Day 10 | Apakah Dia Orangnya ?









Waktu terus bergulir dan dalam bergulirnya waktu terkadang aku yang lain membuatnya terasa lebih sulit kembali, dengan mengingat-ingat kembali apa yang telah aku lalui bersama Rangga apa yang telah aku korbankan pada saat menantinya diambang rasa cemas akan hal buruk yang akan datang. Dan bersamaan itu pula aku mengenal Kak Rendy yang tiba-tiba menggantikan malam gelapku dengan sinar matahari sore yang meneduhkan, kemudian terulang kembali ketika malam mulai datang dan terus berputar setiap hari dengan aku yang memikirkan Kak rendy dan aku yang lain memikirkan Rangga.

Aku akan menuju kedetik-detik terakhir dari masa SMK, meninggalkan kenangan indah juga kenangan buruk yang tidak terlupakan, memilih untuk meninggalkannya tanpa pernah melupakannya. Semuanya semakin buruk bahwa aku melihat sendiri kenyataan bahwa Rangga sudah mendapatkan apa yang dia inginkan yang nyatanya memang tidak ada dalam diriku, dan itu membuatku merasa sakit. Aku sangat berterima kasih untuk 3 tahun yang begitu saja berlalu.

Aku memilih untuk mengikuti SMPTN, salah satu kemudahan untuk memasuki Universitas negeri dengan nilai rapot. Aku mencoba mengurus beberapa hal yang menjadi syarat untuk mendapatkan beasiswa tersebut. hal baru yang pertama kali aku coba mendatangkan seseorang yang baru pula dalam hidupku. Entah bagaimana dia bisa diterima baik dengan aku yang lain, yang rasanya masih sangat terikat dengan Rangga dan tidak perduli dengan orang lain yang mencoba masuk dalam hidupku.

Aku semakin dekat dengan Kak reno, dan aku sadar bahwa yang selama ini berada disebelah kak rendy adalah dia. Seseorang yang selama ini tidak aku perhatikan yang selama ini pula tidak terlihat oleh mataku, dan percakapan pertama yang dia buat adalah menceritakan tentang kak rendy kepadaku karena aku berfikir kak reno adalah informan yang terpercaya karena dia adalah sahabat dari Kak rendy. Dan disanalah awal dari perasaan yang tidak aku mengerti terutama aku yang lain tidak menyadari dan tidak mengakuinya sama sekali.

Aku ingin keluar dari kota ini, mencari kota baru untuk aku singgahi. Menemukan orang-orang baru yang akan menggantikan rangga, orang-orang baru untuk menempati ruang yang ada. Rangga adalah salah satu alasan aku hampir membenci malam, membenci Kota Tangerang, dan membenci tempat yang pernah aku datangi walaupun hanya ada dalam pikiranku. Aku hanya membencinya, ketika aku disini masih menunggu dan rangga tau itu, disisi lain dia menerima orang lain untuk masuk kedalam tempat yang ingin sekali aku tempati. Kenapa aku tidak melakukan hal yang sama ?.

Kenapa aku tidak menemukan seseorang yang mampu menggantikan dan menutupi kenangan bersama rangga ?, apa orang lain juga rela untuk terus mengingat masa lalu yang kelam ? karena kita semua tau masa lalu hanya akan menjadi masa lalu dan kita belajar untuk tidak mengulangnya bukan ?.

Aku sangat sedih karena aku tidak masuk seleksi online untuk mendapatkan SMPTN, dan aku memilih untuk tetap berada dikota ini dan melanjutkan kembali pilihanku untuk tetap melupakan rangga. Dan ketika aku masih belajar untuk melupakan disanalah Kak reno berada, ditempat yang tidak seharusnya dia berada tentu aku sudah sangat membuka pintu ku untuknya untuk seseorang yang mencoba memasuk kedalam kehidupanku.

Kak reno berada ditempat yang tidak seharusnya, entah mengapa aku membiarkan kak reno masuk lebih dalam lagi keruangan dimana hanya orang tertentu saja yang bisa memasukinya. Dengan segala kesederhanaan dan pengertiannya aku dengan mudah luluh dan mengizinkan Kak reno untuk memasuki lagi ruangan yang hanya untuk beberapa orang. Kak reno yang selalu ada disaat aku butuh, menyemangati juga memberikan penjelasan dari sudut pandang yang berbeda, membuat lelucon yang sangat lucu dan juga membantu aku untuk belajar terutama pelajaran matematika.

Sampai suatu ketika aku merasa sangat dekat dengan Kak reno, aku yang lain menyadari keberadaan kak reno di tempat yang tidak seharusnya dia berada. Aku yang lain mendesakku untuk mengatakan bahwa masih ada rangga diruangan dimana kak reno sedang berdiri didepan pintu itu, aku tidak bisa menjelaskan sama sekali betapa egoisnya aku yang lain. Puluhan hari yang sudah dihiasi oleh Kak reno, setiap pagi yang selalu disambut dengan sapaan manisnya, dan ucapannya sebelum tidur.

Setelah aku yang lain mengatakan hal yang tidak aku sangka beberapa hari rasanya Kak reno berubah semakin jauh, apakah aku yang lain masih buta dan tidak dapat melihat siapa yang sebenarnya tepat untuk mengisi tempat yang sebenarnya tidak pernah terisi. Rasanya semakin aneh ketika Kak reno benar-benar menjaga jarak denganku, walaupun hanya melalui pesan singkat rasanya memang benar-benar mampu buat aku gelisah dari ketikkannya yang semakin singkat.

Apa ini saatnya aku mempertaruhkan lagi keyakinanku dengan keyakinan aku yang lain, memperdebatkan lagi pendapat yang berbeda, membenturkan lagi kepribadian yang berbeda, membenarkan sebuah hal yang sudah lama salah. Setelah aku rasa aku harus bertindak, aku memilih menghubungi Kak reno untuk meminta penjelasan darinya. Aku memintanya untuk tetap tinggal karena Kak reno kini telah menjadi pelengkap hariku, karena aku ingin berjuang untuk kedua kalinya, aku ingin kak reno untuk tetap mengisi hari-hariku, aku ingin kak reno tetap menjadi dirinya, dan aku ingin kak reno tetap tinggal ditempat dimana selama ini kosong.

Rasanya aku menemukan apa yang tengah aku cari pada diri seorang Kak reno…


#NulisRandom2017

Komentar