MAGIC #002


Suatu malam yang dingin bersama hembusan hujan angin yang cukup besar, bukan hanya air yang deras menimpa genting hingga rasanya genting aka runtuh bersambut juga halilintar yang membuat jantung berhenti ketika cahaya dan suaranya membuat ruangan terasa sangat menyeramkan.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 10 malam, waktu rasanya berjalan sangat pelan ketika Gadis melihat jam dindingnya ketika ia berbaring berselimutkan ketakutan akan hujan dan halilintar. Saat ia mengamati detik pada jam dindingnya, secara tiba-tiba halilintar membuat suara sangat kencang membuat Gadis terkejut dan berteriak.
Beberapa pasang kaki berlarian, langkah mereka tidak terdengar dikalahkan oleh hajaran rintik hujan pada genting dan bumi. Dengan segera Bunda bersama orang-orang asing yang tinggal dirumahnya berlarian menuju kamar Gadis dan langsung memastikan jika Gadis baik-baik saja.

“Sayang kamu kenapa ?”. Tanya Bunda dengan kecemasan yang berlebih.

Gadis hanya mengumpat dibalik selimut tebalnya, tidak ingin membiarkan siapa pun mengganggunya. Orang-orang asing itu pun mencoba untuk menenangkan Gadis yang sangat shock denga halilintar yang seperti ingin menyambarnya.

“Gadis tenanglah tidak akan ada siapa pun yang akan mengganggumu!”. Sahut Laty yang ikut menenangkan Gadis.

“Tenang sayang…. Ini Bunda !!”. Jelas Bunda yang duduk disamping Gadis.

“Bunda… Gadis takut…..”. Jawab Gadis yang langsung memeluk Bundanya.

“Tenang Gadis….”.

*****

Hujan sudah mulai reda, waktu pun sudah menunjukkan pukul 12 malam, Bunda dan orang-orang asing itu masih berada di kamar Gadis untuk menenangkannya. Orang-orang asing itu hanya melihat Gadis dan Bundanya berpelukkan.

“Bun, kenapa dari kecil Gadis takut sama hujan ? padahal saat Gadis masih kecil teman-teman Gadis senang kalau ada hujan ?”. Tanya Gadis yang masih dalam pelukan Bundanya.

“Mungkin karena pada saat kamu lahir pada saat itu suasananya seperti tadi, dan kalau kamu tau kamu nangis kenceng banget waktu itu sampe dokternya gak kuat dengar suara nangis kamu!”. Bundanya mencoba menghiburnya.

“Bisa jadi kamu phobia sama hujan dan halilintar…”. Sahut Zee yang duduk di ujung tempat tidur.

“Bisa jadi Zee!”. Bunda mengiyakan.

“Sudah malam, masa kamu mau Bunda temenin tidur sih kamukan sudah besar. Sudah yaa… Ibu dan yang lainnya juga mau tidur…”. Ibu melepaskan pelukannya dan memberikan ciuman hangat dikening Gadis.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dan satu persatu keluar dari kamar Gadis menuju kamar mereka masing-masing, Gadis hanya menatap mereka keluar satu persatu dengan senyuman sehangat mentari ditengah malam yang dingin. Namun Gadis heran dengan Lian yang masih berdiri didekat pintu setelah Sam yang terakhir keluar dari kamarnya, detak jantungnya semakin cepat ketika Lian menutup pintu kamarnya.
Lian berjalan kearah jendela yang tirainya terbuka lebar, memperlihatkan kegelapan dan kedinginan diluar sana.

“Seharusnya kamu tidak perlu takut dengan hujan dan halilintar, yang perlu kamu takutkan adalah kegelapan “. Lian berjalan mendekati Gadis yang masih tertidur ditempat tidurnya.

Lian yang masih dengan wajah dan sikapnya yang dingin semakin dingin dengan suasana malam, tatapannya sebeku es kutub utara namun tersimpan kehangatan yang tidak ia biarkan siapa pun mengetahui itu. Lian duduk disudut tempat tidur Gadis.

“Kamu hanya perlu membuka matamu dan lihat kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam hidupmu, jangan mengelaknya apalagi tidak mengakuinya…”. Dengan nada suara yang sangat lembut namun tersimpan teka-teki didalamnya.

Lian yang duduk beranjak dan melangkahkan kakinya mendekati Gadis yang menyimak dengan penuh rasa aneh saat menyadari ia berada salam satu kamar dengan orang yang aneh dan asing baginya, Gadis terus menatap segala gerak dan perkataan yang dikatakan Lian.
Lian memelankan langkahnya, ia terus berbicara hal yang sama sekali tidak Gadis pahami.

“Kapan terakhir kamu menemukan cinta ? rasanya kamu tidak percaya tentang hal itu!”.

“Mm.. kenapa bicara seperti itu ?”. Tanya Gadis keheranan.

“Ada satu laki-laki yang aku masih belum mengerti kenapa terkadang aku mengingatnya, tapi aku tidak tau dia itu siapa. Serasa dia pernah ada dalam masa lalu ku atau mungkin ada dalam hidupku, aku masih ingat suaranya seperti deru angin ketika malam, tangannya sehangat mentari pagi ketika aku bangun. Tapi Bunda gak pernah jelasin kenapa ini terjadi, bahkan ketika aku bertanya pada Bunda, Bunda engga tau dia itu siapa…”

Sunyi kembali.

“Namanya, aku tidak tau namanya…”. Gadis mencoba mengingat namanya walaupun rasanya sulit.

