Day 2 | Rangga ?











Siapa yang tau bahwa seseorang akan masuk kedalam kehidupanku, masuk begitu dalam dan menjadi bagian yang utuh untuk masuk kedalam ruangan yang telah aku sediakan. Dia adalah Rangga, yang aku kenal dengan kejadian yang cukup unik yaitu ketika harus membuat sebuah kelompok dikelas yang baru. Dari sanalah aku mengenalnya, ketika rasanya dia sangat cocok sebagai seorang sahabat yang mengasyikkan. Dan rasanya waktu memang berjalan sangat cepat, secepat aku mulai menyukainya tanpa aku sadari.

Pagi yang sangat-sangat muram karena matahari sama sekali tidak menyinari bumi, pagi ini mendung menguasai langit membuat semuanya terasa sangat muram. Aku duduk dikursiku dengan semangat yang meredam, aku tidak mampu melihat seluruh ruangan kelas  yang sangat sepi namun diluar sana hujan deras sudah membuat suara yang cukup mampu membuat aku semakin layu. Terhitung hanya beberapa orang yang telah datang pada pagi hari yang turun hujan cukup deras, Rangga tiba-tiba datang dengan terburu-buru. Rangga langsung berlari kearah tempat duduknya, yaitu didepanku.

Hari menjadi sangat-sangat berat, seberat mata para murid karena terpengaruh oleh suasana ruangan yang semakin menina bobokan mereka. Terutama pada saat jam ke tiga dan ke empat yang dibiarkan kosong untuk mempersilahkan para murid untuk tidur, tapi tidak dengan aku, Rangga, Disa, dan Andri. Kita memilih beberapa topic untuk dibahas, dan salah satunya adalah cerita horror. Aku ingat Rangga menceritakan tentang pocong yang bisa berubah menjadi sebuah bantal yang berada disampingnya, dan diakhir cerita Rangga memberikan aksen lucu dengan tertawa seolah itu hanya lelucon belaka.

Semunya terasa baik-baik saja sampai gilang, salah satu murid yang kelasnya bersebelahan dengan kelasku menyatakan perasaannya. Sampai pada suatu hari gilang benar-benar menyatakannya didepan sekolah dan aku menjawabnya setelah aku berada dirumah. Aku tidak bisa menolaknya yang berkali-kali menghiburku ketika sedih, yang selalu ada ketika aku butuh dan selalu membuat situasi menjadi sangat romantic. Semuanya terasa sangat manis ketika aku belum menyadarinya sama sekali apa yang terjadi.

Saat itu aku sudah menginjak kelas 3 SMP dan harus memfokuskan diri untuk ujian nasional, namun fokusku berkurang ketika tanpa ada sebuah kejadian yang berarti, Rangga mengungkapkan perasaannya. Membuat yang aku tidak hiraukan selama ini muncul begitu saja, sebuah perasaan yang aku hiraukan, yang tanpa sadar sebenarnya tumbuh tapi aku tidak pernah merawat apalagi melihatnya tumbuh. Pikiranku semakin kacau membuat seluruh perasaanku terhadap Gilang memudar dan dilema benar-benar mengambil alih semua perasaanku. Dan aku memutuskan Gilang dengan alasan yang tidak masuk akal.

Apakah rangga tidak cukup berani hanya sekedar mengungkapkan perasaannya lewat bahasa yang sederhana yang biasa Rangga katakan padaku ? Apakah ia tidak bisa merasakannya ketika tiba-tiba aku mengikuti extrakulikuler yang sama dengannya hanya karena ingin melihat Rangga berlatih ?. Apakah sesulit itu ketika kita sama-sama tau bahwa kit sudah mematokkan kata sahabat dalam tali ini ?, apakah Rangga sepengecut itu ?.

Dengan tidak memikirkan rasa malu dan gengsi aku meminta lagi kata-kata itu setelah sikapnya mulai dingin, teringat kembali ketika dia berpura-pura menjadi seseorang yang aku sukai sebelum Gilang. Seolah-olah Rangga ingin membuatku senang dengan tipuannya yang sama sekali tidak lucu. Tapi itu sama sekali tidak bertahan lama ketika Rangga hilang begitu saja selama 3 hari berturut-turut, 3 hari berturut-turut aku menunggunya didepan pintu itu namun sama sekali rangga tidak kembali dan membuat aku memilih untuk pulang. Rangga tidak benar-benar akan membukakan pintu itu, untuk aku masuk kedalam ruangan yang selama ini ingin sekali aku masuki.

Akhirnya kita berpisah ketika kenaikkan tingkat yang lebih tinggi lagi, perpisahan karena kita kana berbeda sekolah dan kepulangan aku dari 3 hari menunggu didepan pintu itu mungkin akan jadi awal dimana aku tidak mau mencobanya kembali. Bukankah aku sudah mengatakannya, bahwa aku memimpikan Rangga yang turun dari mobil mewah dengan berpakaian jas hitam dengan kemeja biru langit. Rangga sama sekali tidak memahami arti dari kata itu, karena aku ingin sekali menjadi orang pertama yang diajaknya naik mobil itu, karena aku ingin sekali menemanimu dari nol.

Rangga mencampur adukkan lagi perasaanku dengan berlatih dilapangan sekolahku, yang semakin membuat aku tidak mampu berbuat apa-apa selain perasaan yang terkadang dibuat bimbang dengan apa yang rangga lakukan. Apa yang rangga lakukan kepadaku ? bahkan ranggga tidak melakukan apapun, apa ini hanya halusinasiku saja yang membayangkan ia berlatih dilapangan sekolahku hanya untuk melihatku ?. Perasaan itu dibuat hidup lagi sebelum aku mengetahui bahwa ada perempuan lain yang Rangga biarkan masuk. Perasaanku mati lagi.

Aku mencoba untuk tidak perduli sama sekali, benar-benar tidak mau perduli lagi. Tapi ada aku yang lain, aku yang lain mencoba untuk tetap bertahan terhadap apa yang sekali lagi aku yakini, yaitu rangga. Walaupun aku tau itu terulang kembali yang kedua kalinya, pada perempuan yang sekarang dekat denganku.

Karena sama sekali rangga tidak mengerti, dia tidak bisa melihat, dia tidak bisa merasakan, dia misterius, dia aneh, dia bodoh, dia tidak perduli sama sekali, dia gila, dia jahat. Tapi kenapa aku yang lain tetap menyukainya ?. Karena sekali lagi rangga mampu mambuat aku jatuh ditempat yang sama, pada kesalahan yang sama tanpa dia perduli sama sekali.

Karena rangga tidak mengenal aku yang lain.






#NulisRandom2017

Komentar