CRIME #04



“Setua apakah saya ? harus pensiun ketika karir sudah ada diatas ? Hahahh…”. Ia menghentikan pekerjaannya untuk melihat kearah saya.
“Bukankah hidup bukan Cuma untuk kerja ?!”.
“Iya memang tapi selagi bisa bekerja toh… kenapa tidak ?”.
“Bukannya ada kehidupan setelah kita mengikat janji ?”.
“Owh… menikah maksutmu ? iya benar! Jadi kamu menyarankan saya untuk cari pendamping karena umur saya yang sudah kepala 3 ini ? hahahahha”. Wajahnya berubah drastic, bukan marah. Tapi malu dan menyadari bahwa menyadari bahwa yang dikatakan saya benar.

Ryan adalah laki-laki pertama yang kutemui ketika bergabung dalam agency ini, dengan tubuh yang tinggi, putih namun tubuhnya tidak berisi kerena harus menguras tenaganya dalam pekerjaan yang harus disegera selesai bahkan ia lupa tidur, makan dan bahkan untuk kekamar mandi. Dia salah satu seseorang yang dekat denganku di agency ini.

“Sibuk sekali tidak ?”.
“Kenapa ? kau ingin menraktirku kopi ? haahhahah”. Melanjutkan kembali pekerjaanya.
“Tidak, untuk itu lain kali saja ketika kita free!”.
“Pernahkah kita free ? kamu free saya tidak, saya free kamu tidak!”.
“Saya bawa semple dari Tkp pembunuhan, maukah kau mengeceknya ?”.
“Berikan padaku!”.

Sebelum saya benar-benar meninggalkan Ryan dalam tugasnya meneliti semple yang saya temukan, saya sudah berjanji kepada Ryan akan mentaraktirnya minum disalah satu caffe yang cukup terkenal dikawasan tersebut. Saya sudah menunggunya cukup lama pada sebuah kkursi kayu di sudut ruangan, mana mungkin Ryan tidak hadir ketika dia sangat ingin untuk refreshing dari runititasnya yang membuatnya sedikit gila. Dengan kemeja kotak-kotak bergaris hijau tua yang dibalur kembali dengan jas hitam ia berjalan masuk setelah membuka pintu caffe, Ryan tau tempat favorite saya.

“Jadi bener nih ngajak minum ? Ditraktir juga kan ?”. Perlahan Ryan duduk didepan saya dengan senyuman jailnya.
“Kalau tidak mau bayar sendiri saja!”. Tak lama kemudian seorang pelayan menyodorkan sebuah buku menu.
“Saya moccachino satu ya!”.
“Itu saja ? kenapa gak Bir atau minuman beralkohol ?”.
“Jauhkan saya dari minuman seperti itu!”.
“Saya air saja!”.
“Kau bergurau ? Hahahah, saya mentraktirmu untuk minum yang lain jangan air putih saja!”.
“Gimana kalau makan ? Kau kan yang membayarnya ?”. Matanya menyorotku setelah melihat buku menu.
“Saya yang mentraktir untuk kali ini,untuk lain kali kau yang mentraktir saya!”.
“Oke deh!! Mas saya mau steak medium ya sama orange juice!”.

Satu titik mataku berpaku pada meja yang berada dihadapanku yang terlihat kemilau karena  terbuat dari kaca yang dibuat glitter, tapi bukan itu sebenarnya. Sejak seorang pelayan menghampiri kami, terlihat seseorang sedang mondar-mandir entah kerah mana namun selalu terlihat berulang-ulang kali dengan beberapa berhenti tepat dimana orang itu bisa aku lihat dengan jelas. Namun sangat disayangkan seseorang tersebut memakai topi hitam dan berjas hitam dengan warna kulit yang sedikit hitam pula entah karena bayangan topi tersebut apa memang begitu.
Ryan sangat tidak sabar menunggu makanannya sampai, tapi saya tidak sabar mengetahui laki-laki yang kini malah duduk tenang disudut caffe yang lebih terang; ternyata laki-laki itu berkulit putih. Dengan duduk yang membelakangi saya masih curiga dengan sosok laki-laki tersebut. laki-laki yang hanya duduk seperti menanti, bahkan ketika makanan Ryan hampir habis laki-laki itu tak terlihat memesan sesuatu pun. Laki-laki itu hanya asik menghisap rokok yang dipegangnya dengan santai.
Dengan sesekali orang tersebut menolehkan wajahnya kearah saya dan Ryan. Wajahnya terlihat berbeda dari wajah Indonesia kebanyakkan dan dapat dikatakan itu memang bukan wajah orang Indonesia, alias ada turunan darah Negara lain; yaitu China. Dengan mata sipit yang tersamar dari banyang topinya saya melihat mata sipit namun terlihat sangat  tajam melihat kearah kami

Komentar