MAGIC #001

Pagi ini awan terlihat sangat gelap, seorang gadis tengah duduk disamping jendela kamarnya yang terbuka sangat lebar. Ia hanya menatap langit yang sebentar lagi akan turun hujan, ia terguncang ketika sambaran kilat itu membuat suara yang cukup kencang yang membuatnya sedikit berteriak. Kemudian langkah terburu-buru terdengar memasuki kamarnya, ia mencoba menenangkan dirinya yang masih duduk di samping jendela kamar dengan menutup matanya.

“Kamu kenapa  Nak ?”. Perempuan tua dengan sigap memeluknya yang masih terkejut.

Dengan matanya yang sendu namun menyimpan penuh misteri dalam pupil matanya yang bulat dan hitam memandang kelangit yang sudah mulai menteskan airnya ke bumi, gadis kecil itu masih melekat dalam pelukan perpempuan tua itu.

“Nek.. kenapa langit harus gelap ? itu membuat beberapa orang bersedih termasuk aku…”.

Gadis kecil itu melepaskan diri dari pelukan Neneknya dan menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Dengan penuh usaha Neneknya mencoba menjelaskan sesuatu tentang apa yang sudah terjadi.

“Ingat kamu baru 10 tahun, kamu masih bisa merubah langit mu untuk selalu cerah. Dengan matahari yang bersinar, langit yang biru dan awan yang putih. Kamu sadarkan setelah hujan turun semua akan kembali pada suasana yang seharusnya, begitu pun kamu….”.

Gadis hanya menunduk mendengarkan neneknya berbicara, walaupun dalam hatinya tidak mau menerima apa yang telah terjadi.

“Ayahmu… tidak akan pernah meninggalkanmu, dia selalu ada dalam hatimu dan setiap langkahmu. Kalau pada saat ini Ayahmu  tidak ada disini, bukan berarti dia tidak mengawasimu ya….”.

Bukan hanya rintik hujan yang semakin deras, tapi tetes air matanya sudah membasahi pipinya yang chubby. Ia memeluk Neneknya sekali lagi, dengan beban yang sangat berat ia mencoba untuk terus tegar dalam menjalani hidup.

“Pada saatnya nanti kamu akan lelah untuk mengeluh dan bercerita betapa sulitnya  kamu menjalani hidup!”.

****
Pagi yang cerah menyambutnya untuk segera bergegas pergi menuju sekolah barunya, setelah ia pindah kerumah barunya Gadis pun harus pindah sekolah. Dengan senyum yang begitu beku sedingin embun malam Gadis berjalan menuju ruang makan untuk sarapan, namun langkahnya terhenti ketika sampai pada tangga terakhir. Pemandangan yang sangat jarang ia lihat setelah kepergian Neneknya 1 tahun lalu, membuatnya sangat asing melihat keramaian dan keceriaan.

“Sayang…. Ayo sarapan dulu ?”. Perempyan paruh baya menarik Gadis untuk segera duduk disalah satu kursi yang sengaja dikosongkan.

Dengan tatapan yang sangat aneh dan tanpa senyum sama sekali Gadis duduk dikursinya. Melihat 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang tidak pernah ia lihat tengah duduk asik sambil bercengkrama dimeja makan yang biasanya hanya ada dua orang, Bundanya dan dirinya sendiri.

“Hai semuanya… ini kenalkan Gadis !!”.

Dengan sangat cepat ruang makan yang ramai menjadi sangat sunyi seketika, 5 pasang mata langsung menuju arah Gadis yang tengah duduk  dengan rasa bimbang. Matanya masih mengamati satu persatu orang yang berada dihadapannya, dahinya makin berkerut ketika mereka memberikan senyum manis misterius kearah Gadis.

“Hai Gadis, Aku Laty senang bertemu dengan mu…”. Perempuan berambut bergelombang berwarna pirang, berkulit putih, bermata biru danbertubuh langsing.


“Aku Zeeba, kamu bisa panggil aku Zee kalau kamu mau…”. Perempuan dengan rambut hitam lurus, berkulit eksotis, bermata hitam pekat dan bertubuh agak langsing.

“Ayolah para laki-laki masa tidak mau berkenalan dengan gadis cantik satu ini…”. Ejek Laty.

“Saya Roy….”. Laki-laki bertubuh sedang dengan rambut hitam, berkulit putih dan bermata hijau muda.

“So.. kalau saya lebih seneng dipanggil Sam…”. Laki-laki bertubuh sidikit atletis, berkulit putih dan berambut hitam.

