Bahagiakah Kita ?





Dalam deru nafas yang terus berhembus banyak harapan dan doa yang selalu tercurahkan, namun dibalik itu ada keputus asaan dan rasa menyerah.

Seperti yang sering kita dengar bahwa dunia ini adil, dimana ada kesedihan selalu ada kebahagiaan setelahnya. Tapi apakah itu nyata ? atau hanya omongan kosong orang-orang yang menganggap hidup itu hanya sebuah lelucon. Air mata kemudian menjadi tawa, tapi tunggu ?

Air mata ada karena sebuah pukulan kecil didalam hati, tapi siapa yang melakukannya ?. Manusia ! . Makhluk yang terkadang lupa akan rasa yang pernah ia terima dan yang pernah ia rasakan, manusia yang terkadang lupa mengucapkan syukur.

Seperti sebuah pepatah, “lidah itu dapat setajam pedang”. Pedang yang menyayat sehingga membuat goresan yang jelek dan membuat orang tersebut membenci atau bahkan pedang yang menyayat namun dengan sebuah ukiran yang indah yang keduanya sama-sama tidak bisa dilupakan. Namun ada satu hal yang sangat sulit, terkadang ada beberapa orang yang membuat goresan indah namun terlalu dalam. Yang sama artinya dengan “Sakit yang indah”.

Atau “Hiduplah seperti air yang mengalir”. Kita akan terus mengalir pada tempat dimana kita bisa mengalir, namun perjalanan tidak selalu semudah itu. Terkadang kita harus menghantam batu, menampung beratnya sampah hingga 2 jalur dimana kita harus memilih salah satunya. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan apa yang akan kita lewati nantinya.

Sama halnya dengan air mata setelah senyum dan senyum kemudian menjadi air mata, semuanya berakar pada hati. Kita sama sekali tidak dapat memilih apa yang seharusnya orang lakukan pada kita, kita tidak bisa memintanya hak-nya atau bahkan memaksanya. Kita punya pilihan dan dia, mereka juga.

Rasa bahagia berasal dari dalam hati, bukan dari logika yang terkadang egois, bukan dari fisik yang mengelabui dan bukan dari tatapan yang menipu. Rasa ikhlas yang begitu sulit karena dalam diri seseorang ada dua kendali yang terkadang saling menolak, antara pikiran dan hati.

Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita untuk dituruti sedangkan dia memiliki ceritanya sendiri dan sudut padang yang berbeda dengan kita, dan dia tau mana yang membuatnya lebih bahagia.

Sama halnya dengan kebahagiaan dan sama halnya juga dengan seseorang yang datang lalu pergi lagi, dan sama halnya juga dengan air mata. Mereka akan datang kemudian pergi lagi, datang, pergi, datang dan pergi lagi dan terus berulang.

Namun dibalik itu selalu ada alasan yang mendasari, bahwa hidup tidak selalu berdampingan dengan kebahagiaan.

Selain itu “Aku bahagia kalau dia bahagia”. Sebenarnya kata itu hanya menutupi atau bisa dibilang menipu orang lain agar dia terlihat baik-baik saja dan rela, dibalik kata itu tersimpan bahwa “Aku bahagia kalau aku yang buat kamu bahagia”.

Kita tidak bisa menebak seseorang dari apa yang kita lihat, dari apa yang kita dengar dan dari apa yang dia ceritakan. Terkadang selalu ada kebohongan dalam hidup, agar semua terlihat baik-baik saja.

Bahagiakah kita ?

Tergantung bagaimana kita menghargai diri sendiri, mengsingkronkan hati dan pikiran dan juga fisik tentunya. Bagaimana kita menghargai jerih payah dan susahnya kita, bagaimana kita mengikhlaskan semuanya berharap akan hal yang yang lebih baik…

Jadikan kesalahan dan kesedihan sebagai hal yang membangun bukan mengambrukkan mu, walaupun ambruk kamu harus cepat membangunkan kembali kekuatanku dalam 3 tarikan nafas juga tanamkan janji Allah akan hal-hal baik yang dilakukan orang-orang baik…


Komentar