Day 11 | I'am So Sorry





Hari berganti  hari, terasa begitu cepat hari berganti ketika aku melewatinya dengan senang hati sama halnya ketika membagi cerita dengan Kak reno. Pagi ini aku mendapat ucapan selamat pagi yang hangat dari Kak Reno yang masih belum mendapatkan pekerjaan, sungguh ucapan yang hangat sehangat matahari pagi. Kak reno kini menjelma sebagai seseorang yang sangat penting untuk selalu hadir dalam hari-hariku, karena ia memiliki banyak hal mengasyikkan yang bisa aku dan Kak reno bicarakan.

Kali ini rasanya aku yang lain sudah mulai menyerah dan mau mengakui Kak reno yang ternyata bisa menjadi hal yang sedang aku butuhkan, dengan mengisi hari-hariku, selalu ada sebagai tempat dimana aku membagi cerita, juga menjadi orang yang akhir-akhir ini dengan sangat cepat mengetahui banyak hal tentang aku. dan rasanya hari tidak lengkap tanpa pesan dari Kak reno walaupun terkadang pembahasannya tidak penting sama sekali.

Lalu hal yang tidak aku duga terjadi, Kakak kelas yang bernama Rahmat yang aku kenal 1 tahun lalu kini menghubungiku lagi. Kak rahmat yang umurnya 1 tahun diatasku karena kebetulan aku dengan Kak rahmat berada disatu sekolah  yang sama hanya saja dia berada di SMA dan aku berada di SMK, dan entah dari mana perkenalan aku dengan Kak rahmat bermula. Pada suatu hari Kak rahmat mengajakku untuk makan diluar  ketika sore hari, tidak ada  maksut tertentu aku mengiyakannya ajakkannya. Ia menjemput didepan rumahku setelah pulang dari kerja dan langsung melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat makan, namun aku tidak menyangka ini akan menjadi awal dari hal yang tidak aku sangka.

Aku bahkan menceritakan banyak hal kepad Kak reno termasuk aku yang pergi bersama Kak rahmat sore itu, aku dapat melihat respon dari kak reno yang sangat cemas ketika aku menceritakan padanya bahwa aku pergi berdua dengan kak rahmat sore itu. Kak reno hanya memberitahuku bahwa aku harus berhati-hati dan tidak bertindak berlebihan. Namun aku memang benar-benar merasakan hal yang nomal bila aku bersama dengan Kak rahmat yang baru kali ini mengajak aku pergi  makan, aku hanya nyaman dia sebagai teman atau bahkan seorang kaka laki-laki. Entah perasaan apa yang membuat Kak reno seolah tau apa yang akan terjadi.

Setelah ada pertemuan pertama selalu ada pertemuan kedua, dan ini adalah awal dan akhir yang sangat buruk. Di lain hari Kak rahmat mengajakku kembali untuk mengantarkannya membelli sebuah buku, dan aku kembali mengiyakannya. Aku mengantarkannya untuk mencari buku disalah satu toko buku yang cukup terkenal, lalu kakiku melangkah pada bagian buku lain sedangkan Kak rahmat kebagian yang lainnya. aku mencari buku yang dapat menarik perhatianku namun rasanya tidak ada sama sekali buku yang mampu menarik perhatianku, aku menjelajah kebagian buku lainnya aku sama sekali tidak menemukan apapun. Aku rasa kak rahmat sudah menemukan apa yang tengah ia cari, aku dan kak rahmat kemudian berjalan  menuju kasir. Aku bertanya padanya untuk apa buku yang Kak rahmat beli, Kak rahmat hanya mengatakan buku itu untuk temannya namun aku merasakan hal lain yang kak rahmat sembunyikan. Seperti, ingin membelikan sebuah kado untuk seseorang yang special, itu yang aku lihat dari mata Kak rahmat yang berbeda sekali dengan apa yang kak rahmat ucapkan. Aku sangat bersyukur bahwa Kak rahmat hanya menganggapku sebagai seorang teman atau bahkan adiknya.

Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam, dan ini adalah batas jam malamku. Aku dan Kak rahmat pun mengambil pilihan untuk segera pulang, namun sesuatu terjadi ketika kita belum menempuh setengah perjalanan pulang. Hujan tiba-tiba datang dengan cukup deras. Sungguh ini membuatku sangat takut, terguyur hujan pada malam hari dan menerobosnya hingga rasanya angin menusuk kulitku. Hujan itu tiba-tiba datang dan membuat pakaianku sedikit basah, dan Kak rahmat memacu cukup kencang motornya.

Aku terkejut ketika Kak rahmat memberhentikan motornya dipinggir jalan dan hampir melepas jaketnya, aku tentu menghentikannya karena aku tau Kak rahmat akan jauh lebih kedinginan bila dia memberikan jaketnya padaku karena dia yang akan diterpa hujan dan angin lebih dulu. Aku langsung memintanya untuk terus jalan agar cepat sampai rumah, ia masih memacu motornya dengan kencang dan aku yang ketakutan hanya dapat memegang jaketnya dari belakang dengan sesekali mengelap wajahku yang basah karena hujan. Namun dengan tiba-tiba tangan Kak rahmat meraih tanganku untuk lebih berpegangan  dengannya, aku tidak berfikir apapun selain cepat pulang dan tanpa basah sama sekali.

