CRIME #06



“Saya Alex!”. Laki-laki yang tingginya tidak jauh dari Romy, dengan warna mata coklat, rambut yang dibuat klimis yang disisir kearah belang.
Saya memperhatikan mereka satu persatu, seolah saya harus tau kepribadian mereka, apa yang dapat mereka lakukan dan apa saja ciri-ciri mereka. Ini akan menjadi tanda bukti saya telah bertemu dengannya. Tapi tunggu sebentar saat saya melihat wajah Romy ada salah satu keanehan yaitu wajahnya sedikit kearah Cina, apa ini ada sangkut pautnya dengan seseorang yang sedang duduk dipojok caffe.
Mereka mengajak saya untuk duduk disalah satu sofa yang berwarna coklat lembut, mereka duduk didepan saya. Dengan tatapan yang penuh arti mereka berbicara mengenai penyelidikan yang sedang saya kerjakan, wajah mereka dibuat sekaku dan seserius mungkin entah apa yang mereka tutupi dari saya.
“Jadi bagaimana tentang penyelidikan pembunuhan yang sedang kau kerjakan ?”. Ucap Romy.
“Ya seperti itulah!”.
“Apakah ada kesulitan saat kau mengerjakannya ?”. Tanya Alex.
“Ada!”.
“Apa kesulitan itu ?”. ucap Romy penasaran dengan wajah yang sedikit dicondongkan.
“Mencari barang bukti!”. Saya jawab sesingkat mungkin.
“Dari itu kami datang menemui kau untuk membicarakan bantuan dari kami, untuk memudahkan kamu dalam penyelidikkan!”. Jelas Alex yang kemudian disambung oleh Romy lagi.
“Kami akan memberikan bantuan dengan mencari teman untuk kamu dalam menyelidiki kasus ini. Karena saya tau kamu akan sedikit sulit, kami utusan dari perusahaan untuk ikut membantu memecahkan masalah ini dengan mencari barang bukti kemudian mencari sang pelaku yang harus segera ditangkap karena sangat meresahkan terutama bila sang pelaku masih berkeliran dan kemudian dapat mengumpat dengan sangat rapih!”.

Dari penjelasan Romy dengan wajahnya yang sangat serius itu saya hanya mengiyakannya, terutama cara bicaranya yang terkesan terlalu dibuat-buat. Saya hanya bersikap kaku, seperti yang selalu saya lakukan terhadap orang lain terutama lawan bicara yang baru saja saya temui namun sudah banyak bicara.



Pagi sudah menjelang, sinar matahari belum jelas muncul dari utuk tempatnya beristirahat. Saya harus segera bergegas menuju tempat TKP ketika jam dinding menunjukkan pukul 4 Pagi. Mata saya masih berat, begitu pun pekerjaan yang tengah saya kerjakan. Dalam perjalanan saya menemui hambatan ketika bensin yang 2 hari lalu saya isi ternyata sudah habis, beruntung saya cepat-cepat menuju tempat pengisian bahan bakar.
Saya meminta diisi penuh. Saya hanya membuat sedikit jendela kaca mobil, saya selalu melakukan itu. Entah mengapa kali ini berbeda. Sang pengisi atau dapat dikatakan yang menjaga pengisian bahan bakar tersebut mengetuk kaca jendela saya, berkali-kali mengetuk hingga saya mulai terganggung dengan suaranya. Dengan rasa penasaran saya membuka full kaca jendela untuk memastikan siapa orang itu, saya melihat orang yang cukup tinggi, warna kulitnya agak samar terlihat sangat putih walaupun saya tau pencahayaan agak sedikit kurang. Dengan memakai topi berwarna putih dan agak sedikit menunduk membuat saya sulit untuk melihat wajahnya dengan jelas.
“Penuh ya Mas!!”. Perlahan dengan membawa selang yang masih dalam genggamannya kearah kaca jendela mobil saya yang masih terbuka; dengan langkah yang sangat pelan.
Pikiran saya sudah mengarah dari maksut laki-laki yang perlahan menuju kearah kaca mobil yang terbuka cukup lebar. Jantung saya berdebar sangat cepat saat satu langkahnya yang berikutnya semakin dekat dengan kaca yang terbuka, saya salah laki-laki itu kembali ketempatnya semula sama percis saat saya datang untuk mengisi bahan bakar. Mata sinisnya tidak pernah lepas saat walaupun kaca jendela mobil telah saya tutup rapat dan saat saya sudah cukup jauh dari tempat itu.

Dengan keadaan hotel yang masih sangat sepi, saya diizinkan masuk oleh petugas keamanan yang pada saat itu sedang berjaga. Dengan pelan namun pasti saya langsung mengarahkan tombol lift ke lantai yang sedang saya tuju, lagi-lagi ada yang menahan pintu lift untuk menutup. Salah satu kaki yang menggunakan high heals dengan tinggi kira-kira 12cm dengam model boot berwarna hitam., ternyata seorang wanita yang menghela pintu lift dengan kakinya; Ia masuk bersama saya. Dengan parfum yang sangat semerbak membuat satu lift itu dipenuhi dengan aroma tubuhnya yang khas, wanita yang memakai dress sexy yang cukup jauh diatas lututnya dengan coat hitam yang sengaja tidak dikaitkan kancingnya yang panjangnya hampir menyentuh lantai.

Komentar