang.

Saya lajukan mobil menuju labolatorium rahasia agency saya. Hal biasa ketika melihat Ryan sibuk dan ruangan yang acak-acakan. Saya dapat melihat kantung matanya yang hitam karena pasti ia tidak tidur karena Ryan adalah salah satu peneliti yang sangat baik, saya memasuki ruangannya dan memperhatikannya sedang bekerja.
“Sudah berapa hari kau tidak tidur ?”.
“Bisa dikatakan 2 hari!”. Masih sibuk dengan peralatannya.
“Tidak berfikir untuk istirahat atau bersantai kah ?”. Saya berdiri disampingnya yang sedang duduk dikursi.

Komentar