Aku tidak terkejut ketika ia membelokkan arah pulang kesebuah perumahan karena pada saat berangkat juga melewati perumahan itu juga, ada satu hal yang membuat aku terkejut Kak rahmat membelokkan lagi arahnya ke tempat yang sepi dan berhenti. Aku sungguh terkejut dan memberitahukan bahwa aku harus cepat sampai rumah jam 10:00 malam namun rasanya kak rahmat menahanku. Dengan masih terduduk diatas motor, aku mendengar kak rahmat mengucapkan kata-kata yang sangat tidak aku duga. Aku dapat mendengar suaranya yang terbata-bata dibawah rintik hujan yang belum berhenti turun, Kak rahmat memintaku untuk menjadi pacarnya dan untuk pertanyaan itu aku menolaknya.

Aku sejenak berfikir, bukan ini yang aku mau bukan hal yang selalu berkaitan dengan cinta aku hanya perlu seseorang yang hanya sebatas teman atau kakak. Entah apa yang terjadi membuat aku yang lain tiba-tiba memikirkan tentang Kak reno yang jauh disana, membuat aku merasa bersalah telah memulai ini semua, telah membiarkan orang lain jatuh cinta kepadaku, telah membiarkan aku melakukan sesuatu yang aku anggap biasa diartikan berbeda oleh orang lain. Dan dengan sangat memilih kata-kata yang akan aku sampaikan aku menolak Kak rahmat dengan alasan basi yang dikatakan banyak orang untuk menolak.

Aku dapat melihat kekecewaan dari nada bicaranya setelah aku menolaknya, aku pulang dalam rasa canggung yang menyelimuti diantara aku dan Kak rahmat. Kak rahmat semakin memacu laju motornya lebih cepat, aku semakin merasa takut hal buruk lain terjadi. Akhirnya aku sampai rumah, sebelum ia melaju pulang aku mengucapkan terima kasih dan maaf yang hanya dibalas dengan satu kata “Iya” dari mulutnya. Setelah beberapa menit aku bersiap-siap untuk tidur pesan masuk kedalam handphoneku yang ternyata dari kak rahmat, ia mengucapkan maaf karena telah menggunakan nada yang tidak enak didengar dan juga terima kasih atas apa yang telah aku lakukan.

Satu pertanyaanku yang terkadang masih jadi misteri, mengapa seseorang menginginkan hal yang lebih ? apa karena manusia selalu menginginkan hal lebih ? kemudian lebih lagi ?, tapi dimana batas itu ? batas antara hal yang masuk akal dan tidak masuk akal ?. Rela membiarkan ego jauh lebih tinggi dari logika, ego yang terkadang membawa untuk bertindak lebih dalam waktu yang sangat singkat dan dimana logika ?. Apa logika telah tenggelam karena sebuah perasaan ?.

Aku hanya menginginkan sebuah relationship, hubungan. Sekedar sebuah hubungan tanpa ada sebuah status special yang melekat, sebuah hubungan dimana jaringan sosialku terus bertambah. Hubungan kekerabtan yang saling membantu juga saling berempati, apa cara yang aku lakukan salah ?. aku hanya berusaha menjadi orang baik yang dapat diandalkan, tentu untuk membuat orang lain jatuh hati, untuk tetap berada dihidupku untuk membantu ketika aku sulit. Apa semua ini tidak masuk akal ?.

Setiap yang aku lakukan untuk menambah seseorang yang baru hanya akan menjadi awal dan akhir dari sebuah jaringan itu, dimana ketika mereka menginginkan yang lebih aku selalu menolak dan membiarkan mereka pergi. Aku bukan tidak mau mempertahankannya, aku tidak ingin mengambil hal yang lebih sulit lagi. Karena aku juga tau, semua orang memiliki perasaan yang berbeda.

Aku merasa sangat bersalah, bersalah telah membuat seseorang menyukaiku. Seseorang yang sudah nyaman dengan ku kemudian meminta yang lebih aku menolaknya, hanya karen aku hanya ingin sebuah pertemanan. Berbeda dengan apa yang aku rasakan kepada kak reno, entah apa yang membuat aku ketika memikirkannya terasa berbeda, ketika berkirim pesan dengannya sangat membuat aku bahagia walaupun aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya secara langsung, mengapa hal yang berkaitan dengan kak reno terasa berbeda ?.

Entah dari mana perasaan bersalah ini muncul membuat aku merasa begitu bersalah kepada kak reno yang ternyata benar, kekhawatirannya benar-benar terjadi. Dengan sangat-sangat menyesal aku segera meminta maaf dan membenarkan kejadian yang terjadi tadi malam, memang sangat sulit dipercaya. Kekhawatirannya yang seharusnya membaut aku lebih waspada, membuat aku seharusnya tidak perlu berpegangan dengan kak rahmat, seharuanya tidak mengiyakan untuk menemaninya makan dihari pertama. Aku takut dengan kejadian itu kak reno memilih untuk menghilang lagi, menghilang karena aku yang terlalu mudah mengiyakan sesuatu, aku takut kak reno menjauh.

Aku tidak mau kehilangan kak reno untuk yang kedua kalinya, itu sebabnya aku meminta maaf lagi yang tidak begitu menghiraukan peringatan dari kak reno yang mencoba untuk menjagaku. Kak reno yang selalu berusaha seolah men-tidak apa-apakan yang terjadi, walaupun aku tau dia sangat khawatir. Karena jauh dari dalam hatiny aku tau dia dikit menyimpan perasaan padaku, dan aku sangat-sangat meminta maaf untuk yang telah terjadi.


#NulisRandom2017

Komentar