Seketika hening setelah Sam memperkenalkan dirinya, sedangkan satu orang yang belum memperkenalkan dirinya malah asik menatap air dalam gelas kaca.

“Lian, introduce your self!!”. Sahut Zee.

“Mm… Iya saya Lian…”. Laki –laki yang bertubuh sedikit atletis dengan warna kulit yang sedikit putih, ditambah dengan matanya yang hitam dan warna rambut yang hitam pula.

“Lian…. Kali ini please!!”. Ucap Laty dengan tatapan tajam kerah Lian.

“Senang bertemu denganmu…”.

Setelah orang-orang asing itu memperkenalan diri pikiran Gadis semakin tidak karuan tentang orang-orang yang berada didepan matanya yang cukup aneh karena memang ia tidak pernah melihat orang dengan pakaian yang seperti mereka kenakan. Lalu dengan sigap Bundanya menjelaskan lagi apa yang belum jelas, berharap Gadis mampu memberikan senyumannya yang terkubur cukup dalam.

“Mereka berlima akan menjadi pelindung kamu ketika Bunda tidak bisa melindungi kamu, ya Gadis. Laty ini umurnya 20, sedangkan kamu 15 tahun so… kamu panggil dia kakak, Ok ?. Lalu kamu bisa panggil Zee ini tante kamu karena memang dia ini adalah adik Bunda, dan si Laty itu adalah anaknya tente Zee ini. Untuk Roy kamu bisa panggil Om karena memang dia adalah Adik Bunda juga, Sam anaknya Om Roy yang pertama jadi lebih tua dari kamu  kamu panggil dia kakak, dan untuk Lian. Lian juga anaknya Om Roy yang usianya beda 1 tahun dari kamu.. terserah kamu mau panggil dia apa…!!”.

****

Pikiranya tidak karuan, membuatnya semakin menebak-tebak apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Waktu istirahatnya Gadis habiskan untuk memikirkan bagaimana orang-orang itu bisa datang kedalam rumahnya, datang dari mana mereka itu, dan untuk apa mereka datang. Gadis hanya dapat menebak-nebak apa yang sedang terjadi.

“Kamu lagi apa sendirian disini ? engga kekantin ?”. Tanya seseorang yang sebaya dengan Gadis yang langsung duduk disamping Gadis.

Gadis sangat terkejut dengan kedatangan orang asing yang tiba-tiba mendekat, seorang perempuan yang seumuran dengannya. Dengan rambut yang diurai panjang berwarna hitam dengan sedikit pirang, bertubuh berisi dengan wajah yang sangat ramah.

“Oh… males kekantin!”.

“Owh.. iya kitakan sekelas ya….? Kenapa kita belum kenalan ya  hahaha”.

“Hahah iya…”. Pikirannya masih bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan tentang orang-orang asing itu.

“Aku Gena, kamu siapa ?”.

“Aku Gadis…”.

“Senang berkenalan denganmu yaa…..”.

****
Makan malam yang aneh bersama orang-orang aneh yang tiba-tiba masuk dalam keluarga dan hidupnya, membuat ekspresi wajahnya semakin tidak karuan. Gadis yang tidak mengerti apa yang orang-orang itu katakana hanya menatap wajah mereka satu-satu, bahkan nampaknya Bundanya mengerti apa yang orang-orang asing itu bicarakan terutama Laty yang terus menerus berbicara dan tertawa.

“Hai Bunda, kenal Lalita yang dulu suka berpakaian jadul itu kah ?”.

“Iya aku tau.. tau.. seperti apa ya dia sekarang ? lebih jadul apa lebih stylish ?”.

“Katanya sih sekarang lebih stylish Bun… hahahah”.

Setelah makan malam selesai, Gadis memintanya Bundanya untuk mengantarnya kekamar. Gadis berniat untuk menanyakan apa yang hari ini membuatnya sangat kebingungan tentang orang-orang asing yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya.

“Bun, mereka itu siapa ? kenapa tiba-tiba tinggal disini ?”. Tanya Gadis penasaran.

“Mereka itu saudara jauh kita Dis, kamu punya saudara sekarang kamu gak akan merasa sendirian lagi “. Jawab Bunda dengan nada senang.

“Saudara dari siapa ?”. Tanya Gadis kembali.

“Mm… dari Nenek”.

“Kok Nenek gak pernah cerita sama aku sih ?”. Tanya Gadis dengan wajah penuh kecurigaan.

“Mungkin Nenek lupa cerita kali, udah malem besok juga kamu masuk sekolahkan, tidur yaaa…”.



Tunggu next postannya yaa….

Komentar