CRIME #05



beberapa kali. Entah apa maksutnya orang tersebut, seperti memberi tanda sebagai orang yang memata-matai kami yang tengah bersantai disalah satu caffe yang tidak terlalu ramai.
Dengan tangan kanan yang memegang puntug rokok yang hampir habis, orang itu terlihat beberapa kali menggerakkan tangannya kearah bawah dan atas dengan wajah yang menghadap kearah luar. Ryan yang masih asik menghabiskan pesanannya terlihat acuh dan tidak melihat sekelilingnya. Saya mulai curiga dengan beberapa orang yang tiba-tiba masuk kedalam caffee yang berpakaian kemeja kotak-kotak dengan santai menghamipiri orang china yang duduk sediri tersebut. keraguanku merasuk cukup dalam dan dengan waktu yang semoga saja tepat saya memberi tahu Ryan untuk cepat menyelesaikan makanannya.
“Ryan…. Bisa percepat makanmu ?”.
“Ahhh.. kau ini menggangguku saja!”.
“Kau lihat kearah sana… mereka mengawasi kita sejak tadi!”. Saya mengarahkan wajahnya untuk melihat ke kumpulan orang tersebut yang dapat terhitung 4 orang yang memakai baju kotak-kotak dengan 1 orang china tersebut.
“Sial!”. Kami kemudian bergegas pergi melalui pintu keluar yang kedua yang jauh dari pintu utama yang dapat dipastikan kepergian kita tidak terlihat orang gerombolan orang tidak jelas itu.
Untung saja kami dapat lari dengan cepat dan waktu yang tepat sehingga kita dapat menghindari orang yang bisa saja sebagai pembunuh bayaran itu. dengan  nafas yang terengah-engah kami masih berlari menuju mobil untuk segera pergi tanpa diketahui oleh orang yang sepertinya menggeledah caffe tersebut.

Sesampainya dilabolatorium tempat Ryan bekerja. Sampai dengan jantung yang masih sangat berdetak dengan cepat sekaligus berjaga-jaga agar tidak diikuti oleh segerombolan orang yang tidak jelas. Kami berjalan melalui lorong labolatirium memasuki ruangan tempat Ryan bekerja.
“Tadi siapa ?”.
“Tidak tau, tiba-tiba mereka memperhatikan kita dengan tatapan yang seperti mengintimidasi, seolah kita itu incaran mereka!”.
“Apa mungkin mereka itu orang dari kasus yang sedang kamu tangani ?”.
“Mungkin!!!”.
Secara tiba-tiba telfon yang berada diruangan Ryan berdering, mengagetkan kami yang masih shock terdiam  dengan kejadian yang baru saja terjadi. Ryan mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah-engah, dari tempat duduknya yang dimejanya terdapat sebuah telfon yang berwarna cream Ryan mencoba mengangkat telfonnya, sedangkan saya yang tadinya sedang duduk disebuah sofa yang berada beberapa jarak dari mejanya mendekat untuk memastikan telfon itu.
“Ehem… Iya ada apa ya ?”.
“Iya dia disini, ada pesan  yang bisa saya sampaikan padanya ?”.
“Ok.. Ok akan saya sampaikan padanya….. sama-sama!”.
Ryan menutup telfonnya perlahan dengan nafas panjang yang ia hembuskan, seolah semuanya telah ia buang dengan nafas yang ia keluarkan. Dengan sengaja ia rebahkan tubuhnya dikursi kebesarannya, saya yang masih berdiri didepannya masih menunggunya mengeluarkan kata yang pastinya sebentar lagi akan dia katakana.
“Kenapa ?”.
“Diluar!”.
“Kenapa diluar ?”.
“Ada yang mencarimu!”.
“Orang yang tadi ?”.
“Bukan, tapi tamu yang mau bertemu denganmu. Tapi tidak mau menyebutkan namanya!”.
Entah apa yang membuat Ryan begitu tenang, tapi sungguh detak jantung saya semakin berdetak kencang kembali yang sebelumnya sudah mereda. Sepertinya ada yang salah.
“Yaudah sana cepat kedepan!”.
Saya langkahkan kaki saya menyusuri koridor yang sangat sepi, kira-kira jam 4 sore yang membuat suasananya berubah menjadi sangat tenang dan sunyi. Hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju lobby, detak jantung saya semakin kencang, seolah hanya satu perluru yang dapat membebas kan saya dari detak yang ingin meledak ini. Saya memandangi seluruh orang yang  berada di lobby, dan tatapan saya jatuh pada 2 orang yang tiba-tiba berdiri setelah saya datang dan hadir diruangan lobby tersebut.
Mereka berdua menghampiri saya, dengan setelan jas hitam, rambut yang ditata rapi dengan warna kulit yang lebih putih dari kulit asia; keturunan Negara lain yang tinggal di Indonesia. Mereka berdua menjabat tangan saya dan memperkenalkan nama mereka masing-masing.
“Saya Romy!”. Laki-laki tinggi sekitar 170cm, dengan mata yang terlihat abu-abu dan sedikit hijau.

Komentar