Day 1 | Aku




Aku adalah aku, aku bukan orang lain atau bahkan kamu. Aku adalah aku yang tengah menulis tulisan ini tanpa pernah berfikir kamu akan membacanya, tanpa pernah berfikir kamu akan perduli. Aku adalah aku yang pada sore hari ini tengah berpindah ke dimensi lain, yaitu masa lalu. Dengan detik yang kemudian mengantarkan aku untuk menulis ini tanpa berfikir sama sekali, pikiranku sudah penuh dengan kenangan yang tidak terlupakan tapi kamu tahu itu akan segera memudar seiring dengan detik yang baru saja berdetik.

Aku bukan hal yang istimewa atau bahkan diidolakan, aku hanya seorang perempuan biasa yang memiliki banyak mimpi. Entah itu mimpi untuk masa depan atau mimpi yang hanya sekedar khayalan belaka, dan kamu adalah salah satu dari sekian banyak khayalan gila yang pernah aku fikirkan. Tentang seberapa gilanya aku yang beberapa kali meyakinkan hal yang sebenarnya hanya khayalanku belaka, yang betapa anehnya aku merelakan jatuh ditempat yang sama hanya untuk khayalan yang semu.

Siang itu aku dapati kamu tengah berlatih dengan segerombolan orang yang memakai seragam putih dengan sabuk yang berbeda warna, namun aku dapat sangat cepat melihatmu. Aku memanggilmu dengan sebutan Rangga didalam hati, karena pada kenyatannya aku tidak dapat memanggil namamu didalam banyaknya mata disekeliling kita. Laki-laki misterius yang pernah aku kenal. Aku tidak dapat melihat sama sekali kedalam matanya karena aku hanya bisa mencuri pandangannya dari jarak yang cukup jauh, namun aku sadar Rangga menyadarinya bahwa aku terkadang memperhatikannya dari jauh.

Aku adalah aku yang terkadang hilang kendali, yang terkadang tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya sekedar khayalanku. Begitu pun dengan Rangga, ia terlihat sangat santai, seolah dia menikmati aku yang tengah memerhatikannya dari jauh. Tapi ada sesuatu yang tidak aku tau, dan aku tidak bisa karena ada sebuah pintu yang masih Rangga kunci untuk aku masuki. Dan aku sadar Rangga akan hilang bersama mentari yang mulai tenggelam untuk mengakhiri hari.

Aku mulai tidak bisa merasakan aku, ketika aku merasa mulai merindukannya. Aku yang terkadang begitu sulit mengungkapkan seberapa rindu kepada Rangga yang ternyata berbeda sekolah denganku, walaupun aku sekali lagi sadar aku bisa saja memintanya untuk menemuiku. Itu rasanya sangat aneh. Dan semakin aneh ketika beberapa kali Rangga mengirim pesan singkat yang begitu singkat, tapi aku malah mengartikannya cukup dalam, cukup dalam sehingga aku semakin menyukainya.

Aku semakin tidak bisa merasakan aku yang dulu, yang lebih sering tersenyum ketika Rangga mulai bertingkah aneh dan membuatku tertawa. Kali ini dia mencoba membuat aku untuk lebih menyukainya, lagi-lagi dengan tindakannya yang sederhana, dan lagi-lagi aku terlalu menanggapinya terlalu berlebihan. Aku sudah mulai menyukainya, sudah benar-benar menyukainya semenjak aku bertemu dengannya ketika naik kelas 2 SMP. Rangga tentu tidak pernah menyadarinya, karena tatapannya yang kosong, yang aku yakini Rangga pun tidak bisa melihat kedalam mataku.

Aku sekarang benar-benar tidak bisa merasakan aku yang dulu, yang benar-benar berharap aku bisa meluluhkan Rangga seperti Rangga meluluhkan aku. Rangga masih misterius untuk aku tebak. Rangga bagai lukisan abstrak yang terkadang memiliki definisi yang  berbeda untuk masing-masing orang yang melihatnya, dan ketika aku melihat Rangga aku jatuh cinta padanya untuk kesekian kali. Walaupun aku tidak tau kebenaran tentang perasaannya padaku, aku terlalu yakin dia akan melakukan hal yang sama denganku.

Aku adalah aku, aku bukan orang yang Rangga maksut untuk bisa masuk kedalam sebuah ruangan yang masih ia kunci hingga kini. Namun kemudian beberapa kali Rangga membuat aku yakin bahwa aku bisa membuka pintu itu, ia memberikan ratusan kunci dan meminta aku untuk membukanya. Ratusan kunci yang Rangga berikan terkadang membuat aku semakin yakin bahwa ia menyimpan satu kunci kebenaran untuk membukanya yang membuat aku terus berusaha untuk selalu bersamanya, selalu mencoba ratusan kunci tersebut.

Aku adalah aku, dan aku sudah lelah dengan ratusan kunci percobaanmu. Ternyata Rangga tidak memasukkan sama sekali kunci untuk membuka pintu itu, membuatku semakin yakin untuk tidak mencobanya lagi. Aku bahkan tidak menyadari bahwa sudah ada seseorang yang ternyata sudah memasuki ruangan itu ketika aku sudah mulai lelah.


Aku adalah aku, yang harus menentukan pilihan yang akan aku ambil. Pilihan yang sama-sama membawa rasa sakit dan penyesalan, dan aku yakin ketika aku adalah aku yang dulu aku akan menemukan hal baru yang membuat semuanya lebih baik. Terima kasih Rangga, telah menjadi pengujiku untuk terus berusaha dengan apa yang aku yakini walaupun dalam praktik bersamamu aku gagal.

Terima kasih telah mengembalikan aku yang dulu. Karena aku sudah kembali menjadi aku.



Komentar