Every Sea Have a Sea Side




Berlarilah seperti engkau dikejar ombak diatas pasir yang halus, pasir yang dengan kehalusannya menyulitkanmu untuk berjalan bahkan berlari. Tapi, siapa yang ingin meninggalkan laut dan pantai ini ? seperti karang yang sedia untuk dihantam untuk terus bersamanya, seperti burung-burung yang berenang diatasnya untuk mendapatkan makan, dan seperti aku yang melihat keindahan ini.

I don’t need to look the time keep ticking, I just need to look at you in the sky no matter the sun watch me.

Seperti hamparan tingkatan warna yang berbeda dan bersambung dengan warna biru dan kapas putih bersih itu, siapa yang ingin meninggalkannya ? seperti aku yang ingin menghentikan waktu saat kau duduk diatas pasir putih yang mempesona itu.

Seperti melihat kenangan-kenangan indah yang berjajar diatas lautan yang tak terbatas, yang dalam, dan luas. Aku salah ! tidak ada yang selalu indah. Angin berhembus seolah dia ingin menunjukkan betapa aku ingin dia datang dengan rasa rindu yang sempat tertahan, dan ombak yang bergulung seakan ingin mengajakku untuk terus dihantam olehnya dengan rasa rindu yang sempat tak terkatakan.



Ombak menderu juga ketika angin mulai membisikkan, kata sederhana yang menyejukkan hati. Angin mengajakku untuk terbang bersamanya ke langit yang cerah pada hari itu, tapi pasir menolak ia masih ingin bersamaku, dipijak olehku yang baru berkunjung. Angin menarikku tapi pasir memelukku.

Dan aku katakan bahwa aku merindukan sosok yang sempat membawakku kemari, tanpa kicauan burung yang seolah menceritakan matahari hanya memilih diam dan menjaga semuanya menjadi sangat rahasia. Bukan itu saja, langit yang biru, awan yang putih, pohon kelapa yang masih belum dapat menyentuh langit tapi sedikit menjangkaunya, pasir yang menjadi butiran-butiran rindu dan air laut yang menjadi selimut terindah dan ternyaman.

Melihat perbatasan antara laut dan langit dari tepi laut yang menghubungkan dengan daratan, apa benar ada batas itu ? batas dimana semuanya harus berhenti ? batas semuanya harus beristirahat ? batas yang jadi tempat persinggahan dari datang dan perginya orang-orang ? batas antara aku dan kau ?.



Aku merasa dapat melihatnya diantara riak-riak air yang kemudian menjadi deru ombak yang bergulung mendatangiku, mendesahkan nafas diantara angin laut yang berhembus melewatiku. Aku dapat melihatnya diantara orang-orang yang menembus batas dengan sesuatu yang tidak membuat mereka tenggelam dan masih dapat menikmati indahnya laut ini.

Aku merasa menggenggam tangannya ketika aku menahan deru ombak yang datang dan kemudian menghantamku, aku merasakan rindunya dari air luat yang kini membasahi pakaianku dan aku merasakan hangatnya peluk dari sinar mentari yang terik pada saat siang hari. Tapi aku bohong mengenai kesedihanku!.



Mereka memilih untuk lari dari ombak, aku bahkan ingin sekali menahannya.  Seolah membiarkanmu tetap didepanku bahkan disampingku tanpa berlalu begitu saja, aku benci itu; jangan berlalu. Tapi begitulah ombak, tapi aku tidak mau kau seperti itu!.

Dan seperti aku yang kini mencintai laut dan segala perhiasannya, aku pun mencintai kau yang melebihi indahnya laut. Aku bohong! Kau indah karena diciptakan oleh Allah dan begitu pun laut yang tengah aku sukai.


Dan setiap laut yang ada….
Dia butuh pantai…
Dia butuh daratan…
Dia butuh untuk tempat bersandar sebentar

Dan setiap laut yang yang dalam…
Dia butuh tempat dangkal…
Dia butuh tempat untuk menepi….
Dia butuh tempat untuk mengisi kekosongan

Dan setiap laut yang hampa….
Dia butuh keramaian…
Dia butuh tempat untuk berbagi tawa…
Dia butuh tempat untuk dicintai…



Dan di setiap laut yang luas…
Dia butuh pantai…
Dia butuh pelabuhan…
Dia butuh untuk dekat dengan orang yang mencintainya….

Mengapa kau tak kunjung datang
Ketika ratusan ombak telah tergulung
Ketika pasir sudah mulai berterbangan
Dan ketika angin sudah mulai lelah berhembus

Aku masih menunggumu dibawah pohon kelapa
Dengan terik mentari yang menghanguskan kulit
Dengan batas disana yang tak terlihat
Dan dengan jam yang terus berdetik



Every sea have a seaside, the same thing is every human have a love.
Langit tidak selalu indah, angin tidak selalu baik, dan ombak tidak selalu lembut terkadang mereka sangat mematikan.  Begitu pun Cinta !.

Aku tak bisa menahan derunya ketika ia mulai tergulung kemudian menghantamku, berlalu…., bergulung…., mendekatiku….., mengantamku…., berlalu
Begitu saja!

Dan sebagai karang yang masih bertahan tanpa pernah mencoba untuk pergi, dia masih ingin dihantam. Dengan kesakitan yang menjadi resikonya, dia masih ingin mencintai lautan yang begitu indah.

salam rindu yang terucapkan dari kejauhan untuk pantai dimana salah satu moment kita, ketika ombak menghantam dan kita memilih untuk tenggelam dan hilang dalam luasnya lautan tanpa batas.


 Tanpa batas yang tidak kita ketahui



Dan tanpa kita ketahui luasnya pantai dan laut itu sendiri sampai kita terdampar pada salah satu pulau….




Komentar