“Ada seorang Perempuan yang menangis malam itu, dia sangat cantik dan manis namun sayangnya dia malah menangis didalam selimut. Ia mencoba untuk lari tapi dia tidak pernah bisa yang membuatnya malah jatuh, ia terluka tepat dikepalanya. Entah pada saat itu rambutnya berwarna abu-abu, dan setelah kejadian iya terjatuh aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku tidak dekat dengannya, dia terlalu istimewa, aku takut membuatnya sakit karena ku tau dia memang sudah sangat kesakitan…”.

Lian berjalan mendekati Gadis dan duduk disamping Gadis yang tengah berbaring, membuat Gadis merasa ketakutan seolah kegelapan menghampirinya. Bertambah mendekat.

“Selamat tidur, lupakan kegelapan. Esok akan sangat cerah bersiaplah!!”. Ucap Lian setelah mengecup kening Gadis.

Gadis hanya diam, tidak mempercayai apa yang diucapkan Lian. Apa Lian sadar apa yang dia ucapkan?.

Gadis masih kebingungan melihat tingkah Lian yang berbeda sekali dengan pertama kali mereka bertemu, ada hal yang menggetarkan hatinya namun pikirannya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.

“Apa maksutnya Lian bertingkah seperti itu, dia baru tinggal 3 bulan disini tapi kenapa dia berubah cepat…tapi 3 bulan waktu yang cukup lama juga sih…”.

******

Hari terus berganti, segala yang tidak pernah terpikirkan oleh Gadis menjadi apa yang sekarang membuat hidupnya sedikit lebih berwarna semenjak ia bersahabat dengan Gena, sosok perempuan yang pada saat itu menghampirinya ketika Gadis sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita. Dengan iringan waktu hubungan mereka semakin erat, perbedaan yang ada membuat mereka saling mengerti untuk saling mengisi satu sama lain. Mereka berbagi dalam segala hal.

***
“Ayolah cepat sedikit, rumah ku tidak jauh dari sini hanya beberapa langkah lagi!”. Sahut Gadis.
“Kamu emang tidak pengertian sekali, aku capek…”. Berlari kecil kearah Gadis yang berada tidak jauh didepannya.
Sudah terlihat dari kejauhan, daun pintu yang berwarna coklat tua yang hanya memerlukan beberapa langkah lagi untuk sampai didepannya kemudian mengetuk pintu. Satu langkah lagi Gadis akan masuk kedalam rumahnya.

“Selamat datang di rumahku !!”. Seru Gadis setelah membuka pintu rumahnya.

Mereka masuk perlahan, Gadis menuntun perlahan didepan Gena. Rumah yang cukup berukuran besar dengan ruang utama yang menyimpan banyak peralatan keluarga, foto-foto atau pun pajangan. Dengan terpukau Gena memperhatikan segala yang terpajang di dinding, pajangan yang dipajang di beberapa lemari bersama foto yang berdampingan.

“Seperti ini lah rumahku, bagaimana ? maaf ya kalau berantakan. Ngomong-ngomong kamu orang pertama yang datang kerumah ku loh, pertama banget…”. Gadis mengoceh sendirian.

Dengan wajah yang terpana sekaligus bingung, Gena masih memperhatikan foto-foto yang terpajang. Ada pertanyaan yang menggantung dilidahnya, bersama keraguan Gena mencoba bertanya beberapa hal.

“Ini kamu Dis ?”. Memegang salah satu foto yang terdapat anak kecil berumuran 6 tahun.

“Iya….”. Menggangguk kecil dengan senyuman dibibir Gadis.

“Mmmm.. Ayah kamu ?”. Bertanya dengan ragu.

“Mmm.. kata Bunda, Ayah sedang Kerja diluar negri dari aku umur 10 tahun…”.

“Sampai kamu 16 tahun ? masih kerja diluar negri ?”. Tanya Gena heran.

“Mmmmm… i.. iya..”. Jawab Gadis ikut bingung.

“Ayo kita ke kamar ku….”. Ajak Gadis.

Mereka akhirnya sampai didepan kamar Gadis, dengan sangat riang Gadis menunjukkan kamarnya yang sangat unik karena dicat dengan warna warni. Namun Gena hanya tekejut ketika melihat pintu kamar Gadis yang terlihat sangat berbeda dengan pintu pada umumnya, namun Gena berusaha bertindak sewajarnya.
Mereka berdua berdiri didepan sebuah pintu yang berbentuk kotak, terbuat dari kayu yang sangat kuat dengan motif yang sangat indah namun tersimpan teka-teki di dalam sebuah motif dan juga gantungan seperti dream catcher namun berwarna hitam dengan juntaian mutiara berwarna hitam.
Gadis sudah bersiap untuk menunjukkan kamarnya pada sahabatnya, namun tiba-tiba

“Gadis!”. Panggil Bunda yang langsung berlari menuju Gadis, Gadis mengurungkan niat untuk membuka kamarnya.
“Kamu kok bawa teman tidak bilang-bilang Bunda sih, kan Bunda bisa siap-siap…”.
“Iya Bun, maaf Gadis lupa bilang…”. Ucap Gadis.
“Iya sayang gak apa-apa, siapa nama kamu ?”. Tanya Bunda yang langsung mengalihkan wajahnya kearah Gena.
“Gena tante…”.
“Aduh sayang maaf yaa, tapi sebentar lagi kita mau ada acara di luar kota..”. Jelas Bunda
“Kemana Bun ? kok gak bilang aku dulu ?”. Gadis memasang wajah bingungnya.

“Bunda lupa sayang hihihih”. Tawa Bunda memecah ketegangan diantara mereka bertiga.

“Ah…. Bunda, Gen gimana nih ? gak apa-apa kan gak jadi main ?”. Gadis dengan wajah bersalah menghadap Gena.

“Iya gak apa-apa kok Dis, kan bisa lain waktu. Yaudah tante Gena ijin pulang dulu yaa…”.



Tunggu next postan magic yaaa…

Komentar